Rabu, 21 September 2011

benarkah kau kembali?

Kamu tau fadil? Surat darimu membuatku kembali menitikkan air mata. Aku tak pernah mengerti, kenapa cintaku padamu kurasakan begitu besar. Aku juga tak pernah mengerti, kenapa sayangku untukmu tak pernah habis. Kau adalah sahabat terbaik untukku fadil, sahabat yang mengajariku banyak hal, tentang kebersamaan, tentang bagaimana aku mulai merasakan perasaan yang berbeda ketika menjalani hari-hari bersamamu. Tentang bagaimana bibirku akan melengkungkan sebuah senyuman ketika melihatmu bahagia, tentang bagaimana mataku akan menghangat dan menitikkan airnya ketika melihatmu sakit, melihatmu sedih fadil. Kau mengajariku semuanya. Tentang bagaimana cinta itu tumbuh bersama persahabatan kita.

Kau pernah mengatakannya, bahwa kau juga merasakan hangat yang sama di hatimu. Sebelum ia datang, dan membuatmu perlahan menjauhiku. Aku hampir tak mengenalmu saat itu fadil, kau benar-benar berubah. Kau tak lagi suka bercerita padaku, kau tak lagi suka mendengarkan ceritaku. Aku sedih fadil, tapi aku tak pernah bisa membencimu. Tak akan pernah bisa.

Waktu itu, aku memaksakan diri untuk datang ke acara launching buku terbarumu, aku ingin melihat senyum kebahagiaanmu, dan berharap ada sedikit senyummu untukku. Tapi yang kuharap tak sedikitpun kudapatkan, kau berlalu dengannya, tanpa sedikitpun memandangku. Dan aku, hanya bisa tersenyum melihat sikapmu fadil. Aku lantas berfikir, sahabatku telah hilang dari muka bumi, dan yang kulihat dalam acara launching buku itu bukanlah fadilku. Fadilku sudah tidak ada lagi, tidak ada lagi selain yang ada di hatiku. Yang tetap kusimpan di relung terdalam.

Aku menganggapmu tak ada seiring semakin eratnya kebersamaanmu dengannya, kalian sama-sama penulis dan kalian bekerja bersama. Aku mengerti fadil, ketika kau lebih mencintainya. Bagaimana tidak? Setiap waktumu sering kau habiskan dengannya. Seperti yang orang jawa bilang, witing tresno jalaran soko kulino, dan mungkin itu yang kalian rasakan. Aku tak pernah ingin menyalahkanmu fadil, yang salah adalah aku yang tak pernah ada untukmu dan mungkin hanya dia yang ada.

Aku hampir berputus asa ketika aku masih mencoba manguatkan diri untuk datang padamu dan menanyakan hal itu. Bertanya, apakah rasa di hatimu untukku benar-benar habis. Dan jawabanmu fadil, benar-benar membuatku ingin mati saja daripada merasakan sakit itu.

“rasa itu telah habis, termakan waktu dan istikhoroh” katamu.

Waktu? Ternyata waktu yang kuhabiskan untuk menunggumu, kau habiskan untuk melupakan setiap kebersamaan kita. Bagaimana kau bisa lupa fadil? Ketika kau memboncengku dengan sepeda tuamu, dan aku tertawa bahagia. Bagaimana kau bisa lupa ketika aku terjatuh lalu kau menggapai tanganku dan aku masih bisa tetap tersenyum di sampingmu. Bagaimana kau bisa lupa bahwa aku tak bisa tanpamu dan kita bahagia bila bersama?

Dan Istikhoroh, kau bawa Allah dalam jawabanmu dil. Aku tak berani mendebat apa pun karena petunjuk Allah lah yang terbaik untukmu. Aku hanya bisa menangis, bukan karena menyesali jawabanmu, tapi karena aku ingin ngilu di hatiku sedikit berkurang. Ya, berkurang, karena aku tau ngilunya tak akan pernah habis sampai kapan pun.

Kau tau yang terjadi setelah itu? Aku hanya banyak diam pada siapa pun. berkata dan tersenyum secukupnya pada orang-orang yang mungkin menatapku dengan heran. Aku sering pergi-pergi tak tentu arah, aku melihat aliran sungai yang tenang, berharap mendapatkan ketenangan yang sama. Meski yang kudapat hanyalah mataku yang kembali menghangat karena sungai itu pun menampakkan wajahmu dan kenangan kita. Kenangan kita terlalu banyak dan aku tak mampu menghapusnya dil, takkan pernah mampu.

Aku bahkan tidak berlajar padahal 2 pekan itu aku ujian, aku setengah tidak peduli apa yang akan terjadi. Aku menuliskan apa saja yang aku mau di lembar jawab soal ujianku. Aku benar-benar tak peduli akan nilai-nilaiku, karena aku tau tak akan lagi bisa membanggakannya di depanmu. Dan kamu pasti tau yang terjadi dil, nilaiku benar-benar hancur seiring hancurnya hatiku setelah kepergianmu.

Sampai suatu hari, aku bertemu dengannya dil. Saat itu lagi-lagi aku duduk merenung melihat aliran sungai. Dan tau-tau dia duduk di sampingku, melihat ke arah yang sama, aliran sungai yang tenang itu. Dia hanya diam dan aku pun tak berani memulai pembicaraan. Hanya sesekali kami saling memandang dan bertukar senyum sekilas.

“bagaimana hidupmu, adalah kau yang menentukan jalannya meski akhirnya Allah yang akan mengijinkan atau tidak. Ketika kau hanya terus seperti ini, maka selamanya hidupmu akan seperti ini. Kehilangan itu mengajarkan kita bahwa di dunia ini kita tidak mempunyai apa-apa, lalu apa yang perlu ditangisi karena pada akhirnya kita akan kehilangan semuanya?”

Kata-katanya itu, menyadarkanku bahwa aku tak boleh terus seperti ini dil. Aku harus bisa bangkit dan tersenyum. Aku pasti bisa menjalani hari-hariku dil, harus bisa. Dia terus menyemangatiku sementara aku terus melihatmu semakin jauh meninggalkanku. Aku belajar menerima kenyataan ini dil. Aku tak pernah mengerti apa rahasia Allah untuk kita. Aku hanya mencoba menjalani alur ini, alur yang begitu perih kutapaki tapi aku terus mencobanya.

Lukaku telah sedikit mengering ketika tanganku kembali menerima surat darimu dil. Surat yang telah kutunggu sejak lama, bahkan setelah kau mengucapkan jawaban itu. Surat yang berisi permintaan maafmu atas kejadian waktu itu, kejadian yang mebuatku kehilangan separuh dari nyawaku, kejadian tersakit yang pernah aku alami. Aku tak butuh maafmu karena tanpa kau meminta pun, aku akan selalu memaafkanmu fadil. Dan cinta ini, tak akan pernah habis untukmu.

Tapi entah mengapa kini rasanya berbeda dil, ada ragu, ada hambar yang perlahan menguar seiring tetesan air mataku. Aku takut terluka lagi fadil, aku takut hatiku yang telah rapuh kembali tersakiti dan akhirnya nyawaku yang tinggal separuh akan habis. Dan aku pun juga tak bisa melupakan begitu saja, bahwa dia terus menyemangatiku ketika kau pergi meninggalkanku fadil.

Saat ini, tak ada yang bisa kubalaskan untuk suratmu. Karena perasaan bimbang itu belum juga hilang. Karena aku masih terlalu khawatir bahwa senyum yang kau hadirkan beberapa hari ini, akan berubah lagi menjadi air mata pada nantinya.

Biarlah cinta ini aku simpan dalam diam, fadilku. Sampai suatu hari nanti aku akan memberikannya pada seseorang yang menjabat tangan ayahku dan menyatakan menerima nikahku, lalu menjemputku dengan senyumnya, membawaku ke “gubug reot” penuh cinta, membentuk “madrasah keluarga sakinah” dan bahagia bersama sampai ke surga. Ah...masih saja aku mengingat mimpi kanak-kanak kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar