apakah kamu masih ingat masa kecil kita dil? kita sering bermain bersama. aku selalu menceritakan mimpi-mimpiku, dan kau pun selalu menceritakan mimpi-mimpimu. kita mempunyai mimpi yang sama dil, untuk bisa menuliskan apa pun yang kita fikirkan. aku adalah pengagum tulisanmu yang pertama, kau ini memang pandai menulis dil, dan aku hanya ikut-ikutan saja, tulisanku selalu nggak karu-karuan, dan kau selalu menghina tulisanku. aku selalu pura-pura cemberut di hadapanmu, tapi aku selalu membenarkan dalam hati apa yang kau bilang. aku memang tidak pandai menulis.
aku masih ingat, kita sering bermain pengantin-pengantinan. kau menjadi pengantin prianya, dan aku menjadi pengantin wanitanya. rasanya bahagia sekali bermimpi menjadi peri di sampingmu. aku sering tertawa geli ketika mengingatnya, mengingat tingkah polah kita yang kufikir keterlaluan, kanak-kanak yang bermimpi menjadi pengantin.tapi aku suka dengan permainan kita dil, bahkan diam-diam aku memimpikannya menjadi kenyataan. suatu saat nanti, ketika kita sudah sama-sama dewasa, kita benar-benar akan menjadi pengantin yang duduk berdampingan. ah...mimpi yang bodoh.
kita beranjak dewasa dan tak ada yang berubah dengan persahabatan kita, tetap polos, tulus, dan tak pernah dibuat-buat. aku tetap senang mendengar cerita-ceritamu, keluhan-keluhanmu, tangis dan tawamu..begitu pun denganmu dil, kau selalu membuat hariku tak sedetik pun tanpamu...
lalu tiba-tiba saja, jarak memisahkan kita, kau pergi jauh, jauuuhhh sekali, dan aku tak bisa ikut pergi bersamamu. kamu tau dil? setelah memberikan mawar itu padamu, aku lalu pergi ke sungai dimana kita sering bercerita bersama, aku menangis dalam diam di sana. aku takut tanpamu dil. tapi inilah kenyataannya, bahwa kau pergi jauh. meski kau berjanji untuk selalu menghubungiku, tetap saja air mata ini tak mau berhenti menetes.
tak lama tiba pesanmu, mengabari bahwa kau baik-baik saja di sana, aku lega, meski tak lagi dapat menatapmu. dan kau pun mengirimkan sebuah puisi, yang membuatku melengkungkan bibir, rupanya kau sudah mulai bisa menggombali sahabatmu ini,dasar fadil...
hari-hari pun berlalu dan mejaku hampir penuh dengan tulisan-tulisanmu yang selalu aku suka. kau selalu mengirimkan setiap tulisanmu, dan aku selalu mengaguminya. bagaimana bisa kau menulis sebagus itu dil? kau jahat, tak mau mengajariku. aku yakin, suatu saat nanti kau akan menjadi penulis yang besar.
tapi seiring berjalannya waktu, kau mulai berubah dil. kau menghadirkan orang lain dalam persahabatan kita. selama 15 tahun kita bersahabat, kau tak pernah melakukannya. kau selalu bilang bahwa aku yang paling manis, aku satu-satunya peri yang selalu ada di sampingmu. tapi kenapa sekarang kau membawa dia? bahkan kau puji dia di hadapanku dil, kau bilang dia pandai menulis sama sepertimu, dia cantik, dia selalu berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih baik. sepertinya kau benar-benar ingin menggantikanku dengannya dil.
aku selalu berfikir, mungkin kau memang menyukainya. aku memang tak sebaik dia dil, aku tak bisa menulis sepertinya, aku tak bisa membuatmu melambung dengan tulisan-tulisan seperti yang ia lakukan padamu. aku tak bisa menjadi seperti dia dil, karena aku bukan dia dan selamanya tak akan menjadi dia.
perlahan aku mulai merangkak, tertatih, berjalan meninggalkan kebersamaan kita, karena aku semakin yakin bahwa kau menyukainya. dia selalu bisa membuatmu tersenyum. kau selalu tertawa bahagia ketika bersama dengannya. dan itu cukup bagiku dil, cukup bagiku untuk kemudian pergi. karena aku hanya ingin melihat senyummu itu, tak harus dari dekat di sampingmu, bahkan dari jauh pun aku selalu bisa merasakannya.
aku mencoba memahami dil, bahwa kebersamaan kita adalah persahabatan, dan aku harus selalu siap ketika akhirnya kau menemukan cintamu. dan mimpi kita, hanyalah mimpi kanak-kanak yang tak seharusnya aku terus mengharapkannya. dan senyummu, biarlah tetap berada di sini dil, di hatiku yang paling dalam, sampai mata ini terpejam, dan takkan pernah terbuka lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar