Senin, 30 April 2012

Gelap itu indah, bukan...?


“Ara takut gelap bu...” Ara mendekap tubuh ibunya erat. Dia benar-benar takut dengan gelap, entah kenapa. Setiap listrik padam, dia akan mendekatkan tubuh mungilnya ke pelukan ibunya, lalu belaian tangan ibunya di rambutnya akan menenangkannya.

“Tidak papa sayang...ibu di sini, mendekapmu” Ibu paruh baya itu mendekapnya dengan erat, mengelus rambut hitam panjangnya, lalu menceritakan apa pun yang bisa menenangkan Ara.

“Ara...gelap itu tidak menakutkan, gelap akan selalu ada dalam kehidupan kita, tak selamanya ibu bisa mendekapmu seperti ini, maka kamu tidak boleh selamanya takut dengan gelap ya..” ibunya melanjutkan.

“Tapi Ara takut bu...gelap membuat Ara tidak bisa melihat apa pun, Ara takut ketika Ara tidak bisa melihat wajah ibu, Ara tidak bisa bernafas...” mata Ara pun berkaca. Ibunya memeluknya semakin erat, begitu khawatir anak perempuannya itu menangis.

“Iya sayang...iyaa...ibu akan selalu di sini menemani Ara ketika gelap”

“Janji ya bu...”

“Iya...”

Beberapa tahun berlalu, Ara tetap nyaman dengan pelukan ibunya setiap gelap, merasa aman, merasa bahwa dia akan selalu baik-baik saja ketika gelap datang selama ada ibunya di sampingnya. Tanpa ia sadar, ia telah menjadi gadis dewasa, bukan Ara kecil lagi.

“Aku dimana...kenapa gelap? Ibuu...ibuuu...”

“Mbak Tiara...anda baik-baik saja?” seorang pasien mendatanginya karena teriakannya.

“Saya tidak papa sus...kenapa rumah sakit ini gelap? Apa listrik padam?”

“Iya mbak..kata petugas, sedang ada pemadaman bergilir. Tapi di luar ruangan sepertinya tidak terlalu gelap, karena belum malam, mungkin mbak Tiara mau saya antar keluar?”

“Iya sus...boleh”

Lalu suster itu pun mendorong kursi roda Tiara menuju taman Rumah Sakit, memang belum malam, tapi sama gelapnya karena langit pun ternyata mendung.

“Ah...ternyata sama saja gelap sus...” Tiara kecewa.

“Iya mbak...maaf saya fikir di luar akan terang, saya tidak tau kalau mendung seperti ini”

“Ya...tidak papa sus” Tiara tersenyum.

“Maukah suster mendengar cerita saya?” lanjutnya.

“Dengan senang hati” jawab suster itu ramah.

“Dulu, setiap datang gelap, saya selalu menangis dan memanggil-manggil ibu saya sus. Lalu ibu akan segera datang dan memeluk saya dengan erat, menceritakan apa pun yang akan membuat saya tenang dan tidak takut lagi.”

“Ibu bilang, ibu janji tidak akan pernah meninggalkan saya dan akan selalu ada untuk saya saat gelap datang, tapi...” Tiara menghentikan ceritanya, ia menarik nafas panjang, menghembuskannya, lalu melanjutkan bercerita.

“Tapi pada suatu hari, saya berada di suatu tempat asing sus, tidak ada ibu, entah saya tidak tau ibu ada dimana, yang saya tau, ketika gelap datang, tak seorang pun datang meskipun saya telah menangis tersedu-sedu, tak seorang pun mendekap saya meskipun saya menggigil ketakutan, saya takut sekali sus, dan semakin takut dengan gelap” mata Tiara berkaca, suster memberikannya tisue, Tiara menghapus air matanya.

“Dulu ibu pernah bilang pada saya, bahwa tak selamanya ia bisa menemani saya ketika gelap, dan ia melarang saya untu selamanya takut gelap.” Suster itu tersenyum dan mengangguk pelan.

“Mbak Tiara..lihatlah mendung di langit sana, ia begitu gelap, tapi sebentar lagi ia akan menurunkan hujan yang dinantikan banyak orang, ia sama sekali tidak menakutkan kan mbak? Lalu dengan adanya gelap, kita akan menantikan lagi datangnya terang, kita akan merasa bahagia sekali ketika terang kembali datang, kita akan lebih menghargainya”

“Tapi...kenapa hanya pelukan ibu yang bisa membuat mbak Tiara tenang, bagaimana dengan pelukan ayah?” suster itu melanjutkan.

“Entahlah sus, saya tidak pernah merasakan pelukannya”. Tiara tersenyum getir.

“Tapi sekarang saya mengerti, mungkin saya memang menbutuhkan gelap, untuk lebih menghargai terang”.

Ia biarkan air matanya menetes, ia arahkan kursi rodanya ke taman, membuka tangannya ke langit, lalu menikmati setiap tetes hujan yang jatuh di telapaknya. Itulah yang orang nanti setelah gelapnya mendung, hujan. Ia begitu mencintai hujan, tapi ia takut dengan mendung, Tiara tersenyum kecil.

~kita tak bisa mencintai sebuah sisi dari sepasang sisi, tanpa mencintai sisi lainnya~

Selasa, 24 April 2012

selembar kenangan (lomba)



Aku benar-benar tak mampu menuliskan setiap kenangan yang kita lewati bersama. Terlalu banyak kau lukis senyum di wajahku, terlalu banyak bahagia kau selipkan di dalam hari-hariku. Terlalu banyak kau buat aku bermimpi menjadi seorang putri, dengan seorang pangeran di sampingku yang selalu menjagaku, selalu ada setiap aku membuka mata. Dan pangeranku adalah....kamu.

            Aku tak mampu berkata apa pun ketika kau berkata “aku harus pergi,,,Senja...”

Hanya bulir-bulir yang kurasakan menetes perlahan dari mataku, terus menetes...sampai aku tak tau berapa banyak bulir-bulir itu terkumpul. Aku masih tetap diam, menatap langit yang tak memunculkan gambar apa pun di sana, kosong...yang kurasakan hanya kosong.

Aku tak mengerti perasaan apa ini, perasaan yang menimbulkan ngilu di hatiku, sakit...namun aku masih tak bisa berkata apa pun padamu. Aku masih menatapmu dengan kosong di mataku, tak mengerti kenapa kau berlaku seperti ini. Bulir-bulir itu, kubiarkan tetap menetes. Aku tak ingin menghapusnya, agar kau tau, bahwa aku sakit.

“maafkan aku...tapi aku tak bisa tetap di sini”

Bulir itu semakin deras kurasakan tetesannya, hingga pandanganku kabur, hingga aku lupa bila aku masih berpijak di bumi, aku lupa bila ada kau di hadapanku. Tak ada kata yang ingin ku ucapkan,tak ada...hanya ingin membiarkan bulir ini tetap menetes, hingga ngilu di hatiku hilang, meski aku tau, ia tak akan pernah hilang.

“kenapa diam...?”

Suaramu menyadarkanku, aku tergagap lalu mencoba memaksakan sebuah senyuman untukmu, karena kau bilang hanya itu yang kau mau dariku, senyumku. Aku tersenyum sementara bulir itu tetap saja tak mau berhenti menetes, aku tak tau harus bagaimana, aku ingin menghentikannya tapi aku tak bisa, aku tak mampu menghentikannya.

Imaginasiku kemudian melukiskan sebuah bayangan, bayangan akan hidupku tanpamu, pasti akan begitu sulit...

Siapa yang akan melukiskan senyum di wajah ini? Siapa yang akan menyelipkan bahagia di dalam hari-hariku nanti? Tidakkah kau juga memikirkannya?

Hhh...fikiranku ini lagi-lagi membuat bulir-bulir itu semakin deras menetes...

“jangan nangis terus....”

Apa? Apa yang kau katakan? Mengapa kau berkata seperti itu? Tidakkah kau berfikir sedikit saja tentang sakit yang kurasakan ini? Atau kau memang sudah tak mau memikirkannya lagi? Kau tak peduli lagi?
“hhh udahlah...aku nggak ngerti,aku pergi sekarang.”

Dan kau pun berlalu. Pergi. Aku terus menatap punggungmu, tapi tak sekalipun kau menengok untuk melihatku berdiri di sini. Bulir-bulir itu kembali memburamkan pandanganku. Kosong. Lalu kurasakan gelap, gelap, dan gelap. Setelah itu, aku tak tau lagi apa yang terjadi denganku.
~~~~~~
            Apakah kamu masih ingat masa kecil kita dhil? kita sering bermain bersama. Aku selalu menceritakan mimpi-mimpiku, dan kau pun selalu menceritakan mimpi-mimpimu. Kita mempunyai mimpi yang sama dhil, untuk bisa menuliskan apa pun yang kita fikirkan.

            Aku adalah pengagum tulisanmu yang pertama, kau ini memang pandai menulis, dan aku hanya ikut-ikutan saja, tulisanku selalu nggak karu-karuan, dan kau selalu menghina tulisanku. Aku selalu pura-pura cemberut di hadapanmu, tapi aku selalu membenarkan dalam hati apa yang kau bilang. Aku memang tidak pandai menulis.

            Aku masih ingat, kita sering bermain pengantin-pengantinan. Kau menjadi pengantin prianya, dan aku menjadi pengantin wanitanya. Rasanya bahagia sekali bermimpi menjadi peri di sampingmu. Aku sering tertawa geli ketika mengingatnya, mengingat tingkah polah kita yang kufikir keterlaluan, kanak-kanak yang bermimpi menjadi pengantin. Tapi aku suka dengan permainan kita dhil, bahkan diam-diam aku memimpikannya menjadi kenyataan. Suatu saat nanti, ketika kita sudah sama-sama dewasa, kita benar-benar akan menjadi pengantin yang duduk berdampingan. Ah...mimpi yang bodoh.

            Kita beranjak dewasa dan tak ada yang berubah dengan persahabatan kita, tetap polos, tulus, dan tak pernah dibuat-buat. Aku tetap senang mendengar cerita-ceritamu, keluhan-keluhanmu, tangis dan tawamu, begitu pun denganmu dhil, kau selalu membuat hariku tak sedetik pun tanpamu.

            Lalu tiba-tiba saja, jarak memisahkan kita, kau pergi jauh, jauuuhhh sekali, dan aku tak bisa ikut pergi bersamamu. Kamu tau dhil? setelah memberikan mawar itu padamu, aku lalu pergi ke sungai dimana kita sering bercerita bersama, aku menangis dalam diam di sana. Aku takut tanpamu dhil, tapi inilah kenyataannya, bahwa kau pergi jauh. Meski kau berjanji untuk selalu menghubungiku, tetap saja air mata ini tak mau berhenti menetes.

            Tak lama tiba pesanmu, mengabari bahwa kau baik-baik saja di sana, aku lega, meski tak lagi dapat menatapmu. Dan kau pun mengirimkan sebuah puisi, yang membuatku melengkungkan bibir, rupanya kau sudah mulai bisa menggombali sahabatmu ini, dasar fadhil.

            Hari-hari pun berlalu dan mejaku hampir penuh dengan tulisan-tulisanmu yang selalu aku suka. Kau selalu mengirimkan setiap tulisanmu, dan aku selalu mengaguminya. Bagaimana bisa kau menulis sebagus itu dhil? kau jahat, tak mau mengajariku. Aku yakin, suatu saat nanti kau akan menjadi penulis yang besar.

            Tapi  seiring berjalannya waktu, kau mulai berubah. Kau menghadirkan orang lain dalam persahabatan kita. Selama 15 tahun kita bersahabat, kau tak pernah melakukannya. Kau selalu bilang bahwa aku yang paling manis, aku satu-satunya peri yang selalu ada di sampingmu. Tapi kenapa sekarang kau membawa dia? bahkan kau puji dia di hadapanku, kau bilang dia pandai menulis sama sepertimu, dia cantik, dia selalu berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih baik. Sepertinya kau benar-benar ingin menggantikanku dengannya.

            Aku selalu berfikir, mungkin kau memang menyukainya. Aku memang tak sebaik dia dhil, aku tak bisa menulis sepertinya, aku tak bisa membuatmu melambung dengan tulisan-tulisan seperti yang ia lakukan padamu. Aku tak bisa menjadi seperti dia dhil, karena aku bukan dia dan selamanya tak akan menjadi dia.

            Perlahan aku mulai merangkak, tertatih, berjalan meninggalkan kebersamaan kita, karena aku semakin yakin bahwa kau menyukainya. Dia selalu bisa membuatmu tersenyum. Kau selalu tertawa bahagia ketika bersama dengannya. Dan itu cukup bagiku dhil, cukup bagiku untuk kemudian pergi. Karena aku hanya ingin melihat senyummu itu, tak harus dari dekat di sampingmu, bahkan dari jauh pun aku selalu bisa merasakannya.

Aku mencoba memahami, bahwa kebersamaan kita adalah persahabatan, dan aku harus selalu siap ketika akhirnya kau menemukan cintamu. Dan mimpi kita, hanyalah mimpi kanak-kanak yang tak seharusnya aku terus mengharapkannya. Dan senyummu, biarlah tetap berada di sini dhil, di hatiku yang paling dalam, sampai mata ini terpejam, dan takkan pernah terbuka lagi.
~~~~~
Kamu tau fadhil? Surat darimu membuatku kembali menitikkan air mata. Aku tak pernah mengerti, kenapa cintaku padamu kurasakan begitu besar. Aku juga tak pernah mengerti, kenapa sayangku untukmu tak pernah habis. Kau adalah sahabat terbaik untukku fadhil, sahabat yang mengajariku banyak hal, tentang kebersamaan, tentang bagaimana aku mulai merasakan perasaan yang berbeda ketika menjalani hari-hari bersamamu. Tentang bagaimana bibirku akan melengkungkan sebuah senyuman ketika melihatmu bahagia, tentang bagaimana mataku akan menghangat dan menitikkan airnya ketika melihatmu sakit, melihatmu sedih fadhil. Kau mengajariku semuanya. Tentang bagaimana cinta itu tumbuh bersama persahabatan kita.

Kau pernah mengatakannya, bahwa kau juga merasakan hangat yang sama di hatimu. Sebelum ia datang, dan membuatmu perlahan menjauhiku. Aku hampir tak mengenalmu saat itu fadhil, kau benar-benar berubah. Kau tak lagi suka bercerita padaku, kau tak lagi suka mendengarkan ceritaku. Aku sedih fadhil, tapi aku tak pernah bisa membencimu. Tak akan pernah bisa.

Waktu itu, aku memaksakan diri untuk datang ke acara launching buku terbarumu, aku ingin melihat senyum kebahagiaanmu, dan berharap ada sedikit senyummu untukku. Tapi yang kuharap tak sedikitpun kudapatkan, kau berlalu dengannya, tanpa sedikitpun memandangku. Dan aku, hanya bisa tersenyum melihat sikapmu. Aku lantas berfikir, sahabatku telah hilang dari muka bumi, dan yang kulihat dalam acara launching buku itu bukanlah fadhilku. Fadhilku sudah tidak ada lagi, tidak ada lagi selain yang ada di hatiku. Yang tetap kusimpan di relung terdalam.

Aku menganggapmu tak ada seiring semakin eratnya kebersamaanmu dengannya, kalian sama-sama penulis dan kalian bekerja bersama. Aku mengerti fadhil, ketika kau lebih mencintainya. Bagaimana tidak? Setiap waktumu sering kau habiskan dengannya. Seperti yang orang jawa bilang, witing tresno jalaran soko kulino, dan mungkin itu yang kalian rasakan. Aku tak pernah ingin menyalahkanmu fadhil, yang salah adalah aku yang tak pernah ada untukmu dan mungkin hanya dia yang ada.

Aku hampir berputus asa ketika aku masih mencoba manguatkan diri untuk datang padamu dan menanyakan hal itu. Bertanya, apakah rasa di hatimu untukku benar-benar habis. Dan jawabanmu fadhil, benar-benar membuatku ingin mati saja daripada merasakan sakit itu.

“rasa itu telah habis, termakan waktu dan istikhoroh” katamu.

Waktu? Ternyata waktu yang kuhabiskan untuk menunggumu, kau habiskan untuk melupakan setiap kebersamaan kita. Bagaimana kau bisa lupa fadhil? Ketika kau memboncengku dengan sepeda tuamu, dan aku tertawa bahagia. Bagaimana kau bisa lupa ketika aku terjatuh lalu kau menggapai tanganku dan aku masih bisa tetap tersenyum di sampingmu. Bagaimana kau bisa lupa bahwa aku tak bisa tanpamu dan kita bahagia bila bersama?

Dan Istikhoroh, kau bawa Allah dalam jawabanmu dhil. Aku tak berani mendebat apa pun karena petunjuk Allah lah yang terbaik untukmu. Aku hanya bisa menangis, bukan karena menyesali jawabanmu, tapi karena aku ingin ngilu di hatiku sedikit berkurang. Ya, berkurang, karena aku tau ngilunya tak akan pernah habis sampai kapan pun.

Kau tau yang terjadi setelah itu? Aku hanya banyak diam pada siapa pun. berkata dan tersenyum secukupnya pada orang-orang yang mungkin menatapku dengan heran. Aku sering pergi-pergi tak tentu arah, aku melihat aliran sungai yang tenang, berharap mendapatkan ketenangan yang sama. Meski yang kudapat hanyalah mataku yang kembali menghangat karena sungai itu pun menampakkan wajahmu dan kenangan kita. Kenangan kita terlalu banyak dan aku tak mampu menghapusnya dhil, takkan pernah mampu. 
Sampai suatu hari, aku bertemu dengannya. Saat itu lagi-lagi aku duduk merenung melihat aliran sungai. Dan tau-tau dia duduk di sampingku, melihat ke arah yang sama, aliran sungai yang tenang itu. Dia hanya diam dan aku pun tak berani memulai pembicaraan. Hanya sesekali kami saling memandang dan bertukar senyum sekilas.

“Bagaimana hidupmu, adalah kau yang menentukan jalannya meski akhirnya Allah yang akan mengijinkan atau tidak. Ketika kau hanya terus seperti ini, maka selamanya hidupmu akan seperti ini. Kehilangan itu mengajarkan kita bahwa di dunia ini kita tidak mempunyai apa-apa, lalu apa yang perlu ditangisi karena pada akhirnya kita akan kehilangan semuanya?”
Hima, dia bernama Hima, Fadhil.

Kata-katanya itu, menyadarkanku bahwa aku tak boleh terus seperti ini. Aku harus bisa bangkit dan tersenyum. Aku pasti bisa menjalani hari-hariku dhil, harus bisa. Dia terus menyemangatiku sementara aku terus melihatmu semakin jauh meninggalkanku. Aku belajar menerima kenyataan ini. Aku tak pernah mengerti apa rahasia Allah untuk kita. Aku hanya mencoba menjalani alur ini, alur yang begitu perih kutapaki tapi aku terus mencobanya.

Lukaku telah sedikit mengering ketika tanganku kembali menerima surat darimu. Surat yang telah kutunggu sejak lama, bahkan setelah kau mengucapkan jawaban itu. Surat yang berisi permintaan maafmu atas kejadian waktu itu, kejadian yang mebuatku kehilangan separuh dari nyawaku, kejadian tersakit yang pernah aku alami. Aku tak butuh maafmu karena tanpa kau meminta pun, aku akan selalu memaafkanmu fadhil. Dan cinta ini, tak akan pernah habis untukmu.

Tapi entah mengapa kini rasanya berbeda, ada ragu, ada hambar yang perlahan menguar seiring tetesan air mataku. Aku takut terluka lagi fadhil, aku takut hatiku yang telah rapuh kembali tersakiti dan akhirnya nyawaku yang tinggal separuh akan habis. Dan aku pun juga tak bisa melupakan begitu saja, bahwa dia terus menyemangatiku ketika kau pergi meninggalkanku fadhil.

Saat ini, tak ada yang bisa kubalaskan untuk suratmu. Karena perasaan bimbang itu belum juga hilang. Karena aku masih terlalu khawatir bahwa senyum yang kau hadirkan beberapa hari ini, akan berubah lagi menjadi air mata pada nantinya.

Biarlah cinta ini aku simpan dalam diam, fadhilku. Sampai suatu hari nanti aku akan memberikannya pada seseorang yang menjabat tangan ayahku dan menyatakan menerima nikahku, lalu menjemputku dengan senyumnya, membawaku ke “gubug reot” penuh cinta, membentuk “madrasah keluarga sakinah” dan bahagia bersama sampai ke surga. Ah...masih saja aku mengingat mimpi kanak-kanak kita.