Selasa, 20 Desember 2011

hari ini, 3 tahun lalu....

Dear diary...
Kamu tau aku sekarang lagi ada dimana? Aku lagi ada di bus, yang akan membawaku ke tempat yang jauuuhh yang belum pernah aku kunjungi. Haha...mungkin aku memang nekat, tapi jangan panggil aku senja kalau aku tak senekat ini.
Aku hanya tau kalo aku harus turun di perempatan mall besar di daerah itu. Aku sudah berusaha berkomunikasi dengan pak kondektur bus untuk menurunkanku di sana, haloo...aku sekarang udah cukup dewasa kan untuk pergi-pergi sendiri...? sejak beberapa bulan lalu bahkan aku sudah disebut mahasiswa, aku tak perlu memakai seragam lagi untuk pergi ke sekolah...yeyyy...
Ah...kenapa aku jadi tegang begini? Apa yang harus aku lakukan ketika nanti aku sampai sana? Diam mematung? Senyum? Aduuhh...kenapa aku jadi merasa bodoh? Sejak beberapa hari yang lalu aku sudah mempersiapkan segalanya, apa saja yang harus aku bawa, tak ada yang ketinggalan 1 pun, termasuk kura-kura mungil yang ada di pangkuanku ini, hai kura-kura sayang...apakah kau nyaman di sana? Kamu lucuuuu....
Tapi kenapa aku tak memikirkan apa yang akan terjadi di sana? Aku terlalu sibuk mempersiapkan keberangkatanku, termasuk memesan tiket bus, hhff...aku adalah manusia bodoh, bahkan sejak lama aku sudah tau kalau aku pasti akan mual ketika naik bus, dan sekarang terbukti sudah, mual mual mualllll....apa sebaiknya tidur? Ah tidak...perjalanan ini terlalu indah jika hanya dihabiskan untuk tidur.
Aku sudah mencoba menyanyi sendiri, memikirkan hal-hal lucu, tapi kenapa aku tetap merasa mual diary? Ditambah di sampingku ada bapak-bapak yang merokok, pengamen yang bergantian naik turun dan menyanyikan lagu-lagu dengan asal-asalan, lengkap sudah penderitaanku, benar-benar lengkap. Aarrgghhh...rasanya ingin teriak....
Aku menjadi berfikir, untuk apa aku melakukan ini? Apakah rasa cintaku padanya memang terlalu besar diary?
Aku mungkin menjadi orang yang paling bahagia ketika waktu itu ia memberitahuku bahwa ia diterima kerja, meskipun setelah itu aku harus ditinggalkan beberapa hari olehnya,tidak bisa menghubunginya karena dia harus mengikuti pendidikan kerja, tapi aku tetap sabar menanti smsnya datang setelah lama tak hadir. Aku selalu setia menunggu cerita-ceritanya yang akan selalu saja membuatku tersenyum.
Dia memang spesial diary, sangat spesial. Meskipun terkadang dia menyebalkan, tapi aku tak pernah bisa marah padanya. Aku juga tidak tau apa penyebabnya.
Ah...kenapa jadi ngomongin dia sih? Aku kan lagi cerita soal perjalananku. Mmm...aku tidak tau harus menuliskan apalagi, yang pasti aku bahagia akan bertemu dengannya. Semoga...
                                                                                                                               
20 desember 2008

Dear diary...
                Kamu pasti udah menebak ini kan???? Aku bahagiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa diaryyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy... kalau kamu melihat wajahku, pasti yang akan kamu lihat adalah wajah penuh kebahagiaan. Okey, akan aku ceritakan supaya kamu nggak penasaran...
                Dia menjemputku, aku sempat tegang ketika sosok itu tiba-tiba hadir di hadapanku. Aku nggak tau harus berbuat apa? Hanya cekikikan dalam hati dan rasanya ingin melompat. Ah diary...aku malu sekali...hihihi...
                Aku diam sepanjang perjalanan ke rumahnya, kamu tau? Jantungku terasa sekali detaknya, aku sampai khawatir kalau dia mendengarnya. Apakah aku benar-benar masih remaja? Kenapa sikapku kekanak-kanakan seperti ini? Menyebalkan sekali...
                Sampai di rumahnya, tak lama kemudian adik perempuannya pun datang, aku sedikit lega diary...setidaknya ada yang aku ajak bicara,hehe... tapi rupa-rupanya aku pun segera ditinggal masuk lagi sama mereka.
                Tak lama, adiknya pun kembali menemuiku dan membawa sebuah kotak. Ketika aku menanyakan isinya, dia menyuruhku membukanya saja. Waaaaaaahhh...sebuah gamis dan jilbab yang cantiiikkk sekali, aku sukaa.... waktu itu aku bingung diary, harus kusembunyikan dimana mukaku ini? Aku pengen senyum terusss....
                Dan kamu tau diary? Ibunya juga baik sekali, keluarganya yang lain pun juga baik, aku tidak bisa menceritakan semuanya...aku terlalu lelah dan aku ingin tidur...
                Tapi yang harus kamu tau, aku merasa sangat bahagia ketika dia mengantarkanku menaiki bus ini, dan mengatakan “hati-hati...” . aaahh..pokoknya aku senengg senenggg senenggg...
                Udah ah diary, aku mau tidur, mbak-mbak di sampingku ini sepertinya baik dan akan membangunkanku ketika aku hampir sampai nanti. Nice day.....
                                                                                                      Still 20 desember 2008

Kututup buku merah jambu itu dengan sebuah senyuman, lalu kuelus kotak bersampul bunga-bunga dengan warna orange hijau dan warna dasar kuning yang masih kusimpan hingga kini. Hari ini, 3 tahun lalu.... Apakah aku sudah cukup dewasa untuk mengerti arti cinta...? Entahlah...
                

Minggu, 13 November 2011

selembar kenangan

            Aku benar-benar tak mampu menuliskan setiap kenangan yang kita lewati bersama. Terlalu banyak kau lukis senyum di wajahku, terlalu banyak bahagia kau selipkan di dalam hari-hariku. Terlalu banyak kau buat aku bermimpi menjadi seorang putri, dengan seorang pangeran di sampingku yang selalu menjagaku, selalu ada setiap aku membuka mata. Dan pangeranku adalah....kamu.
            Aku tak mampu berkata apa pun ketika kau berkata “aku harus pergi,,,Senja...”
Hanya bulir-bulir yang kurasakan menetes perlahan dari mataku, terus menetes...sampai aku tak tau berapa banyak bulir-bulir itu terkumpul. Aku masih tetap diam, menatap langit yang tak memunculkan gambar apa pun di sana, kosong...yang kurasakan hanya kosong.
Aku tak mengerti perasaan apa ini, perasaan yang menimbulkan ngilu di hatiku, sakit...namun aku masih tak bisa berkata apa pun padamu. Aku masih menatapmu dengan kosong di mataku, tak mengerti kenapa kau berlaku seperti ini. Bulir-bulir itu, kubiarkan tetap menetes. Aku tak ingin menghapusnya, agar kau tau, bahwa aku sakit.
“maafkan aku...tapi aku tak bisa tetap di sini”
Bulir itu semakin deras kurasakan tetesannya, hingga pandanganku kabur, hingga aku lupa bila aku masih berpijak di bumi, aku lupa bila ada kau di hadapanku. Tak ada kata yang ingin ku ucapkan,tak ada...hanya ingin membiarkan bulir ini tetap menetes, hingga ngilu di hatiku hilang, meski aku tau, ia tak akan pernah hilang.
“kenapa diam...?”
Suaramu menyadarkanku, aku tergagap lalu mencoba memaksakan sebuah senyuman untukmu, karena kau bilang hanya itu yang kau mau dariku, senyumku. Aku tersenyum sementara bulir itu tetap saja tak mau berhenti menetes, aku tak harus bagaimana, aku ingin menghentikannya tapi aku tak bisa, aku tak mampu menghentikannya...
Imaginasiku kemudian melukiskan sebuah bayangan, bayangan akan hidupku tanpamu, pasti akan begitu sulit...
Siapa yang akan melukiskan senyum di wajah ini? Siapa yang akan menyelipkan bahagia di dalam hari-hariku nanti? Tidakkah kau juga memikirkannya?
Hhh...fikiranku ini lagi-lagi membuat bulir-bulir itu semakin deras menetes...
“jangan nangis terus....”
Apa? Apa yang kau katakan? Mengapa kau berkata seperti itu? Tidakkah kau berfikir sedikit saja tentang sakit yang kurasakan ini? Atau kau memang sudah tak mau memikirkannya lagi? Kau tak peduli lagi?
“hhh udahlah...aku nggak ngerti,aku pergi sekarang.”
Dan kau pun berlalu. Pergi. Aku terus menatap punggungmu, tapi tak sekalipun kau menengok untuk melihatku berdiri di sini. Bulir-bulir itu kembali memburamkan pandanganku. Kosong. Lalu kurasakan gelap, gelap, dan gelap. Setelah itu, aku tak tau lagi apa yang terjadi denganku.
~~~~~~
            Apakah kamu masih ingat masa kecil kita dhil? kita sering bermain bersama. Aku selalu menceritakan mimpi-mimpiku, dan kau pun selalu menceritakan mimpi-mimpimu. Kita mempunyai mimpi yang sama dhil, untuk bisa menuliskan apa pun yang kita fikirkan.

            Aku adalah pengagum tulisanmu yang pertama, kau ini memang pandai menulis dhil, dan aku hanya ikut-ikutan saja, tulisanku selalu nggak karu-karuan, dan kau selalu menghina tulisanku. Aku selalu pura-pura cemberut di hadapanmu, tapi aku selalu membenarkan dalam hati apa yang kau bilang. Aku memang tidak pandai menulis.

            Aku masih ingat, kita sering bermain pengantin-pengantinan. Kau menjadi pengantin prianya, dan aku menjadi pengantin wanitanya. Rasanya bahagia sekali bermimpi menjadi peri di sampingmu. Aku sering tertawa geli ketika mengingatnya, mengingat tingkah polah kita yang kufikir keterlaluan, kanak-kanak yang bermimpi menjadi pengantin. Tapi aku suka dengan permainan kita dil, bahkan diam-diam aku memimpikannya menjadi kenyataan. Suatu saat nanti, ketika kita sudah sama-sama dewasa, kita benar-benar akan menjadi pengantin yang duduk berdampingan. Ah...mimpi yang bodoh.

            Kita beranjak dewasa dan tak ada yang berubah dengan persahabatan kita, tetap polos, tulus, dan tak pernah dibuat-buat. Aku tetap senang mendengar cerita-ceritamu, keluhan-keluhanmu, tangis dan tawamu, begitu pun denganmu dhil, kau selalu membuat hariku tak sedetik pun tanpamu.

            Lalu tiba-tiba saja, jarak memisahkan kita, kau pergi jauh, jauuuhhh sekali, dan aku tak bisa ikut pergi bersamamu. Kamu tau dhil? setelah memberikan mawar itu padamu, aku lalu pergi ke sungai dimana kita sering bercerita bersama, aku menangis dalam diam di sana. Aku takut tanpamu dil, tapi inilah kenyataannya, bahwa kau pergi jauh. Meski kau berjanji untuk selalu menghubungiku, tetap saja air mata ini tak mau berhenti menetes.

            Tak lama tiba pesanmu, mengabari bahwa kau baik-baik saja di sana, aku lega, meski tak lagi dapat menatapmu. Dan kau pun mengirimkan sebuah puisi, yang membuatku melengkungkan bibir, rupanya kau sudah mulai bisa menggombali sahabatmu ini, dasar fadhil...

            Hari-hari pun berlalu dan mejaku hampir penuh dengan tulisan-tulisanmu yang selalu aku suka. Kau selalu mengirimkan setiap tulisanmu, dan aku selalu mengaguminya. Bagaimana bisa kau menulis sebagus itu dhil? kau jahat, tak mau mengajariku. Aku yakin, suatu saat nanti kau akan menjadi penulis yang besar.

            Tapi  seiring berjalannya waktu, kau mulai berubah dhil. Kau menghadirkan orang lain dalam persahabatan kita. Selama 15 tahun kita bersahabat, kau tak pernah melakukannya. Kau selalu bilang bahwa aku yang paling manis, aku satu-satunya peri yang selalu ada di sampingmu. Tapi kenapa sekarang kau membawa dia? bahkan kau puji dia di hadapanku dhil, kau bilang dia pandai menulis sama sepertimu, dia cantik, dia selalu berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih baik. Sepertinya kau benar-benar ingin menggantikanku dengannya dil.

            Aku selalu berfikir, mungkin kau memang menyukainya. Aku memang tak sebaik dia dhil, aku tak bisa menulis sepertinya, aku tak bisa membuatmu melambung dengan tulisan-tulisan seperti yang ia lakukan padamu. Aku tak bisa menjadi seperti dia dhil, karena aku bukan dia dan selamanya tak akan menjadi dia.

            Perlahan aku mulai merangkak, tertatih, berjalan meninggalkan kebersamaan kita, karena aku semakin yakin bahwa kau menyukainya. Dia selalu bisa membuatmu tersenyum. Kau selalu tertawa bahagia ketika bersama dengannya. Dan itu cukup bagiku dhil, cukup bagiku untuk kemudian pergi. Karena aku hanya ingin melihat senyummu itu, tak harus dari dekat di sampingmu, bahkan dari jauh pun aku selalu bisa merasakannya.

Aku mencoba memahami dil, bahwa kebersamaan kita adalah persahabatan, dan aku harus selalu siap ketika akhirnya kau menemukan cintamu. dan mimpi kita, hanyalah mimpi kanak-kanak yang tak seharusnya aku terus mengharapkannya. Dan senyummu, biarlah tetap berada di sini dhil, di hatiku yang paling dalam, sampai mata ini terpejam, dan takkan pernah terbuka lagi.
~~~~~
Kamu tau fadhil? Surat darimu membuatku kembali menitikkan air mata. Aku tak pernah mengerti, kenapa cintaku padamu kurasakan begitu besar. Aku juga tak pernah mengerti, kenapa sayangku untukmu tak pernah habis. Kau adalah sahabat terbaik untukku fadhil, sahabat yang mengajariku banyak hal, tentang kebersamaan, tentang bagaimana aku mulai merasakan perasaan yang berbeda ketika menjalani hari-hari bersamamu. Tentang bagaimana bibirku akan melengkungkan sebuah senyuman ketika melihatmu bahagia, tentang bagaimana mataku akan menghangat dan menitikkan airnya ketika melihatmu sakit, melihatmu sedih fadhil. Kau mengajariku semuanya. Tentang bagaimana cinta itu tumbuh bersama persahabatan kita.

Kau pernah mengatakannya, bahwa kau juga merasakan hangat yang sama di hatimu. Sebelum ia datang, dan membuatmu perlahan menjauhiku. Aku hampir tak mengenalmu saat itu fadhil, kau benar-benar berubah. Kau tak lagi suka bercerita padaku, kau tak lagi suka mendengarkan ceritaku. Aku sedih fadhil, tapi aku tak pernah bisa membencimu. Tak akan pernah bisa.

Waktu itu, aku memaksakan diri untuk datang ke acara launching buku terbarumu, aku ingin melihat senyum kebahagiaanmu, dan berharap ada sedikit senyummu untukku. Tapi yang kuharap tak sedikitpun kudapatkan, kau berlalu dengannya, tanpa sedikitpun memandangku. Dan aku, hanya bisa tersenyum melihat sikapmu fadhil. Aku lantas berfikir, sahabatku telah hilang dari muka bumi, dan yang kulihat dalam acara launching buku itu bukanlah fadhilku. Fadhilku sudah tidak ada lagi, tidak ada lagi selain yang ada di hatiku. Yang tetap kusimpan di relung terdalam.

Aku menganggapmu tak ada seiring semakin eratnya kebersamaanmu dengannya, kalian sama-sama penulis dan kalian bekerja bersama. Aku mengerti fadhil, ketika kau lebih mencintainya. Bagaimana tidak? Setiap waktumu sering kau habiskan dengannya. Seperti yang orang jawa bilang, witing tresno jalaran soko kulino, dan mungkin itu yang kalian rasakan. Aku tak pernah ingin menyalahkanmu fadhil, yang salah adalah aku yang tak pernah ada untukmu dan mungkin hanya dia yang ada.

Aku hampir berputus asa ketika aku masih mencoba manguatkan diri untuk datang padamu dan menanyakan hal itu. Bertanya, apakah rasa di hatimu untukku benar-benar habis. Dan jawabanmu fadhil, benar-benar membuatku ingin mati saja daripada merasakan sakit itu.

“rasa itu telah habis, termakan waktu dan istikhoroh” katamu.

Waktu? Ternyata waktu yang kuhabiskan untuk menunggumu, kau habiskan untuk melupakan setiap kebersamaan kita. Bagaimana kau bisa lupa fadhil? Ketika kau memboncengku dengan sepeda tuamu, dan aku tertawa bahagia. Bagaimana kau bisa lupa ketika aku terjatuh lalu kau menggapai tanganku dan aku masih bisa tetap tersenyum di sampingmu. Bagaimana kau bisa lupa bahwa aku tak bisa tanpamu dan kita bahagia bila bersama?

Dan Istikhoroh, kau bawa Allah dalam jawabanmu dhil. Aku tak berani mendebat apa pun karena petunjuk Allah lah yang terbaik untukmu. Aku hanya bisa menangis, bukan karena menyesali jawabanmu, tapi karena aku ingin ngilu di hatiku sedikit berkurang. Ya, berkurang, karena aku tau ngilunya tak akan pernah habis sampai kapan pun.

Kau tau yang terjadi setelah itu? Aku hanya banyak diam pada siapa pun. berkata dan tersenyum secukupnya pada orang-orang yang mungkin menatapku dengan heran. Aku sering pergi-pergi tak tentu arah, aku melihat aliran sungai yang tenang, berharap mendapatkan ketenangan yang sama. Meski yang kudapat hanyalah mataku yang kembali menghangat karena sungai itu pun menampakkan wajahmu dan kenangan kita. Kenangan kita terlalu banyak dan aku tak mampu menghapusnya dhil, takkan pernah mampu.

Aku bahkan tidak berlajar padahal 2 pekan itu aku ujian, aku setengah tidak peduli apa yang akan terjadi. Aku menuliskan apa saja yang aku mau di lembar jawab soal ujianku. Aku benar-benar tak peduli akan nilai-nilaiku, karena aku tau tak akan lagi bisa membanggakannya di depanmu. Dan kamu pasti tau yang terjadi dil, nilaiku benar-benar hancur seiring hancurnya hatiku setelah kepergianmu.

Sampai suatu hari, aku bertemu dengannya dhil. Saat itu lagi-lagi aku duduk merenung melihat aliran sungai. Dan tau-tau dia duduk di sampingku, melihat ke arah yang sama, aliran sungai yang tenang itu. Dia hanya diam dan aku pun tak berani memulai pembicaraan. Hanya sesekali kami saling memandang dan bertukar senyum sekilas.

“Bagaimana hidupmu, adalah kau yang menentukan jalannya meski akhirnya Allah yang akan mengijinkan atau tidak. Ketika kau hanya terus seperti ini, maka selamanya hidupmu akan seperti ini. Kehilangan itu mengajarkan kita bahwa di dunia ini kita tidak mempunyai apa-apa, lalu apa yang perlu ditangisi karena pada akhirnya kita akan kehilangan semuanya?”
Hima, dia bernama Hima Fadhil.

Kata-katanya itu, menyadarkanku bahwa aku tak boleh terus seperti ini dhil. Aku harus bisa bangkit dan tersenyum. Aku pasti bisa menjalani hari-hariku dhil, harus bisa. Dia terus menyemangatiku sementara aku terus melihatmu semakin jauh meninggalkanku. Aku belajar menerima kenyataan ini dil. Aku tak pernah mengerti apa rahasia Allah untuk kita. Aku hanya mencoba menjalani alur ini, alur yang begitu perih kutapaki tapi aku terus mencobanya.

Lukaku telah sedikit mengering ketika tanganku kembali menerima surat darimu dhil. Surat yang telah kutunggu sejak lama, bahkan setelah kau mengucapkan jawaban itu. Surat yang berisi permintaan maafmu atas kejadian waktu itu, kejadian yang mebuatku kehilangan separuh dari nyawaku, kejadian tersakit yang pernah aku alami. Aku tak butuh maafmu karena tanpa kau meminta pun, aku akan selalu memaafkanmu fadhil. Dan cinta ini, tak akan pernah habis untukmu.

Tapi entah mengapa kini rasanya berbeda dhil, ada ragu, ada hambar yang perlahan menguar seiring tetesan air mataku. Aku takut terluka lagi fadhil, aku takut hatiku yang telah rapuh kembali tersakiti dan akhirnya nyawaku yang tinggal separuh akan habis. Dan aku pun juga tak bisa melupakan begitu saja, bahwa dia terus menyemangatiku ketika kau pergi meninggalkanku fadhil.

Saat ini, tak ada yang bisa kubalaskan untuk suratmu. Karena perasaan bimbang itu belum juga hilang. Karena aku masih terlalu khawatir bahwa senyum yang kau hadirkan beberapa hari ini, akan berubah lagi menjadi air mata pada nantinya.

Biarlah cinta ini aku simpan dalam diam, fadhilku. Sampai suatu hari nanti aku akan memberikannya pada seseorang yang menjabat tangan ayahku dan menyatakan menerima nikahku, lalu menjemputku dengan senyumnya, membawaku ke “gubug reot” penuh cinta, membentuk “madrasah keluarga sakinah” dan bahagia bersama sampai ke surga. Ah...masih saja aku mengingat mimpi kanak-kanak kita. 
~~~~~
Manusia terkadang berubah karena sesuatu hal. begitu juga denganmu, dan juga aku, kita. Tak banyak yang kita tau, apa yang akan terjadi nanti. kita pun tak pernah tau, apa rahasia Allah di balik hal-hal yang terjadi pada kita saat ini. 

Hhh...aku sulit untuk berucap. Maaf itu telah sepenuhnya kuberikan untukmu, bahkan sebelum kau meminta. Aku pun masih tetap berusaha bersikap sewajarnya padamu sebelum maaf itu datang,  memintamu sekedar bertemu ketika kau datang ke kotaku. Meski jawabanmu dingin dan membuatku kembali sakit. tapi aku tak pernah membencimu, tak pernah.

Bukan aku tak mau membuka hati, tapi aku takut tersakiti. Sebut saja aku pengecut yang kalah sebelum bertanding. Sebut saja begitu. Karena mungkin itu lah keadaanku saat ini. Aku pernah bermimpi, dan aku tak pernah lelah untuk mewujudkan mimpi itu, lalu ketika tiba-tiba mimpi itu hilang begitu saja...salahkah bila aku takut untuk bermimpi lagi? Salah, ya..mungkin jawabannya adalah salah tapi itulah yang kualami. Aku takut untuk bermimpi lagi menjadi satu-satunya ratu di hatimu.

15 tahun menjadi sahabatmu, kau tak pernah membuatku secemburu ini, fadhil. Kau selalu tak pernah menggubris wanita-wanita 'menyebalkan' yang ingin dekat denganmu. Kau selalu menjaga dirimu, hatimu, dan fikiranmu dari wanita lain. Tapi yang kau lakukan beberapa waktu lalu berbeda, berbeda sekali.

Bagaimana bisa kau menuliskan bagaimana kalian bertemu, bagaimana kalian tertawa bersama di bawah hujan, bagaimana ia menyentuh tanganmu, bagaimana kalian mulai merasakan hangat yang sama di hati kalian. ah...fadhiiilll...rasanya aku ingin berteriak bila mengingat itu semua. kau berubah, berubah fadhil.

kau yang kukenal bukanlah seperti itu. Kau yang mencintai suratur rahman sebagaimana aku mencintainya. Kau yang merasa bersalah ketika memboncengku saat kita telah sama-sama dewasa. kau yang tak pernah menyentuh walaupun ujung jilbabku. Kau yang aku merasa paling menjagaku meski kita merasakan hangat itu. Tapi kenapa ia membuatmu berubah? Kenapa engkau membiarkan ia membuatmu berubah? Kenapa kau biarkan ia merebut fadhilku?

Salahkah bila aku marah? Salah, tak seharusnya aku marah karena kau bukan milikku. Tapi aku sahabatmu yang selalu mencintaimu fadhil. Yang selalu mendoakanmu agar kau selalu diberi kebaikan, agar kau bahagia meski kita begitu jauh. kenapa kamu? Apa yang terjadi padamu hingga kau berubah? Apakah dunia yang akan kau jadikan alasan? Kau bukanlah yang seperti itu fadhil, aku mengenalmu, aku sangat mengenalmu.

Kini, aku bahagia kau kembali, tapi luka yang pernah kau beri masih tertanam kuat di hatiku, di fikiranku. dan aku pun tak tau, sudah selesai kah 'urusan' kalian? atau suatu hari nanti,  kau akan mengulangi kesalahan yang sama dengannya?  Hhhh...jahatnya aku yang sulit percaya padamu.

oceans apart day after day, and i slowly go insane. i hear your voice on the line, but it doesn't stop the pain....

Fadhil...tetaplah di sini, meyakinkanku, bahwa kau adalah sahabat terbaik untukku. Bahwa kau benar-benar kembali, bahwa kau tak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku akan selalu di sini, untuk kembali mendengar ceritamu, untuk mengobati lelahmu, untuk tertawa bersama denganmu. dan kisah kita, akan kembali kutulis dalam buku berwarna jingga itu. Buku yang hampir kubuang setelah mendengar jawabanmu, namun kuurungkan karena aku tau kau akan kembali. Dan kini kau kembali. Hhh...aku tak tau harus berkata apa.

Kau ingat potongan lagu yang pernah kau berikan padaku?
"i will be your strength..i will give you hope. keeping your faith when it's gone. the one you should call,was standing here all along..."
 Jangan pernah melupakannya lagi fadil,jangan pernah. Dan apa yang akan terjadi nanti, biarlah Ar Rahman yang menunjukkan jalanNya...
~~~~~
"katakan padaku, apakah rasa itu masih ada di hatimu. apakah hanya aku yang ada di fikiranmu siang dan malam. kalau ya terima kasih dan aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini lagi. tapi kalau tidak, aku akan mundur..." katamu..
Aku hanya tersenyum membacanya. semudah ini kau untuk mundur? baiklah, mundurlah.

Bukan sehari dua hari, bukan pula seminggu dua minggu aku menunggu diammu. diam tanpa ada kepastian apakah ada rasa itu, apakah hanya aku yang ada di benakmu? dan aku tak pernah mengancammu seperti ini, tak pernah mengancam untuk mundur atau untuk lainnya. Karena cinta itu letaknya di hati,fadhil. bukan di fikiran. dan kata-katamu itu terlalu egois untuk aku terima. Maka jika kau memang ingin pergi, pergilah saja.

Kamu sangat tau sifatku fadhil, sejak kita mulai menyadari rasa selain persahabatan itu,  kamu tau bahwa aku begitu pencemburu. Kau tau, sangat tau. meski kau selalu bersikap cuek menghadapi sikapku, aku tau kau mempedulikannya. Karena aku pun tau sifatmu.

Lalu kebodohan apa yang ada di fikiranmu sehingga kamu melakukan kesalahan terfatal itu? Ah...aku sudah lelah marah-marah karena hal ini. dan aku hampir tak peduli, apa yang dulu telah kau lakukan. Aku lelah meneteskan air mata setiap mengingatnya. Aku lelah merasakan ngilu setiap membaca lagi tulisan-tulisanmu tentangnya. Tapi aku pun bodoh, buat apa aku membacanya? Untuk merasakan ngilu itu lagi?

Entahlah fadhil. Aku tak mengerti apa yang aku inginkan. Kadang merasa ingin begitu dekat denganmu, tapi kadang rasa ngilu itu selalu menggangguku. Maka jika kamu memang ingin pergi, aku tak akan melarangmu. Pergilah jika itu yang kau inginkan. Pergilah jika menunggu lukaku karenamu sembuh terlalu menyulitkanmu. Pergilah fadil, pergilah.

Jika suatu saat nanti aku menyadari perasaanku yang sebenanrnya bahwa hanya kau lah pemilik hati ini dan hatimu telah terkunci rapat untukku, aku tak akan menyesalinya. Karena Allah selalu punya rencana atas apa yang terjadi pada kita. Selalu.
~~~~~
Berkali-kali aku melihat jam tanganku, sudah 1 jam aku menunggu di sini, di peron Stasiun  Yogyakarta. Kau bilang akan datang pukul 8 pagi, dan sekarang sudah pukul 9 tapi kau belum juga datang. Aku mulai gelisah, kesal karena lama menunggu dan juga ada rasa khawatir, apa terjadi sesuatu dengan kereta yang kau tumpangi? Atau kau lupa bahwa tanggal ini kau akan datang? Ah apa aku yang bodoh karena terlalu mengharapkanmu datang?

Kutatap rel kereta yang berjajar di sana, dan ingatanku kembali ke beberapa masa lalu, saat pertama kita bertemu di samping rel kereta. 

"ini bonekamu..."

Kau mengulurkan bonekaku yang terjatuh di samping rel, dengan senyum dan mata binar yang kau miliki. Aku suka melihatnya, aku pun mengambil bonekaku dengan tetap terus menatap matamu. Aku fikir, itu pertama kali aku merasa bahwa aku menyukaimu, mata binarmu itu.

Semenjak itu kita jadi berteman akrab. Kau sering mengajakku main di samping rel kereta, sambil sesekali melihat kereta yang melintas. Dan aku sangat menyukainya, bahkan sampai saat ini pun aku masih suka melihat kereta yang melintas. Aku akan menunggu palang kereta itu ditutup untuk melihat kereta yang melintas, entah kenapa aku menyukainya, mungkin karena itu tempat bermain kita, Fadhil.

"aku suka sekali naik kereta" ucapku dengan penuh bahagia padamu.

"karena memang sejak kecil aku sering sekali diajak naik kereta oleh ayah dan ibuku, dan tempat kita bertemu pun, di tempat pemberhentian kereta kan Fadil." lanjutku.

"kamu suka naik kereta?" tanyamu.

"iya Fadhil aku suka, sangat suka"  jawabku dengan penuh semangat.

"kalau begitu besok aku akan menjadi sopir kereta supaya aku selalu bisa mengajakmu naik kereta, ya?" 

"iya iya iya Fadhil, kamu jadilah masinis supaya kita bisa berkeliling dunia naik kereta ya" aku semakin bersemangat.

"sopir kereta itu namanya masinis Fadhil"

"iya aku tau, aku hanya mengetesmu saja apa kamu tau nama sopir kereta atau tidak"

"ah kamu pasti hanya beralasan saja kan, sebenarnya kamu tidak tau kan"

"aku tauuu..."

Dan wajahmu berubah masam. Kalau sudah seperti itu aku tidak mau melanjutkan perdebatan denganmu lagi karena kau pasti akan marah, sejauh yang kuingat dalam pertemanan kita memang aku yang banyak mengalah. Kamu ini terlalu gengsian dan tidak mau mengakui kesalahanmu sendiri. Bahkan tak jarang aku yang terpaksa mengakui kesalahan yang kamu lakukan. Hmmm...kamu memang unik.

tuuuunnn...tuuuuunnn....

Ah, suara kereta itu membuyarkan lamunanku tentang masa 15 tahun lalu.

Masinis, kau bilang akan menjadi masinis agar bisa mengajakku keliling dunia naik kereta. Dan sekarang kau membuktikannya, kau menekuni bidang perkeretaan seperti mimpi kecil kita. Aku tersenyum simpul.

Kulihat lagi jam tanganku, 30 menit sudah aku melamun. Dan kau belum juga datang. Kemana kamu Fadhil? Apa kamu benar-benar lupa kalau tanggal ini pukul 8 kita berjanji untuk bertemu di Stasiun Yogyakarta?

Aku pun beranjak, mulanya aku hendak pulang saja tapi kemudian aku berfikir untuk bertanya ke bagian informasi apakah kereta yang biasa kau tumpangi memang terlambat atau kau punya alasan lain. Tapi jawaban informan benar-benar membuatku semakin kecewa karena ternyata kereta yang biasa kau tumpangi sudah datang sejak pukul 8 tadi. Ternyata kau benar-benar tidak datang Fadhil, kau lupa akan janji kita.

Aku kembali duduk di peron stasiun, gerimis. Sama seperti hatiku yang gerimis. Aku benar-benar mengharapkanmu datang Fadhil. Kurasakan mataku menghangat, lalu bulir-bulir air itu pun meleleh ke pipiku. Kutengadahkan tanganku untuk merasakan butir-butir air yang jatuh dari langit, berharap sejuknya bisa kurasakan sampai ke hatiku.

"Senja" kudengar suara memanggil namaku. Hanya kau yang memanggilku Senja, hanya kau.

Aku berbalik dan mencari pemilik suara yang memanggilku. Kulihat sebuah sosok tegap dengan tinggi sedang. Memakai jaket berwarna biru dan celana panjang hitam. Kau kah itu Fadhil? Atau aku hanya berhalusinasi?
~~~~~
Aku tak bermimpi, yang di hadapanku adalah kau....benar-benar kau... Kau tersenyum lalu berjalan begitu saja, aku mengikutimu dengan masih tak percaya bahwa itu adalah kau. Kau benar-benar datang, sebagaimana janjimu untuk datang di suatu hari yang menjadi milikku, hari yang kau akan melewatinya bersamaku.

“aku mau ke pantai....” katamu

Lalu kau pun membawaku ke sana, tempat yang tlah lama tidak kita kunjungi bersama. Jutaan pasir itu menjadi saksi, bahwa kau di sini bersamaku, bersama ombak dan angin. Melihat tawamu adalah tetesan-tetessan embun pagi di hatiku, begitu sejuk, begitu menyenangkan. Aku ingin selalu bisa melihat tawa itu, melihat senyum itu.

“heh...jangan nglamun aja,sini...masa aku main air sendiri sih...”

Lalu kita pun tertawa bersama, berkejaran dengan ombak, bercerita dengan pasir, menikmati hembusan angin pantai yang begitu khas, berteduh di bawah kapal yang tak berlayar, wajah yang selama ini kusimpan di relung terdalam, kini  begitu dekat denganku, aku mengulum senyum.
“udah gede masih makannya coklat aja”

Aku nyengir, dan terus menghabiskan coklatku, entah kenapa aku tak bisa banyak berkata, hanya sesekali tersenyum melihatmu, masih berfikir apakah ini mimpi atau nyata.
“pengen naik perahu...”

Akhirnya aku bicara juga, dan tak lama kemudian kita sudah berada di atas perahu, bersiap mengelilingi sungai kecil ini, sungai yang juga akan menjadi saksi, bahwa aku benar-benar bahagia menjalani hari bersamamu. Sekali lagi kulihat wajahmu, wajah itu tak banyak berubah sejak beberapa tahun lalu, tetap sama, sebagaimana aku pun tetap menyimpannya hingga hari ini.

“setelah ini mau kemana...?” tanyamu

“mmm...ada tempat yang bagus, ayuk ke sana”

Tempat ini dulunya adalah kraton, bentuk bangunannya yang unik, kolam tempat pemandian yang khas milik raja dan permaisurinya, masjid bawah tanah, dan tampat tertinggi di bangunan ini, yang dulu digunakan raja untuk mengawasi aktifitas rakyatnya.

Kita beristirahat sebentar di sana, menikmati semilir angin dari tempat tinggi ini.

“ah tempatnya kok kurang terawat ya? mending tak jadiin rumahku”

“iya ya...jadi istana raja Fadhil”

“iya...bersama permaisuri ratu Senja”

Lagi-lagi aku mengulum senyum, entah pipiku berubah merah atau tidak, tapi aku malu, benar-benar malu. Mungkin kau menyadarinya. Kau keluarkan sesuatu dari tasmu.

“taraaaa.....ini....”

Waw...boneka biru yang besar dan lucuuuuu sekali, aku baru sadar kenapa beberapa hari lalu kau bertanya padaku apa yang benar-benar sedang aku inginkan sekarang, dengan reflek aku menjawab boneka yang bisa dipeluk kalau bobok. Astaga Fadhil, kejutanmu hari ini begitu banyak. Rasanya aku ingin meloncat kegirangan saat itu, tapi aku malu, aku memilih mengulum senyum dan menundukkan wajahku yang mungkin telah benar-benar berubah warnanya.

“sudah setengah 3, ayo jalan-jalan sebentar”

Di tempat penjual pernak-pernik, kita terhenti pada sepasang kalung yang liontinnya adalah 1 hati. Satu kau simpan, satunya lagi kusimpan. Hati ini akan utuh hanya jika dipertemukan, tapi jika tidak, ia hanya akan menjadi separuh yang terluka. Aku berharap suatu hari nanti, kita akan mempertemukannnya menjadi satu, Fadhil. Dalam suatu ikatan abadi, yang takkan pernah tergoyahkan lagi oleh apa pun.

“sudah hampir setengah 4, kita harus ke stasiun sekarang”

Hatiku luka, tapi aku tak bisa melawan waktu. Di stasiun, aku hanya banyak diam, merutuki waktu yang begitu cepat berlalu. Aku masih ingin kau di sini. Aku tak ingin kau pergi lagi. Aku berharap kereta tak cepat datang, tapi harapanku takkan pernah terkabulkan, karena kereta itu pun datang, bersama gerimis yang perlahan turun dari langit dan hatiku.

 Kucoba sekuat tenaga menahan bulir yang hendak jatuh dari  mataku, memaksakan senyuman ketika kau melambaikan tangan sebelum naik ke kereta. Tapi tetap ia menetes, melihatmu hilang bersama berlalunya kereta. Dan hujan itu pun turun, mengiringi kepulanganku seperti waktu lalu, menjalani hari jauh darimu....lagi.
~~~~~
Kutatap sekeliling kamarku, putih. Kulihat spreiku, pun putih. Sepertinya di luar hujan, jendela itu penuh dengan embun hujan. Aku mencari-cari boneka biruku tapi tak segera menemukannya. Hah apa-apaan ini, kenapa di tanganku ada infus? Dan aku sangat kaget melihat ada laki-laki di kamarku, siapa? aku berfikir. Dia menundukkan kepalanya, sepertinya ketiduran. Ah tapi aku mengenalnya, itu Hima. Sedang apa dia di sini? Aku semakin merasa aneh.

Tak lama kemudian dia seperti menyadari kalau aku terbangun. Dia mengusap wajahnya lalu segera mendatangiku.

"sudah membaik?" tanyanya.

"membaik apanya? kenapa kamar saya dicat putih semua?dan kenapa dokter ada di sini?"

"saya sedang tidak bertugas jadi jangan panggil dokter doonnkk..." dia malah menggoda saya lalu tersenyum.

"kamu di rumah sakit via...beberapa hari kamu koma, seseorang menemukanmu pingsan di tengah jalan lalu membawamu ke sini, kamu tau? mamamu panik sekali. kenapa? sakit kepalamu kambuh lagi?" lanjutnya.

Aku diam. Mencoba mengingat-ingat kejadian terakhir yang terjadi padaku, tapi aku benar-benar tak ingat. Yang kuingat hanya aku mengantarkan Fadhil. Ya, itu kejadian terakhir yang kuingat.

"Via...bahkan saat kamu nggak sadar pun, kamu memanggil-manggil nama sahabat kecilmu itu. Aku cemburu lho." lagi-lagi dia tersenyum.

"udahlah dok..kenapa membahas ini? mana mama?"

"mamamu sedang mengurus pasien, sebentar lagi mungkin ke sini."

Dan tak lama kemudian memang mama datang, dengan wajah sendunya. Aku tak suka melihat mama berwajah seperti itu, aku ingin melihat senyum mama.

"Via..." mama meneteskan air matanya.

"mama jangan nangis donk...via nggak papa ma..." aku berusaha tersenyum di hadapannya.

"nggak papa bagaimana?kamu koma 3 hari sayang, mama khawatir sekali."

Aku menghela nafas panjang, menatap dokter Hima yang tetap di tempatnya menatapku dan mama.

"kenapa nggak pernah cerita kalau sakitmu kambuh lagi?" mama melanjutkan.

"Via nggak mau mengeluh ma, ada yang nggak suka kalau via banyak mengeluh. Via ingin menjadi wanita yang kuat." aku tersenyum lagi.

"siapa? Fadhil?" mama menebak. Aku hanya menjawab pertanyaan mama dengan senyuman.

"sudahlah Via...mengapa harus selalu mencintai orang yang bahkan tak mempedulikanmu sama sekali? kenapa tidak belajar membuka hati untuk orang lain yang selalu menunjukkan cintanya untukmu?" mama kembali menangis.

Kuusap pipinya, aku tersenyum.

"bahkan mama selalu mencintai papa meskipun papa berkali menyakiti mama kan, lalu kenapa Via? mmm..." aku sulit melanjutkan kata-kataku, karena dadaku terasa sesak, aku harus bisa menahannya, aku tidak boleh menangis di hadapan mama.
"udah ya ma...Via nggak mau membahas ini" aku lagi-lagi menghela nafas panjang.

"nggak Via...ini harus dibahas. Kamu akan menikah dengan Hima"

Aku tersentak. Kenapa mama tiba-tiba seperti ini? Sejak dulu mama tak pernah mengaturku dalam hal mencintai seseorang. Tapi kenapa?
Mama meninggalkan ruanganku. Tetap dengan tangisnya. Aku benar-benar bukan anak yang baik untuknya, aku bahkan tak bisa menghentikan air matanya.

"Sudah jangan difikirkan perkataan mamamu ya..." Hima berusaha menenangkanku, aku hanya diam.

"Mamamu terlalu menyayangi dan mengkhawatirkanmu, makanya dia seperti itu. " dia tersenyum.

"Tenanglah...aku tak akan menikahi wanita yang tidak mencintaiku, tapi aku akan membuatmu mencintaiku Via." Ia kembali tersenyum.

Aku hanya diam, aku tidak tau harus mengatakan apalagi. Tidak ada yang bisa aku katakan.

"Dokter...boleh saya minta tolong?" 

"Tentu Via...apa yang bisa aku bantu?"

"Tolong ambilkan boneka biru saya, saya ingin memeluknya."

"Boneka biru yang mana Via? kau tak punya boneka biru."

"Yang besar dok...yang diberikan Fadhil kepada saya kemaren."

"Kamu koma sejak 3 hari yang lalu, bagaimana mungkin kemaren dia memberikan boneka itu padamu?"

Aku mengusap leherku, kalung itu, tidak ada. Apa? Tidak ada? Ternyata semuanya memang tak pernah nyata. Aku menghela nafas panjang sekali lagi, lalu terlelap.