Rabu, 21 September 2011

cerita sahabat

Aku masih ingat ketika pertama kali aku melihatmu di kelas bahasa inggris. Kau hanya tersenyum, sekilas. Lalu keesokan harinya, hal yang sama terjadi lagi. Lagi-lagi kau hanya tersenyum, namun kali ini sambil menatapku agak lama. Aku tidak tau, kenapa rasanya senang sekali melihatmu, senang melihat kau tersenyum, meski hanya sekilas.

Suatu hari entah hari keberapa kita dalam satu kelas bahasa inggris, aku agak terkejut ketika kau melangkah mendatangiku, namun kucoba untuk tetap memberikan sebuah senyuman. Kulihat wajahmu begitu ceria, di depanku kau tersenyum dan mengulurkan tangan.

“qonita...” katamu.

“khaira...” kujabat tanganmu. Dan jabat tangan itulah awal kisah kita,qoni...

Hari-hari berikutnya kita selalu satu kelas dalam mata kuliah apa pun. Mulanya kita duduk berjauhan, hanya saling bertukar senyum dan sesekali bertegur sapa atau sekedar menanyakan tugas kuliah. Biasa. Lalu lama kelamaan, entah apa yang membuat aku begitu nyaman berinteraksi denganmu. Kita sering duduk bersebelahan. Saling bercerita. Terkadang,bercanda.

Aku sempat bingung ketika kau menanyaiku.

“islam apa?”

Dahiku mendadak berkerut, aku berfikir, apa maksudmu islam apa? Kurasa, kau mengerti kalau aku bingung dan kau pun melanjutkan pertanyaanmu.

“tarbiyah?salafy?HTI?”

Mendadak aku tersenyum lebar, jadi itu maksudmu. Aku hanya menjawab pertanyaanmu dengan senyuman. Tapi ternyata kau masih juga bersemangat menanyaiku.

“biar kutebak, pasti salafy kan” tampangmu sok yakin.

“suka ngaji dimana e?” lagi-lagi kau bertanya karena aku masih saja hanya tersenyum dan diam.

“aku nggak pernah ngaji, aku tu orang bodo. Aku islam ya islam aja,nggak gitu-gituan” jawabku mengerlingkan mata ke arahmu.

“huuu...bo’ong,dari tampangmu kok aku nggak percaya ya”

Lalu kita pun tertawa bersama. Tawa itu,rasanya begitu berbeda qoni. Sebelumnya,aku tak pernah sebahagia itu merasakan tawa bersama makhluk lainnya. Dan itu lah awal perjuangan kita, mencari tempat ngaji bersama, kemana pun. kita selalu saling menyemangati untuk haus akan ilmu, selalu merasa kurang dan kurang, dan selalu ingin mencari lagi.

Aku juga masih ingat, waktu itu, kita membeli nasi bungkus dan memakannya bersama di kosku. Kau sudah memulai makan dan aku masih sibuk merapikan bukuku. Tiba-tiba saja

“neyh...aaaa’...” kau menyuapiku.

Aku memakan makanan dari suapanmu. Kau tau qoni? Itu pertama kali aku merasakan bahwa aku benar-benar mencintaimu. Rasanya bahagia sekali makan dari suapanmu. Aku bersyukur, karena Allah menghadiahiku sahabat sepertimu. Di tengah kesendirian yang selama ini aku rasakan, hadiah Allah kali ini bagitu berharga kurasakan.

Dan setelah itu, persahabatan kita semakin dekat. Bahkan ada orang bilang,kalau kita ini kembar. Kemana-mana selalu berdua, selalu, kau dan aku. Tapi setiap ada orang yang bilang kita kembar, aku selalu menjawab

“apa?kembar?ya nggak lah..dia kan tembem, aku kan enggak”

Dan sudah dipastikan kau akan langsung mencubitku. Cubitanmu sakit qoni, tapi aku tak pernah marah, karena aku tau, cubitanmu itu tanda sayangmu padaku. Aku hanya akan tersenyum dan pura-pura tidak merasakan sakit, agar kau dapat mencubitku sepuasmu. Lalu lama-lama kau kesal sendiri karena aku masih saja bilang bahwa cubitanmu itu tidak terasa. Aku senang mengerjaimu.

Suatu hari, kau mengantarku membeli sebuah sepeda. Karena waktu itu jasa antar toko sudah tidak ada karena hari sudah sore, aku pun memutuskan menaikinya saja sampai kos.

“kamu yakin mau naikin sampai kos”? kamu bengong dan aku mengangguk pasti.

“tapi ini jauh banget khaira...”

“mau gimana lagi???” jawabku.

“ya udah nanti kalo capek gantian yah...” katamu

Aku hanya tersenyum dan langsung menaiki sepeda baruku pilihanmu. Ya,itu pilihanmu, katamu yang bagus warna biru. Baiklah, pilihanmu pilihanku juga.

Sepanjang jalan kau sering sekali bertanya apa mau digantiin naik sepeda dan aku mengendarai motormu. tapi aku selalu bilang tidak, aku nggak mau kamu capek qoni. Aku yakin kuat menaiki sepeda itu sampai kos, asal kau ada di sampingku. Dan aku membuktikannya, aku kuat.

“eh..besok pagi beli soto yuk,boncengan naik sepeda barumu” katamu ketika sampai kosku. Aku pun langsung mengiyakan. Dan kulihat wajahmu begitu berbinar bahagia, aku berfikir terkadang kau begitu kekanakan, tapi lucu.

Dan keesokan harinya aku menjemputmu dengan sepeda baru kita, kau tau kan yang terjadi, aku tidak kuat memboncengmu

“kamu sih tembem-tembem...keberatan kan aku jadinya...hahaha...”

Dan kau balas ejekanku dengan cubitanmu, dan itu semakin membuatku tertawa qoni, entah kenapa aku suka sekali menyebutmu tembem, karena memang kamu itu tembem.

Hhh...qoni...

suatu hari aku mendiamkanmu, hanya karena kau meminta es krim sebagai imbalan ketika aku meminta kau mengantarku. Waktu itu aku begitu marah, karena aku sedang kesal qoni, kesal dengan diriku sendiri yang tidak bisa bersahabat dengan jalan hidupku sendiri. Aku marah-marah padamu. Aku kirimi kau sms

aq itu org mskin,aq ga bsa trz2an mbeli es krim kaya kamu.km tw?aq cm pnya ibu.ayah ga prnah mngrusiq.kalo prshbtanmu prlu imbalan,cri aja shbat yg lainnya

kutulis semua dengan air mata qoni. Setelah itu aku begitu merasa khawatir, aku khawatir kau pergi qoni. Aku yakin sekali kau pasti marah padaku dan akan pergi meninggalkanku. Tapi apa yang terjadi? Tidak berapa lama setelah sms itu kukirim, kau datang membawakan aku es krim.

“kenapa tidak pernah cerita? Aku selalu melihatmu bahagia, aku tidak tau kalau kau menyimpan luka. Aku Cuma bercanda ketika meminta es krim padamu, persahabatanku tidak meminta imbalan.” Matamu berkaca.

Aku langsung memelukmu qoni, menangis di bahumu. Ingin kutumpahkan semua sesak yang kurasa. Ingin kuceritakan semuanya. Aku hanya tidak ingin membebani siapa pun qoni, termasuk kau. Lalu keceritakan semua padamu, tentang lukaku. Bahwa di dunia ini aku hanya ingin senyum ibu. Karena dia lah malaikat yang membesarkanku qoni.

Tak ada yang berubah dengan persahabatan kita setelah itu qoni. Yang ada hanyalah kedekatan yang semakin lama semakin aku rasakan. Bahwa tawa kebersamaan kita, membuat aku merasa semakin menyayangimu.

Tapi setelah lama kita bersama,ada yang mulai berubah setelah kita mulai sibuk dengan dunia kita sendiri qoni. Kita jarang menghabiskan waktu bersama. Kadang aku merasa kecewa ketika mengajakmu pergi tapi kau sering tidak bisa karena ada acara lainnya. Dan aku pun memilih sendiri. Aku kembali merasakan itu qoni, kesendirian yang selalu saja menemaniku kemana pun aku pergi. Aku sering pergi untuk menyendiri. Hanya sekedar melihat aliran sungai, duduk di pinggir jalan melihat kendaraan berlalu lalang. Dan kufikir, mungkin ini lah duniaku yang sebenarnya.

Sampai suatu hari, ibuku sakit qoni. Aku harus merawatnya. Aku harus selalu menjaga senyumnya. Dan senyumnya ada padanya qoni, yang kau tidak suka. Aku harus memilih qoni. Dan aku yakin kau tau mengapa aku memilih ibu, malaikatku.

Dia malaikatku qoni. Aku benar-benar harus pergi meninggalkanmu dan kembali ke duniaku. Dunia kita berbeda qoni.
Selamanya, aku tak akan bisa menjadi wanita sebaik engkau, kau terlalu sempurna qoni.

Maka kini aku harus pergi, bukan karena tak ada lagi rasa cinta di hati ini untukmu. Bukan karena aku tidak nyaman bersamamu. Bukan karena aku tak ingin lagi berjuang bersama. Tapi karena wanita sebaik engkau, hanya pantas bersahabat dengan ia yang baik juga qoni. Dan aku,biarlah aku berjuang dengan caraku sendiri. Biarlah aku berusaha bahagia dengan duniaku ini. Bahagia dengan senyum ibu. Dan coretan ini,untukmu qoni...

Aku mengenalmu lewat jiwa,
Bukan lewat mata...
Aku menjadikanmu sahabat lewat hati,
Bukan sekedar basa basi...
Ku tak tau,
Seperti apa aku dalam pandanganmu...
Selayak apa aku dalam ukhuwahmu,,,
Tapi yang aku tau...
Meski dengan keterbatasanku,,,
Berbalut kekuranganku...
Aku menulis namamu di hatiku,,,
Sejak awal,
Dan...
Takkan pernah terganti,,,
Apalagi terhapus...
Sebagai sahabat di hatiku,,,
Kemaren, hari ini, ataupun nanti...
Selamanya,,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar