Selasa, 26 April 2016

Cinta dan Pengabdianku

Setelah sekian lama tidak membuka blog, hari ini saya putuskan bersih-bersih sarang laba-laba yang ada dimana-dimana. Mumpung lagi spaneng dengan kerjaan, butuh hiburan, butuh ngluarin uneg-uneg. Mending kita theng theng crit di sini, thenguk-thenguk crito :D

Baca-baca tulisan jaman dulu yang alay bin nggak penting banget, hihihi... tapi biarlah, biarlah tulisan itu tetap ada karena semua itu adalah proses seorang Adelia menuju masa dewasanya. Meski mungkin saat ini Adelia belum sempurna dewasa, biarlah ia tetap berproses menuju ke sana.

Hari ini, 3 tahun lebih sekian hari Adelia menjadi seorang istri. Ada beberapa yang bertanya, bagaimana menciptakan pernikahan bahagia.
Pernikahan bahagia, siapa yang tidak menginginkan pernikahan yang bahagia. Semua pasti menginginkannya bukan? Tapi terkadang, seseorang tidak melakukan usaha sebesar keinginannya.

Kami sendiri, kami berusaha semampu yang kami bisa.

"Kamu sepertinya nggak pernah marahan ya dengan suamimu?"

Siapa sih yang nggak pernah marahan sama suaminya? Sama orang tua / adik / kakak yang sudah sejak lahir tinggal bersama saja, pasti kadang muncul rasa jengkel atau kurang nyaman. Apalagi dengan suami / istri, seseorang yang baru kita jumpai di masa dewasa kita, tentu pernah.

Bedanya adalah, kami berusaha seprofesional mungkin. Sebagaimana kita bekerja di luar rumah, tentu bekerja di dalam rumah membutuhkan keprofesionalan yang sama, bahkan lebih banyak. Bagaimana kita berusaha menghadapi masalah yang silih berganti dengan tetap bergandeng tangan salaing menguatkan.

Saya pernah berkata pada suami, bahwa apa pun yang terjadi, kita tak boleh saling melepaskan tangan. Karena tanpa bersama, kita lemah.

Suamiku, cinta dan penghargaanku. Aku selalu berusaha merendahkan diri di hadapannya. Bahwa aku adalah makhluk lemah yang membutuhkan perlindungannya. Aku selalu berusaha meninggikannya agar ia tau bahwa aku menghormatinya.

Dan yang terjadi adalah, dia memberikan begitu banyak cinta. Cinta dan ketulusan yang membuatku ingin lebih dan lebih menghormatinya lagi. Berbakti lebih banyak lagi. Berkorban lebih banyak lagi.
Tak ada yang diinginkan wanita selain perhatian dan kasih sayang.

Ketika kita telah mendapatkan itu semua, tugas kita tinggallah mempertahankan.
Dan mempertahankan tentulah lebih sulit. Tapi kami selalu berusaha, untuk saling mengingatkan.
Bahwa tujuan kami menikah adalah surga. Maka kami harus saling menguatkan untuk mendapatkan surga. Dan surga bukanlah hal yang murah dan mudah. Maka meski bersusah payah, kami tak boleh berhenti berusaha.

hmmm.... dari ngomongin bersihin sarang laba-laba, proses menuju dewasa, sampai menciptakan pernikahan bahagia.
sudah dulu, nyatanya menulis ini disambi memikirkan pelaksanaan ujian dan akreditasi.

Semoga kita senantiasa menjadi muslim yang kuat. Muslim yang bermanfaat. Muslim yang bisa dijadikan teladan bagi sesamanya. Dan tentunya, muslim yang disayangi Allah swt dan kelak bisa berkumpul di surganya, aamiin.

Tulisan campur-campur, sekian.