aku mencintai suamiku karena sifatnya yang apa adanya..
aku begitu menyukai perasaan aman dan tentram...
yang muncul di hati ketika bersanding dengannya...
2 tahun dalam masa pernikahan
harus ku akui bahwa mulai timbul rasa bosan dan lelah dengan kehidupan berumah tangga dengannya...
dan
alasan-alasan untuk mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan..,
aku seorang wanita yang berjiwa sentimentil dan benar-benar sensitive serta berperasaan halus,
aku merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan belaian...
tapi semua itu tidak lagi kuperoleh
suamiku kini jauh berbeda dari apa yang aku harapkan dulu
rasa sensitivenya kurang,
dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana romantis dalam pernikahan kami...
telah memusnahkan semua harapan tentang kehidupan yang ideal...
suatu hari aku beranikan diri untuk menyatakan keinginan untuk bercerai
"mengapa?" dia bertanya terkejut
"aku lelah,kau tidak pernah memberikan cinta yang aku inginkan"
dia terdiam merenung sepanjang malam di depan komputernya
nampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu,padahal tidak
kekecewaan aku semakin bertambah
seorang laki-laki yang tidak bisa mengekspresikan perasaannya
apalagi yang aku harapkan dari dirinya?
dan akhirnya...
dia bertanya "apa yang dapat aku lakukan untuk mengubah pikiranmu?"
aku menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan perlahan
"aku ada 1 pertanyaan,jika kau dapat menemukan jawabannya,aku akan mengubah pikiranku :
seandainya aku menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung
dan kita berdua tahu jika kau memanjat gunung itu kau akan mati
apakah kau akan melakukannya untukku?"
dia pun termenung dan berkata,
"aku akan memberikan jawabannya besok pagi"
hatiku langsung gundah mendengar reaksinya
keesokan paginya,suamiku tidak ada di rumah,dan aku menemukan selembar kertas dengan coretan tangannya di bawah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan...
"sayangku...aku tidak akan mengambilkan bunga itu untukmu...
tetapi...izinkan aku untuk menjelaskan alasannya..."
kalimat pertama ini menghancurkan hatiku,aku lantas membacanya
"sayang...kau biasa menghadapi komputer dan selalu menghadapi masalah dengan program di dalamnya dan akhirnya menangis di depan monitor,aku harus memberikan jari-jariku supaya dapat memantumu dan memperbaiki programnya...
kau selalu lupa membawa kunci ketika keluar rumah,dan aku harus memberikan kakiku untuk menendang pintu dan membuka pintu untukmu ketika pulang...
kamu senang jalan-jalan ke luar kota tetapi sering tersesat di tempat-tempat yang baru kamu kunjungi,aku harus menunggu di rumah agar dapat memberikan mataku untuk menjelaskan jalan melalui peta...
kamu selalu kelelahan pada waktu pergi dengan teman baikmu setiap bulan,dan aku harus memberikan tanganku untuk memijit kakimu yang terkilir...
kamu seseorang yang senang diam di rumah,dan aku selalu khawatir kamu akan menjadi 'aneh'
dan aku harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah
atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami...
kamu selalu menatap komputermu,membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu,,,
aku harus menjaga mataku agar ketika kita tua nanti,aku masih bisa membantumu memotong kuku,dan mencabuti ubanmu...
tangan akan menggenggam tanganmu,membimbingmu menyusuri pantai
menikmati matahari pagi dan pasir yang indah
menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah
seperti cantiknya wajahmu...
tetapi sayangku...
aku tidak akan mengambil bunga itu untuk mati
karena aku tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku
sayangku...aku tahu...
di luar sana banyak orang yang mampu mencintaimu lebih dari aku mencintaimu..
untuk itu sayangku,,,
jika semua yang kuberikan dengan tanganku,
kakiku,
mataku,
tidak cukup bagimu...
aku tidak dapat menahan dirimu untuk mencari tangan,kaki,dan mata lain yang dapat membahagiakanmu..."
air mataku jatuh di atas tulisan dan membuat tintanya menjadi kabur
tetapi aku tetap berusaha untuk membaca selanjutnya
"dan sekarang sayangku...
kamu telah selesai mebaca jawabanku
jika kamu berpuas hati dengan semua jawaban ini dan tetap menginginkanku tinggal di rumah ini
tolong bukakan pintu rumah kita
aku sekarang di luar pintu menunggu jawabanmu
jika kamu tidak puas sayangku...
biarkan aku masuk untuk mengambil barang-barangku
dan aku tidak akan menyusahkan hidupmu lagi
percayalah...kebahagiaanku adalah kau bahagia..."
aku segera berlari membuka pintu dan...
melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah sendu
sambil tangan memegang susu dan roti kesukaanku..
oh Tuhan...baru aku tahu...
tidak ada orang lain yang lebih mencintaiku lebih dari dia mencintaiku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar