Aku benar-benar tak mampu menuliskan setiap kenangan yang kita lewati bersama. Terlalu banyak kau lukis senyum di wajahku, terlalu banyak bahagia kau selipkan di dalam hari-hariku. Terlalu banyak kau buat aku bermimpi menjadi seorang putri, dengan seorang pangeran di sampingku yang selalu menjagaku, selalu ada setiap aku membuka mata. Dan pangeranku adalah....kamu.
Aku tak mampu berkata apa pun ketika kau berkata “aku harus pergi,,,aisy...”
Hanya bulir-bulir yang kurasakan menetes perlahan dari mataku, terus menetes...sampai aku tak tau berapa banyak bulir-bulir itu terkumpul. Aku masih tetap diam, menatap langit yang tak memunculkan gambar apa pun di sana, kosong...yang kurasakan hanya kosong.
Aku tak mengerti perasaan apa ini, perasaan yang menimbulkan ngilu di hatiku, sakit...namun aku masih tak bisa berkata apa pun padamu. Aku masih menatapmu dengan kosong di mataku, tak mengerti kenapa kau berlaku seperti ini. Bulir-bulir itu, kubiarkan tetap menetes. Aku tak ingin menghapusnya, agar kau tau, bahwa aku sakit.
“maafkan aku...tapi aku tak bisa tetap di sini”
Bulir itu semakin deras kurasakan tetesannya, hingga pandanganku kabur, hingga aku lupa bila aku masih berpijak di bumi, aku lupa bila ada kau di hadapanku. Tak ada kata yang ingin ku ucapkan,tak ada...hanya ingin membiarkan bulir ini tetap menetes, hingga ngilu di hatiku hilang, meski aku tau, ia tak akan pernah hilang.
“kenapa diam...?”
Suaramu menyadarkanku, aku tergagap lalu mencoba memaksakan sebuah senyuman untukmu, karena kau bilang hanya itu yang kau mau dariku,senyumku. Aku tersenyum sementara bulir itu tetap saja tak mau berhenti menetes, aku tak harus bagaimana, aku ingin menghentikannya tapi aku tak bisa, aku tak mampu menghentikannya...
Imaginasiku kemudian melukiskan sebuah bayangan, bayangan akan hidupku tanpamu, pasti akan begitu sulit...
Siapa yang akan melukiskan senyum di wajah ini? Siapa yang akan menyelipkan bahagia di dalam hari-hariku nanti? Tidakkah kau juga memikirkannya?
Hhh...fikiranku ini lagi-lagi membuat bulir-bulir itu semakin deras menetes...
“jangan nangis terus....”
Apa? Apa yang kau katakan? Mengapa kau berkata seperti itu? Tidakkah kau berfikir sedikit saja tentang sakit yang kurasakan ini? Atau kau memang sudah tak mau memikirkannya lagi? Kau tak peduli lagi?
“hhh udahlah...aku nggak ngerti,aku pergi sekarang.”
Dan kau pun berlalu. Pergi. Aku terus menatap punggungmu, tapi tak sekalipun kau menengok untuk melihatku berdiri di sini. Bulir-bulir itu kembali memburamkan pandanganku. Kosong. Lalu kurasakan gelap, gelap, dan gelap. Setelah itu, aku tak tau lagi apa yang terjadi denganku.