Minggu, 13 November 2011

-tanpa judul-

Kutatap sekeliling kamarku, putih. Kulihat spreiku, pun putih. Sepertinya di luar hujan, jendela itu penuh dengan embun hujan. Aku mencari-cari boneka biruku tapi tak segera menemukannya. Hah apa-apaan ini, kenapa di tanganku ada infus? Dan aku sangat kaget melihat ada laki-laki di kamarku, siapa? aku berfikir. Dia menundukkan kepalanya, sepertinya ketiduran. Ah tapi aku mengenalnya, itu Hima. Sedang apa dia di sini? Aku semakin merasa aneh.

Tak lama kemudian dia seperti menyadari kalau aku terbangun. Dia mengusap wajahnya lalu segera mendatangiku.

"sudah membaik?" tanyanya.

"membaik apanya? kenapa kamar saya dicat putih semua?dan kenapa dokter ada di sini?"

"saya sedang tidak bertugas jadi jangan panggil dokter doonnkk..." dia malah menggoda saya lalu tersenyum.

"kamu di rumah sakit via...beberapa hari kamu koma, seseorang menemukanmu pingsan di tengah jalan lalu membawamu ke sini, kamu tau? mamamu panik sekali. kenapa? sakit kepalamu kambuh lagi?" lanjutnya.

Aku diam. Mencoba mengingat-ingat kejadian terakhir yang terjadi padaku, tapi aku benar-benar tak ingat. Yang kuingat hanya aku mengantarkan Fadhil. Ya, itu kejadian terakhir yang kuingat.

"Via...bahkan saat kamu nggak sadar pun, kamu memanggil-manggil nama sahabat kecilmu itu. Aku cemburu lho." lagi-lagi dia tersenyum.

"udahlah dok..kenapa membahas ini? mana mama?"

"mamamu sedang mengurus pasien, sebentar lagi mungkin ke sini."

Dan tak lama kemudian memang mama datang, dengan wajah sendunya. Aku tak suka melihat mama berwajah seperti itu, aku ingin melihat senyum mama.

"Via..." mama meneteskan air matanya.

"mama jangan nangis donk...via nggak papa ma..." aku berusaha tersenyum di hadapannya.

"nggak papa bagaimana?kamu koma 3 hari sayang, mama khawatir sekali."

Aku menghela nafas panjang, menatap dokter Hima yang tetap di tempatnya menatapku dan mama.

"kenapa nggak pernah cerita kalau sakitmu kambuh lagi?" mama melanjutkan.

"Via nggak mau mengeluh ma, ada yang nggak suka kalau via banyak mengeluh. Via ingin menjadi wanita yang kuat." aku tersenyum lagi.

"siapa? Fadhil?" mama menebak. Aku hanya menjawab pertanyaan mama dengan senyuman.

"sudahlah Via...mengapa harus selalu mencintai orang yang bahkan tak mempedulikanmu sama sekali? kenapa tidak belajar membuka hati untuk orang lain yang selalu menunjukkan cintanya untukmu?" mama kembali menangis.

Kuusap pipinya, aku tersenyum.

"bahkan mama selalu mencintai papa meskipun papa berkali menyakiti mama kan, lalu kenapa Via? mmm..." aku sulit melanjutkan kata-kataku, karena dadaku terasa sesak, aku harus bisa menahannya, aku tidak boleh menangis di hadapan mama.

"udah ya ma...Via nggak mau membahas ini" aku lagi-lagi menghela nafas panjang.

"nggak Via...ini harus dibahas. Kamu akan menikah dengan Hima"

Aku tersentak. Kenapa mama tiba-tiba seperti ini? Sejak dulu mama tak pernah mengaturku dalam hal mencintai seseorang. Tapi kenapa?
Mama meninggalkan ruanganku. Tetap dengan tangisnya. Aku benar-benar bukan anak yang baik untuknya, aku bahkan tak bisa menghentikan air matanya.

"Sudah jangan difikirkan perkataan mamamu ya..." Hima berusaha menenangkanku, aku hanya diam.

"Mamamu terlalu menyayangi dan mengkhawatirkanmu, makanya dia seperti itu. " dia tersenyum.

"Tenanglah...aku tak akan menikahi wanita yang tidak mencintaiku, tapi aku akan membuatmu mencintaiku Via." Ia kembali tersenyum.

Aku hanya diam, aku tidak tau harus mengatakan apalagi. Tidak ada yang bisa aku katakan.

"Dokter...boleh saya minta tolong?" 

"Tentu Via...apa yang bisa aku bantu?"

"Tolong ambilkan boneka biru saya, saya ingin memeluknya."

"Boneka biru yang mana Via? kau tak punya boneka biru."

"Yang besar dok...yang diberikan Fadhil kepada saya kemaren."

"Kamu koma sejak 3 hari yang lalu, bagaimana mungkin kemaren dia memberikan boneka itu padamu?"

Apa? Tidak ada? Ternyata semuanya memang tak pernah nyata. Aku menghela nafas panjang sekali lagi, lalu terlelap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar