Jumat, 27 Mei 2016

Bolehkah kusebut persahabatan ini… Cinta

Wajahnya basah, tubuh tingginya juga lumayan kuyup. Aku mengamatinya dalam diam. Wajah lelahnya tak memudarkan sedikit pun senyum dari sana. Ia sibuk melihat hujan yang belum kunjung reda. Sesekali ia melihat jam tangannya. Memang sudah cukup malam. Dan kami masih terdampar di warung kopi ini berdua saja.

“Kamu nanti pulang sendiri nggak papa Sin?” tanyanya memudarkan lamunanku.

“Iya nggak papa Vid. Aku sudah biasa pulang malam sendiri.” jawabku.

“Ya sudah kalau begitu.”

Ah.. David. Dia masih saja belum peka. Aku sering bertanya-tanya tentang perasaannya. Kadang tampak begitu penuh perhatian dan membuatku merasa spesial. Tapi kadang seperti biasa saja, karena ia melakukan hal yang sama kepada semua teman.

“Ini gara-gara Dina. Pakai acara titip bingkisan untuk Vero segala. Mana Veronya nggak bisa dihubungi lagi. Ini kan udah malem banget. Hujannya juga belum reda dari tadi.”

Ah…David. Nikmati saja lah kebersamaan kita. Aku justru suka berlama-lama denganmu.

Seharian ini aku menunggu cukup lama untuk bisa bertemu dengannya. Dan hujan ini sungguh membahagiakanku. Tidak sia-sia aku menunggunya cukup lama. Karena aku juga bisa berlama-lama bersama dengannya.

“Kopimu dingin nanti… minumlah Vid.”

“Hm mm..”

David. Sebuah nama yang sudah cukup lama ku kenal. Di kampus ini memang ada beberapa teman laki-laki yang satu kelas denganku. Namun David termasuk teman yang cukup hangat. Sehingga tanpa sadar aku pun merasa semakin akrab dengannya.

Awalnya semua terasa biasa saja bagiku. Aku juga terbiasa akrab dengan semua orang. Tapi bersama David, aku merasakan ada yang berbeda. Aku selalu mengelak setiap aku memikirkannya. Selalu ku abaikan hatiku yang berkata bahwa ada sesuatu yang istimewa. Aku selalu berfikir bahwa semua hanyalah biasa saja. Selalu begitu. Tapi semakin lama, hari-hariku semakin penuh dengan namanya.

Teman-teman pun banyak yang bertanya, ada apa denganku dan David. Tapi aku bisa menjawab apa. David selalu saja menjawabnya dengan bercanda. Kadang aku kesal dengan sikapnya yang begitu. Membuatku semakin penasaran tentang perasaannya. Tapi mana mungkin aku bertanya. Aku perempuan. Aku gengsi.

“Sorry sorry gue lama.” Wajah Vero tiba-tiba muncul dari balik jas hujannya yang basah.

“Kalau bisa lebih lama lagi sebenernya lebih bagus Ro, jarang-jarang kan gue bisa jalan sama cewek cantik. Hahaha…”

Mulai lagi. Dia mulai lagi membuatku bertanya-tanya. Apakah semua pria memang seperti itu. Seenaknya saja memberi harapan tanpa kepastian kepada perempuan.

“Ya udah gue balik dulu ya Sin, Vid. Makasih loh bingkisannya. Sampein juga ke Dina ya. Gue balik dulu. Selamat melanjutkan pacarannya ya. “ Vero menggoda kami.

“Ya udah sono hush hush cepetan pergi. Ganggu aja lo.” David menimpali.

Kami lagi-lagi hanya berdua saja. Rintik hujan mulai berhenti. Tinggal gerimis kecil saja. Karena sudah malam, aku memutuskan untuk segera pulang.

“Aku pulang ya Vid.” kataku.

“Oke Sin hati-hati di jalan ya. Berani kan pulang sendiri.”

“Hm mm…”

Aku pun berlalu. Ku lihat bayangannya sampai tak tampak lagi. Entahlah bagaimana kelanjutan cerita ini. Biarkan saja waktu yang menjawabnya.

David
Jangan membuatku jatuh cinta kala hujan
Karena setiap kali hujan turun

Aku akan selalu mengingat namamu

Selasa, 26 April 2016

Cinta dan Pengabdianku

Setelah sekian lama tidak membuka blog, hari ini saya putuskan bersih-bersih sarang laba-laba yang ada dimana-dimana. Mumpung lagi spaneng dengan kerjaan, butuh hiburan, butuh ngluarin uneg-uneg. Mending kita theng theng crit di sini, thenguk-thenguk crito :D

Baca-baca tulisan jaman dulu yang alay bin nggak penting banget, hihihi... tapi biarlah, biarlah tulisan itu tetap ada karena semua itu adalah proses seorang Adelia menuju masa dewasanya. Meski mungkin saat ini Adelia belum sempurna dewasa, biarlah ia tetap berproses menuju ke sana.

Hari ini, 3 tahun lebih sekian hari Adelia menjadi seorang istri. Ada beberapa yang bertanya, bagaimana menciptakan pernikahan bahagia.
Pernikahan bahagia, siapa yang tidak menginginkan pernikahan yang bahagia. Semua pasti menginginkannya bukan? Tapi terkadang, seseorang tidak melakukan usaha sebesar keinginannya.

Kami sendiri, kami berusaha semampu yang kami bisa.

"Kamu sepertinya nggak pernah marahan ya dengan suamimu?"

Siapa sih yang nggak pernah marahan sama suaminya? Sama orang tua / adik / kakak yang sudah sejak lahir tinggal bersama saja, pasti kadang muncul rasa jengkel atau kurang nyaman. Apalagi dengan suami / istri, seseorang yang baru kita jumpai di masa dewasa kita, tentu pernah.

Bedanya adalah, kami berusaha seprofesional mungkin. Sebagaimana kita bekerja di luar rumah, tentu bekerja di dalam rumah membutuhkan keprofesionalan yang sama, bahkan lebih banyak. Bagaimana kita berusaha menghadapi masalah yang silih berganti dengan tetap bergandeng tangan salaing menguatkan.

Saya pernah berkata pada suami, bahwa apa pun yang terjadi, kita tak boleh saling melepaskan tangan. Karena tanpa bersama, kita lemah.

Suamiku, cinta dan penghargaanku. Aku selalu berusaha merendahkan diri di hadapannya. Bahwa aku adalah makhluk lemah yang membutuhkan perlindungannya. Aku selalu berusaha meninggikannya agar ia tau bahwa aku menghormatinya.

Dan yang terjadi adalah, dia memberikan begitu banyak cinta. Cinta dan ketulusan yang membuatku ingin lebih dan lebih menghormatinya lagi. Berbakti lebih banyak lagi. Berkorban lebih banyak lagi.
Tak ada yang diinginkan wanita selain perhatian dan kasih sayang.

Ketika kita telah mendapatkan itu semua, tugas kita tinggallah mempertahankan.
Dan mempertahankan tentulah lebih sulit. Tapi kami selalu berusaha, untuk saling mengingatkan.
Bahwa tujuan kami menikah adalah surga. Maka kami harus saling menguatkan untuk mendapatkan surga. Dan surga bukanlah hal yang murah dan mudah. Maka meski bersusah payah, kami tak boleh berhenti berusaha.

hmmm.... dari ngomongin bersihin sarang laba-laba, proses menuju dewasa, sampai menciptakan pernikahan bahagia.
sudah dulu, nyatanya menulis ini disambi memikirkan pelaksanaan ujian dan akreditasi.

Semoga kita senantiasa menjadi muslim yang kuat. Muslim yang bermanfaat. Muslim yang bisa dijadikan teladan bagi sesamanya. Dan tentunya, muslim yang disayangi Allah swt dan kelak bisa berkumpul di surganya, aamiin.

Tulisan campur-campur, sekian.

Selasa, 22 April 2014

Iseng-iseng

Hmmmmm....lama sekali nggak nulis yaaaa....
15 Mei 2012 - 22 April 2014, waw... 1 hampir 2 tahun....

cuma iseng-iseng aja sih, hanya mau mengabarkan kalau saya dalam keadaan yang sangat baik.
5 April 2013 lalu saya menikah, menjadi istri seorang lelaki baik bernama Muhammad Kurniawan, dan sekarang sudah 1 tahun lewat sekian hari dari pernikahan kami. yup... sudah satu tahun pernikahan. segalanya mulai membaik, sudah lebih bertoleransi atas segala hal. dan ini...adalah foto kami waktu jalan-jalan ke sumatra barat menjelang satu tahun pernikahan kemaren. what a beatiful day, with a handsome man, mhihihihi...

btw anyway busway...udah deh itu dulu ajah :D

Selasa, 15 Mei 2012

Tentang Hujan...


Musim ini tak lagi sama, Rain. Karena kau tak lagi menemaniku seperti hari kemarin, aku sendiri. Duduk di pantai ini, kembali mengingatkanku tentang hari itu, hari ketika rintik-rintikmu membasahi wajahku. Aku tak mencoba berlari, aku menggapaimu. Sejuk, selalu itu yang kurasakan setiap aku merasakan kehadiranmu.


Ombak di laut itu, tak lantas mengaburkan bayanganku tentangmu, tetap wajahmu terlukis di sana. Tersenyum, tapi kadang kau nampak murung. Aku tak mengerti yang kau rasakan, Rain. Aku hanya tau bahwa kau tak lagi mencoba datang, karena awan tak lagi mengabarkan hadirmu.

Aku berjalan menyusuri pantai ini, berlari kecil, lalu aku mengingat bagaimana kita berlari bersama ombak. Aku ingin kembali mengingat bagaimana kita bahagia. Aku ingin mengingat bagaimana kau berikan sejuk itu, aku ingin mengingat bagaimana kau hapus air mata di wajahku dengan tetesmu.

Musim ini tak lagi sama, Rain. Karena bungaku perlahan layu dan gugur satu-satu. Daunnya mengering, hampir mati. Aku menatapnya dengan mata berkaca, tapi tak bisa melakukan apa-apa. Hanya mencoba memunguti gugurannya, lalu menyimpannya.

Tidakkah kau kasihan padanya Rain? Tak inginkah kau kembali menghadirkan kesejukanmu? Atau kau lebih suka menyendiri dan menikmati sejukmu sendiri. Entahlah, aku tak mengerti, dan mulai lelah untuk mencoba mengerti.

Rindu itu adalah saat kau berada di sisiku, lalu aku tak ingin kau pergi lagi. Tapi bagaimana bisa aku kembali merindukanmu? Bagaimana bisa aku kembali merasakan getar-getar kesedihan dan kebahagiaan itu? Sedang kau tak pernah hadir di sini, di pantai ini, tempat dimana kita selalu berbagi cerita, tempat dimana kita selalu berbagi tawa.

Musim ini tak lagi sama, Rain. Setelah 4 musim yang sama, dengan bahagia.






                                                                                                                Tentang hujan
                                                                                                               Tentang sejuknya
                                                                                                              Tentang bahagianya

Senin, 30 April 2012

Gelap itu indah, bukan...?


“Ara takut gelap bu...” Ara mendekap tubuh ibunya erat. Dia benar-benar takut dengan gelap, entah kenapa. Setiap listrik padam, dia akan mendekatkan tubuh mungilnya ke pelukan ibunya, lalu belaian tangan ibunya di rambutnya akan menenangkannya.

“Tidak papa sayang...ibu di sini, mendekapmu” Ibu paruh baya itu mendekapnya dengan erat, mengelus rambut hitam panjangnya, lalu menceritakan apa pun yang bisa menenangkan Ara.

“Ara...gelap itu tidak menakutkan, gelap akan selalu ada dalam kehidupan kita, tak selamanya ibu bisa mendekapmu seperti ini, maka kamu tidak boleh selamanya takut dengan gelap ya..” ibunya melanjutkan.

“Tapi Ara takut bu...gelap membuat Ara tidak bisa melihat apa pun, Ara takut ketika Ara tidak bisa melihat wajah ibu, Ara tidak bisa bernafas...” mata Ara pun berkaca. Ibunya memeluknya semakin erat, begitu khawatir anak perempuannya itu menangis.

“Iya sayang...iyaa...ibu akan selalu di sini menemani Ara ketika gelap”

“Janji ya bu...”

“Iya...”

Beberapa tahun berlalu, Ara tetap nyaman dengan pelukan ibunya setiap gelap, merasa aman, merasa bahwa dia akan selalu baik-baik saja ketika gelap datang selama ada ibunya di sampingnya. Tanpa ia sadar, ia telah menjadi gadis dewasa, bukan Ara kecil lagi.

“Aku dimana...kenapa gelap? Ibuu...ibuuu...”

“Mbak Tiara...anda baik-baik saja?” seorang pasien mendatanginya karena teriakannya.

“Saya tidak papa sus...kenapa rumah sakit ini gelap? Apa listrik padam?”

“Iya mbak..kata petugas, sedang ada pemadaman bergilir. Tapi di luar ruangan sepertinya tidak terlalu gelap, karena belum malam, mungkin mbak Tiara mau saya antar keluar?”

“Iya sus...boleh”

Lalu suster itu pun mendorong kursi roda Tiara menuju taman Rumah Sakit, memang belum malam, tapi sama gelapnya karena langit pun ternyata mendung.

“Ah...ternyata sama saja gelap sus...” Tiara kecewa.

“Iya mbak...maaf saya fikir di luar akan terang, saya tidak tau kalau mendung seperti ini”

“Ya...tidak papa sus” Tiara tersenyum.

“Maukah suster mendengar cerita saya?” lanjutnya.

“Dengan senang hati” jawab suster itu ramah.

“Dulu, setiap datang gelap, saya selalu menangis dan memanggil-manggil ibu saya sus. Lalu ibu akan segera datang dan memeluk saya dengan erat, menceritakan apa pun yang akan membuat saya tenang dan tidak takut lagi.”

“Ibu bilang, ibu janji tidak akan pernah meninggalkan saya dan akan selalu ada untuk saya saat gelap datang, tapi...” Tiara menghentikan ceritanya, ia menarik nafas panjang, menghembuskannya, lalu melanjutkan bercerita.

“Tapi pada suatu hari, saya berada di suatu tempat asing sus, tidak ada ibu, entah saya tidak tau ibu ada dimana, yang saya tau, ketika gelap datang, tak seorang pun datang meskipun saya telah menangis tersedu-sedu, tak seorang pun mendekap saya meskipun saya menggigil ketakutan, saya takut sekali sus, dan semakin takut dengan gelap” mata Tiara berkaca, suster memberikannya tisue, Tiara menghapus air matanya.

“Dulu ibu pernah bilang pada saya, bahwa tak selamanya ia bisa menemani saya ketika gelap, dan ia melarang saya untu selamanya takut gelap.” Suster itu tersenyum dan mengangguk pelan.

“Mbak Tiara..lihatlah mendung di langit sana, ia begitu gelap, tapi sebentar lagi ia akan menurunkan hujan yang dinantikan banyak orang, ia sama sekali tidak menakutkan kan mbak? Lalu dengan adanya gelap, kita akan menantikan lagi datangnya terang, kita akan merasa bahagia sekali ketika terang kembali datang, kita akan lebih menghargainya”

“Tapi...kenapa hanya pelukan ibu yang bisa membuat mbak Tiara tenang, bagaimana dengan pelukan ayah?” suster itu melanjutkan.

“Entahlah sus, saya tidak pernah merasakan pelukannya”. Tiara tersenyum getir.

“Tapi sekarang saya mengerti, mungkin saya memang menbutuhkan gelap, untuk lebih menghargai terang”.

Ia biarkan air matanya menetes, ia arahkan kursi rodanya ke taman, membuka tangannya ke langit, lalu menikmati setiap tetes hujan yang jatuh di telapaknya. Itulah yang orang nanti setelah gelapnya mendung, hujan. Ia begitu mencintai hujan, tapi ia takut dengan mendung, Tiara tersenyum kecil.

~kita tak bisa mencintai sebuah sisi dari sepasang sisi, tanpa mencintai sisi lainnya~

Selasa, 24 April 2012

selembar kenangan (lomba)



Aku benar-benar tak mampu menuliskan setiap kenangan yang kita lewati bersama. Terlalu banyak kau lukis senyum di wajahku, terlalu banyak bahagia kau selipkan di dalam hari-hariku. Terlalu banyak kau buat aku bermimpi menjadi seorang putri, dengan seorang pangeran di sampingku yang selalu menjagaku, selalu ada setiap aku membuka mata. Dan pangeranku adalah....kamu.

            Aku tak mampu berkata apa pun ketika kau berkata “aku harus pergi,,,Senja...”

Hanya bulir-bulir yang kurasakan menetes perlahan dari mataku, terus menetes...sampai aku tak tau berapa banyak bulir-bulir itu terkumpul. Aku masih tetap diam, menatap langit yang tak memunculkan gambar apa pun di sana, kosong...yang kurasakan hanya kosong.

Aku tak mengerti perasaan apa ini, perasaan yang menimbulkan ngilu di hatiku, sakit...namun aku masih tak bisa berkata apa pun padamu. Aku masih menatapmu dengan kosong di mataku, tak mengerti kenapa kau berlaku seperti ini. Bulir-bulir itu, kubiarkan tetap menetes. Aku tak ingin menghapusnya, agar kau tau, bahwa aku sakit.

“maafkan aku...tapi aku tak bisa tetap di sini”

Bulir itu semakin deras kurasakan tetesannya, hingga pandanganku kabur, hingga aku lupa bila aku masih berpijak di bumi, aku lupa bila ada kau di hadapanku. Tak ada kata yang ingin ku ucapkan,tak ada...hanya ingin membiarkan bulir ini tetap menetes, hingga ngilu di hatiku hilang, meski aku tau, ia tak akan pernah hilang.

“kenapa diam...?”

Suaramu menyadarkanku, aku tergagap lalu mencoba memaksakan sebuah senyuman untukmu, karena kau bilang hanya itu yang kau mau dariku, senyumku. Aku tersenyum sementara bulir itu tetap saja tak mau berhenti menetes, aku tak tau harus bagaimana, aku ingin menghentikannya tapi aku tak bisa, aku tak mampu menghentikannya.

Imaginasiku kemudian melukiskan sebuah bayangan, bayangan akan hidupku tanpamu, pasti akan begitu sulit...

Siapa yang akan melukiskan senyum di wajah ini? Siapa yang akan menyelipkan bahagia di dalam hari-hariku nanti? Tidakkah kau juga memikirkannya?

Hhh...fikiranku ini lagi-lagi membuat bulir-bulir itu semakin deras menetes...

“jangan nangis terus....”

Apa? Apa yang kau katakan? Mengapa kau berkata seperti itu? Tidakkah kau berfikir sedikit saja tentang sakit yang kurasakan ini? Atau kau memang sudah tak mau memikirkannya lagi? Kau tak peduli lagi?
“hhh udahlah...aku nggak ngerti,aku pergi sekarang.”

Dan kau pun berlalu. Pergi. Aku terus menatap punggungmu, tapi tak sekalipun kau menengok untuk melihatku berdiri di sini. Bulir-bulir itu kembali memburamkan pandanganku. Kosong. Lalu kurasakan gelap, gelap, dan gelap. Setelah itu, aku tak tau lagi apa yang terjadi denganku.
~~~~~~
            Apakah kamu masih ingat masa kecil kita dhil? kita sering bermain bersama. Aku selalu menceritakan mimpi-mimpiku, dan kau pun selalu menceritakan mimpi-mimpimu. Kita mempunyai mimpi yang sama dhil, untuk bisa menuliskan apa pun yang kita fikirkan.

            Aku adalah pengagum tulisanmu yang pertama, kau ini memang pandai menulis, dan aku hanya ikut-ikutan saja, tulisanku selalu nggak karu-karuan, dan kau selalu menghina tulisanku. Aku selalu pura-pura cemberut di hadapanmu, tapi aku selalu membenarkan dalam hati apa yang kau bilang. Aku memang tidak pandai menulis.

            Aku masih ingat, kita sering bermain pengantin-pengantinan. Kau menjadi pengantin prianya, dan aku menjadi pengantin wanitanya. Rasanya bahagia sekali bermimpi menjadi peri di sampingmu. Aku sering tertawa geli ketika mengingatnya, mengingat tingkah polah kita yang kufikir keterlaluan, kanak-kanak yang bermimpi menjadi pengantin. Tapi aku suka dengan permainan kita dhil, bahkan diam-diam aku memimpikannya menjadi kenyataan. Suatu saat nanti, ketika kita sudah sama-sama dewasa, kita benar-benar akan menjadi pengantin yang duduk berdampingan. Ah...mimpi yang bodoh.

            Kita beranjak dewasa dan tak ada yang berubah dengan persahabatan kita, tetap polos, tulus, dan tak pernah dibuat-buat. Aku tetap senang mendengar cerita-ceritamu, keluhan-keluhanmu, tangis dan tawamu, begitu pun denganmu dhil, kau selalu membuat hariku tak sedetik pun tanpamu.

            Lalu tiba-tiba saja, jarak memisahkan kita, kau pergi jauh, jauuuhhh sekali, dan aku tak bisa ikut pergi bersamamu. Kamu tau dhil? setelah memberikan mawar itu padamu, aku lalu pergi ke sungai dimana kita sering bercerita bersama, aku menangis dalam diam di sana. Aku takut tanpamu dhil, tapi inilah kenyataannya, bahwa kau pergi jauh. Meski kau berjanji untuk selalu menghubungiku, tetap saja air mata ini tak mau berhenti menetes.

            Tak lama tiba pesanmu, mengabari bahwa kau baik-baik saja di sana, aku lega, meski tak lagi dapat menatapmu. Dan kau pun mengirimkan sebuah puisi, yang membuatku melengkungkan bibir, rupanya kau sudah mulai bisa menggombali sahabatmu ini, dasar fadhil.

            Hari-hari pun berlalu dan mejaku hampir penuh dengan tulisan-tulisanmu yang selalu aku suka. Kau selalu mengirimkan setiap tulisanmu, dan aku selalu mengaguminya. Bagaimana bisa kau menulis sebagus itu dhil? kau jahat, tak mau mengajariku. Aku yakin, suatu saat nanti kau akan menjadi penulis yang besar.

            Tapi  seiring berjalannya waktu, kau mulai berubah. Kau menghadirkan orang lain dalam persahabatan kita. Selama 15 tahun kita bersahabat, kau tak pernah melakukannya. Kau selalu bilang bahwa aku yang paling manis, aku satu-satunya peri yang selalu ada di sampingmu. Tapi kenapa sekarang kau membawa dia? bahkan kau puji dia di hadapanku, kau bilang dia pandai menulis sama sepertimu, dia cantik, dia selalu berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih baik. Sepertinya kau benar-benar ingin menggantikanku dengannya.

            Aku selalu berfikir, mungkin kau memang menyukainya. Aku memang tak sebaik dia dhil, aku tak bisa menulis sepertinya, aku tak bisa membuatmu melambung dengan tulisan-tulisan seperti yang ia lakukan padamu. Aku tak bisa menjadi seperti dia dhil, karena aku bukan dia dan selamanya tak akan menjadi dia.

            Perlahan aku mulai merangkak, tertatih, berjalan meninggalkan kebersamaan kita, karena aku semakin yakin bahwa kau menyukainya. Dia selalu bisa membuatmu tersenyum. Kau selalu tertawa bahagia ketika bersama dengannya. Dan itu cukup bagiku dhil, cukup bagiku untuk kemudian pergi. Karena aku hanya ingin melihat senyummu itu, tak harus dari dekat di sampingmu, bahkan dari jauh pun aku selalu bisa merasakannya.

Aku mencoba memahami, bahwa kebersamaan kita adalah persahabatan, dan aku harus selalu siap ketika akhirnya kau menemukan cintamu. Dan mimpi kita, hanyalah mimpi kanak-kanak yang tak seharusnya aku terus mengharapkannya. Dan senyummu, biarlah tetap berada di sini dhil, di hatiku yang paling dalam, sampai mata ini terpejam, dan takkan pernah terbuka lagi.
~~~~~
Kamu tau fadhil? Surat darimu membuatku kembali menitikkan air mata. Aku tak pernah mengerti, kenapa cintaku padamu kurasakan begitu besar. Aku juga tak pernah mengerti, kenapa sayangku untukmu tak pernah habis. Kau adalah sahabat terbaik untukku fadhil, sahabat yang mengajariku banyak hal, tentang kebersamaan, tentang bagaimana aku mulai merasakan perasaan yang berbeda ketika menjalani hari-hari bersamamu. Tentang bagaimana bibirku akan melengkungkan sebuah senyuman ketika melihatmu bahagia, tentang bagaimana mataku akan menghangat dan menitikkan airnya ketika melihatmu sakit, melihatmu sedih fadhil. Kau mengajariku semuanya. Tentang bagaimana cinta itu tumbuh bersama persahabatan kita.

Kau pernah mengatakannya, bahwa kau juga merasakan hangat yang sama di hatimu. Sebelum ia datang, dan membuatmu perlahan menjauhiku. Aku hampir tak mengenalmu saat itu fadhil, kau benar-benar berubah. Kau tak lagi suka bercerita padaku, kau tak lagi suka mendengarkan ceritaku. Aku sedih fadhil, tapi aku tak pernah bisa membencimu. Tak akan pernah bisa.

Waktu itu, aku memaksakan diri untuk datang ke acara launching buku terbarumu, aku ingin melihat senyum kebahagiaanmu, dan berharap ada sedikit senyummu untukku. Tapi yang kuharap tak sedikitpun kudapatkan, kau berlalu dengannya, tanpa sedikitpun memandangku. Dan aku, hanya bisa tersenyum melihat sikapmu. Aku lantas berfikir, sahabatku telah hilang dari muka bumi, dan yang kulihat dalam acara launching buku itu bukanlah fadhilku. Fadhilku sudah tidak ada lagi, tidak ada lagi selain yang ada di hatiku. Yang tetap kusimpan di relung terdalam.

Aku menganggapmu tak ada seiring semakin eratnya kebersamaanmu dengannya, kalian sama-sama penulis dan kalian bekerja bersama. Aku mengerti fadhil, ketika kau lebih mencintainya. Bagaimana tidak? Setiap waktumu sering kau habiskan dengannya. Seperti yang orang jawa bilang, witing tresno jalaran soko kulino, dan mungkin itu yang kalian rasakan. Aku tak pernah ingin menyalahkanmu fadhil, yang salah adalah aku yang tak pernah ada untukmu dan mungkin hanya dia yang ada.

Aku hampir berputus asa ketika aku masih mencoba manguatkan diri untuk datang padamu dan menanyakan hal itu. Bertanya, apakah rasa di hatimu untukku benar-benar habis. Dan jawabanmu fadhil, benar-benar membuatku ingin mati saja daripada merasakan sakit itu.

“rasa itu telah habis, termakan waktu dan istikhoroh” katamu.

Waktu? Ternyata waktu yang kuhabiskan untuk menunggumu, kau habiskan untuk melupakan setiap kebersamaan kita. Bagaimana kau bisa lupa fadhil? Ketika kau memboncengku dengan sepeda tuamu, dan aku tertawa bahagia. Bagaimana kau bisa lupa ketika aku terjatuh lalu kau menggapai tanganku dan aku masih bisa tetap tersenyum di sampingmu. Bagaimana kau bisa lupa bahwa aku tak bisa tanpamu dan kita bahagia bila bersama?

Dan Istikhoroh, kau bawa Allah dalam jawabanmu dhil. Aku tak berani mendebat apa pun karena petunjuk Allah lah yang terbaik untukmu. Aku hanya bisa menangis, bukan karena menyesali jawabanmu, tapi karena aku ingin ngilu di hatiku sedikit berkurang. Ya, berkurang, karena aku tau ngilunya tak akan pernah habis sampai kapan pun.

Kau tau yang terjadi setelah itu? Aku hanya banyak diam pada siapa pun. berkata dan tersenyum secukupnya pada orang-orang yang mungkin menatapku dengan heran. Aku sering pergi-pergi tak tentu arah, aku melihat aliran sungai yang tenang, berharap mendapatkan ketenangan yang sama. Meski yang kudapat hanyalah mataku yang kembali menghangat karena sungai itu pun menampakkan wajahmu dan kenangan kita. Kenangan kita terlalu banyak dan aku tak mampu menghapusnya dhil, takkan pernah mampu. 
Sampai suatu hari, aku bertemu dengannya. Saat itu lagi-lagi aku duduk merenung melihat aliran sungai. Dan tau-tau dia duduk di sampingku, melihat ke arah yang sama, aliran sungai yang tenang itu. Dia hanya diam dan aku pun tak berani memulai pembicaraan. Hanya sesekali kami saling memandang dan bertukar senyum sekilas.

“Bagaimana hidupmu, adalah kau yang menentukan jalannya meski akhirnya Allah yang akan mengijinkan atau tidak. Ketika kau hanya terus seperti ini, maka selamanya hidupmu akan seperti ini. Kehilangan itu mengajarkan kita bahwa di dunia ini kita tidak mempunyai apa-apa, lalu apa yang perlu ditangisi karena pada akhirnya kita akan kehilangan semuanya?”
Hima, dia bernama Hima, Fadhil.

Kata-katanya itu, menyadarkanku bahwa aku tak boleh terus seperti ini. Aku harus bisa bangkit dan tersenyum. Aku pasti bisa menjalani hari-hariku dhil, harus bisa. Dia terus menyemangatiku sementara aku terus melihatmu semakin jauh meninggalkanku. Aku belajar menerima kenyataan ini. Aku tak pernah mengerti apa rahasia Allah untuk kita. Aku hanya mencoba menjalani alur ini, alur yang begitu perih kutapaki tapi aku terus mencobanya.

Lukaku telah sedikit mengering ketika tanganku kembali menerima surat darimu. Surat yang telah kutunggu sejak lama, bahkan setelah kau mengucapkan jawaban itu. Surat yang berisi permintaan maafmu atas kejadian waktu itu, kejadian yang mebuatku kehilangan separuh dari nyawaku, kejadian tersakit yang pernah aku alami. Aku tak butuh maafmu karena tanpa kau meminta pun, aku akan selalu memaafkanmu fadhil. Dan cinta ini, tak akan pernah habis untukmu.

Tapi entah mengapa kini rasanya berbeda, ada ragu, ada hambar yang perlahan menguar seiring tetesan air mataku. Aku takut terluka lagi fadhil, aku takut hatiku yang telah rapuh kembali tersakiti dan akhirnya nyawaku yang tinggal separuh akan habis. Dan aku pun juga tak bisa melupakan begitu saja, bahwa dia terus menyemangatiku ketika kau pergi meninggalkanku fadhil.

Saat ini, tak ada yang bisa kubalaskan untuk suratmu. Karena perasaan bimbang itu belum juga hilang. Karena aku masih terlalu khawatir bahwa senyum yang kau hadirkan beberapa hari ini, akan berubah lagi menjadi air mata pada nantinya.

Biarlah cinta ini aku simpan dalam diam, fadhilku. Sampai suatu hari nanti aku akan memberikannya pada seseorang yang menjabat tangan ayahku dan menyatakan menerima nikahku, lalu menjemputku dengan senyumnya, membawaku ke “gubug reot” penuh cinta, membentuk “madrasah keluarga sakinah” dan bahagia bersama sampai ke surga. Ah...masih saja aku mengingat mimpi kanak-kanak kita. 

Selasa, 20 Desember 2011

hari ini, 3 tahun lalu....

Dear diary...
Kamu tau aku sekarang lagi ada dimana? Aku lagi ada di bus, yang akan membawaku ke tempat yang jauuuhh yang belum pernah aku kunjungi. Haha...mungkin aku memang nekat, tapi jangan panggil aku senja kalau aku tak senekat ini.
Aku hanya tau kalo aku harus turun di perempatan mall besar di daerah itu. Aku sudah berusaha berkomunikasi dengan pak kondektur bus untuk menurunkanku di sana, haloo...aku sekarang udah cukup dewasa kan untuk pergi-pergi sendiri...? sejak beberapa bulan lalu bahkan aku sudah disebut mahasiswa, aku tak perlu memakai seragam lagi untuk pergi ke sekolah...yeyyy...
Ah...kenapa aku jadi tegang begini? Apa yang harus aku lakukan ketika nanti aku sampai sana? Diam mematung? Senyum? Aduuhh...kenapa aku jadi merasa bodoh? Sejak beberapa hari yang lalu aku sudah mempersiapkan segalanya, apa saja yang harus aku bawa, tak ada yang ketinggalan 1 pun, termasuk kura-kura mungil yang ada di pangkuanku ini, hai kura-kura sayang...apakah kau nyaman di sana? Kamu lucuuuu....
Tapi kenapa aku tak memikirkan apa yang akan terjadi di sana? Aku terlalu sibuk mempersiapkan keberangkatanku, termasuk memesan tiket bus, hhff...aku adalah manusia bodoh, bahkan sejak lama aku sudah tau kalau aku pasti akan mual ketika naik bus, dan sekarang terbukti sudah, mual mual mualllll....apa sebaiknya tidur? Ah tidak...perjalanan ini terlalu indah jika hanya dihabiskan untuk tidur.
Aku sudah mencoba menyanyi sendiri, memikirkan hal-hal lucu, tapi kenapa aku tetap merasa mual diary? Ditambah di sampingku ada bapak-bapak yang merokok, pengamen yang bergantian naik turun dan menyanyikan lagu-lagu dengan asal-asalan, lengkap sudah penderitaanku, benar-benar lengkap. Aarrgghhh...rasanya ingin teriak....
Aku menjadi berfikir, untuk apa aku melakukan ini? Apakah rasa cintaku padanya memang terlalu besar diary?
Aku mungkin menjadi orang yang paling bahagia ketika waktu itu ia memberitahuku bahwa ia diterima kerja, meskipun setelah itu aku harus ditinggalkan beberapa hari olehnya,tidak bisa menghubunginya karena dia harus mengikuti pendidikan kerja, tapi aku tetap sabar menanti smsnya datang setelah lama tak hadir. Aku selalu setia menunggu cerita-ceritanya yang akan selalu saja membuatku tersenyum.
Dia memang spesial diary, sangat spesial. Meskipun terkadang dia menyebalkan, tapi aku tak pernah bisa marah padanya. Aku juga tidak tau apa penyebabnya.
Ah...kenapa jadi ngomongin dia sih? Aku kan lagi cerita soal perjalananku. Mmm...aku tidak tau harus menuliskan apalagi, yang pasti aku bahagia akan bertemu dengannya. Semoga...
                                                                                                                               
20 desember 2008

Dear diary...
                Kamu pasti udah menebak ini kan???? Aku bahagiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa diaryyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy... kalau kamu melihat wajahku, pasti yang akan kamu lihat adalah wajah penuh kebahagiaan. Okey, akan aku ceritakan supaya kamu nggak penasaran...
                Dia menjemputku, aku sempat tegang ketika sosok itu tiba-tiba hadir di hadapanku. Aku nggak tau harus berbuat apa? Hanya cekikikan dalam hati dan rasanya ingin melompat. Ah diary...aku malu sekali...hihihi...
                Aku diam sepanjang perjalanan ke rumahnya, kamu tau? Jantungku terasa sekali detaknya, aku sampai khawatir kalau dia mendengarnya. Apakah aku benar-benar masih remaja? Kenapa sikapku kekanak-kanakan seperti ini? Menyebalkan sekali...
                Sampai di rumahnya, tak lama kemudian adik perempuannya pun datang, aku sedikit lega diary...setidaknya ada yang aku ajak bicara,hehe... tapi rupa-rupanya aku pun segera ditinggal masuk lagi sama mereka.
                Tak lama, adiknya pun kembali menemuiku dan membawa sebuah kotak. Ketika aku menanyakan isinya, dia menyuruhku membukanya saja. Waaaaaaahhh...sebuah gamis dan jilbab yang cantiiikkk sekali, aku sukaa.... waktu itu aku bingung diary, harus kusembunyikan dimana mukaku ini? Aku pengen senyum terusss....
                Dan kamu tau diary? Ibunya juga baik sekali, keluarganya yang lain pun juga baik, aku tidak bisa menceritakan semuanya...aku terlalu lelah dan aku ingin tidur...
                Tapi yang harus kamu tau, aku merasa sangat bahagia ketika dia mengantarkanku menaiki bus ini, dan mengatakan “hati-hati...” . aaahh..pokoknya aku senengg senenggg senenggg...
                Udah ah diary, aku mau tidur, mbak-mbak di sampingku ini sepertinya baik dan akan membangunkanku ketika aku hampir sampai nanti. Nice day.....
                                                                                                      Still 20 desember 2008

Kututup buku merah jambu itu dengan sebuah senyuman, lalu kuelus kotak bersampul bunga-bunga dengan warna orange hijau dan warna dasar kuning yang masih kusimpan hingga kini. Hari ini, 3 tahun lalu.... Apakah aku sudah cukup dewasa untuk mengerti arti cinta...? Entahlah...