Kamu tau fadil? Surat darimu membuatku kembali menitikkan air mata. Aku tak pernah mengerti, kenapa cintaku padamu kurasakan begitu besar. Aku juga tak pernah mengerti, kenapa sayangku untukmu tak pernah habis. Kau adalah sahabat terbaik untukku fadil, sahabat yang mengajariku banyak hal, tentang kebersamaan, tentang bagaimana aku mulai merasakan perasaan yang berbeda ketika menjalani hari-hari bersamamu. Tentang bagaimana bibirku akan melengkungkan sebuah senyuman ketika melihatmu bahagia, tentang bagaimana mataku akan menghangat dan menitikkan airnya ketika melihatmu sakit, melihatmu sedih fadil. Kau mengajariku semuanya. Tentang bagaimana cinta itu tumbuh bersama persahabatan kita.
Kau pernah mengatakannya, bahwa kau juga merasakan hangat yang sama di hatimu. Sebelum ia datang, dan membuatmu perlahan menjauhiku. Aku hampir tak mengenalmu saat itu fadil, kau benar-benar berubah. Kau tak lagi suka bercerita padaku, kau tak lagi suka mendengarkan ceritaku. Aku sedih fadil, tapi aku tak pernah bisa membencimu. Tak akan pernah bisa.
Waktu itu, aku memaksakan diri untuk datang ke acara launching buku terbarumu, aku ingin melihat senyum kebahagiaanmu, dan berharap ada sedikit senyummu untukku. Tapi yang kuharap tak sedikitpun kudapatkan, kau berlalu dengannya, tanpa sedikitpun memandangku. Dan aku, hanya bisa tersenyum melihat sikapmu fadil. Aku lantas berfikir, sahabatku telah hilang dari muka bumi, dan yang kulihat dalam acara launching buku itu bukanlah fadilku. Fadilku sudah tidak ada lagi, tidak ada lagi selain yang ada di hatiku. Yang tetap kusimpan di relung terdalam.
Aku menganggapmu tak ada seiring semakin eratnya kebersamaanmu dengannya, kalian sama-sama penulis dan kalian bekerja bersama. Aku mengerti fadil, ketika kau lebih mencintainya. Bagaimana tidak? Setiap waktumu sering kau habiskan dengannya. Seperti yang orang jawa bilang, witing tresno jalaran soko kulino, dan mungkin itu yang kalian rasakan. Aku tak pernah ingin menyalahkanmu fadil, yang salah adalah aku yang tak pernah ada untukmu dan mungkin hanya dia yang ada.
Aku hampir berputus asa ketika aku masih mencoba manguatkan diri untuk datang padamu dan menanyakan hal itu. Bertanya, apakah rasa di hatimu untukku benar-benar habis. Dan jawabanmu fadil, benar-benar membuatku ingin mati saja daripada merasakan sakit itu.
“rasa itu telah habis, termakan waktu dan istikhoroh” katamu.
Waktu? Ternyata waktu yang kuhabiskan untuk menunggumu, kau habiskan untuk melupakan setiap kebersamaan kita. Bagaimana kau bisa lupa fadil? Ketika kau memboncengku dengan sepeda tuamu, dan aku tertawa bahagia. Bagaimana kau bisa lupa ketika aku terjatuh lalu kau menggapai tanganku dan aku masih bisa tetap tersenyum di sampingmu. Bagaimana kau bisa lupa bahwa aku tak bisa tanpamu dan kita bahagia bila bersama?
Dan Istikhoroh, kau bawa Allah dalam jawabanmu dil. Aku tak berani mendebat apa pun karena petunjuk Allah lah yang terbaik untukmu. Aku hanya bisa menangis, bukan karena menyesali jawabanmu, tapi karena aku ingin ngilu di hatiku sedikit berkurang. Ya, berkurang, karena aku tau ngilunya tak akan pernah habis sampai kapan pun.
Kau tau yang terjadi setelah itu? Aku hanya banyak diam pada siapa pun. berkata dan tersenyum secukupnya pada orang-orang yang mungkin menatapku dengan heran. Aku sering pergi-pergi tak tentu arah, aku melihat aliran sungai yang tenang, berharap mendapatkan ketenangan yang sama. Meski yang kudapat hanyalah mataku yang kembali menghangat karena sungai itu pun menampakkan wajahmu dan kenangan kita. Kenangan kita terlalu banyak dan aku tak mampu menghapusnya dil, takkan pernah mampu.
Aku bahkan tidak berlajar padahal 2 pekan itu aku ujian, aku setengah tidak peduli apa yang akan terjadi. Aku menuliskan apa saja yang aku mau di lembar jawab soal ujianku. Aku benar-benar tak peduli akan nilai-nilaiku, karena aku tau tak akan lagi bisa membanggakannya di depanmu. Dan kamu pasti tau yang terjadi dil, nilaiku benar-benar hancur seiring hancurnya hatiku setelah kepergianmu.
Sampai suatu hari, aku bertemu dengannya dil. Saat itu lagi-lagi aku duduk merenung melihat aliran sungai. Dan tau-tau dia duduk di sampingku, melihat ke arah yang sama, aliran sungai yang tenang itu. Dia hanya diam dan aku pun tak berani memulai pembicaraan. Hanya sesekali kami saling memandang dan bertukar senyum sekilas.
“bagaimana hidupmu, adalah kau yang menentukan jalannya meski akhirnya Allah yang akan mengijinkan atau tidak. Ketika kau hanya terus seperti ini, maka selamanya hidupmu akan seperti ini. Kehilangan itu mengajarkan kita bahwa di dunia ini kita tidak mempunyai apa-apa, lalu apa yang perlu ditangisi karena pada akhirnya kita akan kehilangan semuanya?”
Kata-katanya itu, menyadarkanku bahwa aku tak boleh terus seperti ini dil. Aku harus bisa bangkit dan tersenyum. Aku pasti bisa menjalani hari-hariku dil, harus bisa. Dia terus menyemangatiku sementara aku terus melihatmu semakin jauh meninggalkanku. Aku belajar menerima kenyataan ini dil. Aku tak pernah mengerti apa rahasia Allah untuk kita. Aku hanya mencoba menjalani alur ini, alur yang begitu perih kutapaki tapi aku terus mencobanya.
Lukaku telah sedikit mengering ketika tanganku kembali menerima surat darimu dil. Surat yang telah kutunggu sejak lama, bahkan setelah kau mengucapkan jawaban itu. Surat yang berisi permintaan maafmu atas kejadian waktu itu, kejadian yang mebuatku kehilangan separuh dari nyawaku, kejadian tersakit yang pernah aku alami. Aku tak butuh maafmu karena tanpa kau meminta pun, aku akan selalu memaafkanmu fadil. Dan cinta ini, tak akan pernah habis untukmu.
Tapi entah mengapa kini rasanya berbeda dil, ada ragu, ada hambar yang perlahan menguar seiring tetesan air mataku. Aku takut terluka lagi fadil, aku takut hatiku yang telah rapuh kembali tersakiti dan akhirnya nyawaku yang tinggal separuh akan habis. Dan aku pun juga tak bisa melupakan begitu saja, bahwa dia terus menyemangatiku ketika kau pergi meninggalkanku fadil.
Saat ini, tak ada yang bisa kubalaskan untuk suratmu. Karena perasaan bimbang itu belum juga hilang. Karena aku masih terlalu khawatir bahwa senyum yang kau hadirkan beberapa hari ini, akan berubah lagi menjadi air mata pada nantinya.
Biarlah cinta ini aku simpan dalam diam, fadilku. Sampai suatu hari nanti aku akan memberikannya pada seseorang yang menjabat tangan ayahku dan menyatakan menerima nikahku, lalu menjemputku dengan senyumnya, membawaku ke “gubug reot” penuh cinta, membentuk “madrasah keluarga sakinah” dan bahagia bersama sampai ke surga. Ah...masih saja aku mengingat mimpi kanak-kanak kita.
Rabu, 21 September 2011
hanya mimpi kecilku...
apakah kamu masih ingat masa kecil kita dil? kita sering bermain bersama. aku selalu menceritakan mimpi-mimpiku, dan kau pun selalu menceritakan mimpi-mimpimu. kita mempunyai mimpi yang sama dil, untuk bisa menuliskan apa pun yang kita fikirkan. aku adalah pengagum tulisanmu yang pertama, kau ini memang pandai menulis dil, dan aku hanya ikut-ikutan saja, tulisanku selalu nggak karu-karuan, dan kau selalu menghina tulisanku. aku selalu pura-pura cemberut di hadapanmu, tapi aku selalu membenarkan dalam hati apa yang kau bilang. aku memang tidak pandai menulis.
aku masih ingat, kita sering bermain pengantin-pengantinan. kau menjadi pengantin prianya, dan aku menjadi pengantin wanitanya. rasanya bahagia sekali bermimpi menjadi peri di sampingmu. aku sering tertawa geli ketika mengingatnya, mengingat tingkah polah kita yang kufikir keterlaluan, kanak-kanak yang bermimpi menjadi pengantin.tapi aku suka dengan permainan kita dil, bahkan diam-diam aku memimpikannya menjadi kenyataan. suatu saat nanti, ketika kita sudah sama-sama dewasa, kita benar-benar akan menjadi pengantin yang duduk berdampingan. ah...mimpi yang bodoh.
kita beranjak dewasa dan tak ada yang berubah dengan persahabatan kita, tetap polos, tulus, dan tak pernah dibuat-buat. aku tetap senang mendengar cerita-ceritamu, keluhan-keluhanmu, tangis dan tawamu..begitu pun denganmu dil, kau selalu membuat hariku tak sedetik pun tanpamu...
lalu tiba-tiba saja, jarak memisahkan kita, kau pergi jauh, jauuuhhh sekali, dan aku tak bisa ikut pergi bersamamu. kamu tau dil? setelah memberikan mawar itu padamu, aku lalu pergi ke sungai dimana kita sering bercerita bersama, aku menangis dalam diam di sana. aku takut tanpamu dil. tapi inilah kenyataannya, bahwa kau pergi jauh. meski kau berjanji untuk selalu menghubungiku, tetap saja air mata ini tak mau berhenti menetes.
tak lama tiba pesanmu, mengabari bahwa kau baik-baik saja di sana, aku lega, meski tak lagi dapat menatapmu. dan kau pun mengirimkan sebuah puisi, yang membuatku melengkungkan bibir, rupanya kau sudah mulai bisa menggombali sahabatmu ini,dasar fadil...
hari-hari pun berlalu dan mejaku hampir penuh dengan tulisan-tulisanmu yang selalu aku suka. kau selalu mengirimkan setiap tulisanmu, dan aku selalu mengaguminya. bagaimana bisa kau menulis sebagus itu dil? kau jahat, tak mau mengajariku. aku yakin, suatu saat nanti kau akan menjadi penulis yang besar.
tapi seiring berjalannya waktu, kau mulai berubah dil. kau menghadirkan orang lain dalam persahabatan kita. selama 15 tahun kita bersahabat, kau tak pernah melakukannya. kau selalu bilang bahwa aku yang paling manis, aku satu-satunya peri yang selalu ada di sampingmu. tapi kenapa sekarang kau membawa dia? bahkan kau puji dia di hadapanku dil, kau bilang dia pandai menulis sama sepertimu, dia cantik, dia selalu berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih baik. sepertinya kau benar-benar ingin menggantikanku dengannya dil.
aku selalu berfikir, mungkin kau memang menyukainya. aku memang tak sebaik dia dil, aku tak bisa menulis sepertinya, aku tak bisa membuatmu melambung dengan tulisan-tulisan seperti yang ia lakukan padamu. aku tak bisa menjadi seperti dia dil, karena aku bukan dia dan selamanya tak akan menjadi dia.
perlahan aku mulai merangkak, tertatih, berjalan meninggalkan kebersamaan kita, karena aku semakin yakin bahwa kau menyukainya. dia selalu bisa membuatmu tersenyum. kau selalu tertawa bahagia ketika bersama dengannya. dan itu cukup bagiku dil, cukup bagiku untuk kemudian pergi. karena aku hanya ingin melihat senyummu itu, tak harus dari dekat di sampingmu, bahkan dari jauh pun aku selalu bisa merasakannya.
aku mencoba memahami dil, bahwa kebersamaan kita adalah persahabatan, dan aku harus selalu siap ketika akhirnya kau menemukan cintamu. dan mimpi kita, hanyalah mimpi kanak-kanak yang tak seharusnya aku terus mengharapkannya. dan senyummu, biarlah tetap berada di sini dil, di hatiku yang paling dalam, sampai mata ini terpejam, dan takkan pernah terbuka lagi.
aku masih ingat, kita sering bermain pengantin-pengantinan. kau menjadi pengantin prianya, dan aku menjadi pengantin wanitanya. rasanya bahagia sekali bermimpi menjadi peri di sampingmu. aku sering tertawa geli ketika mengingatnya, mengingat tingkah polah kita yang kufikir keterlaluan, kanak-kanak yang bermimpi menjadi pengantin.tapi aku suka dengan permainan kita dil, bahkan diam-diam aku memimpikannya menjadi kenyataan. suatu saat nanti, ketika kita sudah sama-sama dewasa, kita benar-benar akan menjadi pengantin yang duduk berdampingan. ah...mimpi yang bodoh.
kita beranjak dewasa dan tak ada yang berubah dengan persahabatan kita, tetap polos, tulus, dan tak pernah dibuat-buat. aku tetap senang mendengar cerita-ceritamu, keluhan-keluhanmu, tangis dan tawamu..begitu pun denganmu dil, kau selalu membuat hariku tak sedetik pun tanpamu...
lalu tiba-tiba saja, jarak memisahkan kita, kau pergi jauh, jauuuhhh sekali, dan aku tak bisa ikut pergi bersamamu. kamu tau dil? setelah memberikan mawar itu padamu, aku lalu pergi ke sungai dimana kita sering bercerita bersama, aku menangis dalam diam di sana. aku takut tanpamu dil. tapi inilah kenyataannya, bahwa kau pergi jauh. meski kau berjanji untuk selalu menghubungiku, tetap saja air mata ini tak mau berhenti menetes.
tak lama tiba pesanmu, mengabari bahwa kau baik-baik saja di sana, aku lega, meski tak lagi dapat menatapmu. dan kau pun mengirimkan sebuah puisi, yang membuatku melengkungkan bibir, rupanya kau sudah mulai bisa menggombali sahabatmu ini,dasar fadil...
hari-hari pun berlalu dan mejaku hampir penuh dengan tulisan-tulisanmu yang selalu aku suka. kau selalu mengirimkan setiap tulisanmu, dan aku selalu mengaguminya. bagaimana bisa kau menulis sebagus itu dil? kau jahat, tak mau mengajariku. aku yakin, suatu saat nanti kau akan menjadi penulis yang besar.
tapi seiring berjalannya waktu, kau mulai berubah dil. kau menghadirkan orang lain dalam persahabatan kita. selama 15 tahun kita bersahabat, kau tak pernah melakukannya. kau selalu bilang bahwa aku yang paling manis, aku satu-satunya peri yang selalu ada di sampingmu. tapi kenapa sekarang kau membawa dia? bahkan kau puji dia di hadapanku dil, kau bilang dia pandai menulis sama sepertimu, dia cantik, dia selalu berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih baik. sepertinya kau benar-benar ingin menggantikanku dengannya dil.
aku selalu berfikir, mungkin kau memang menyukainya. aku memang tak sebaik dia dil, aku tak bisa menulis sepertinya, aku tak bisa membuatmu melambung dengan tulisan-tulisan seperti yang ia lakukan padamu. aku tak bisa menjadi seperti dia dil, karena aku bukan dia dan selamanya tak akan menjadi dia.
perlahan aku mulai merangkak, tertatih, berjalan meninggalkan kebersamaan kita, karena aku semakin yakin bahwa kau menyukainya. dia selalu bisa membuatmu tersenyum. kau selalu tertawa bahagia ketika bersama dengannya. dan itu cukup bagiku dil, cukup bagiku untuk kemudian pergi. karena aku hanya ingin melihat senyummu itu, tak harus dari dekat di sampingmu, bahkan dari jauh pun aku selalu bisa merasakannya.
aku mencoba memahami dil, bahwa kebersamaan kita adalah persahabatan, dan aku harus selalu siap ketika akhirnya kau menemukan cintamu. dan mimpi kita, hanyalah mimpi kanak-kanak yang tak seharusnya aku terus mengharapkannya. dan senyummu, biarlah tetap berada di sini dil, di hatiku yang paling dalam, sampai mata ini terpejam, dan takkan pernah terbuka lagi.
cerita sahabat
Aku masih ingat ketika pertama kali aku melihatmu di kelas bahasa inggris. Kau hanya tersenyum, sekilas. Lalu keesokan harinya, hal yang sama terjadi lagi. Lagi-lagi kau hanya tersenyum, namun kali ini sambil menatapku agak lama. Aku tidak tau, kenapa rasanya senang sekali melihatmu, senang melihat kau tersenyum, meski hanya sekilas.
Suatu hari entah hari keberapa kita dalam satu kelas bahasa inggris, aku agak terkejut ketika kau melangkah mendatangiku, namun kucoba untuk tetap memberikan sebuah senyuman. Kulihat wajahmu begitu ceria, di depanku kau tersenyum dan mengulurkan tangan.
“qonita...” katamu.
“khaira...” kujabat tanganmu. Dan jabat tangan itulah awal kisah kita,qoni...
Hari-hari berikutnya kita selalu satu kelas dalam mata kuliah apa pun. Mulanya kita duduk berjauhan, hanya saling bertukar senyum dan sesekali bertegur sapa atau sekedar menanyakan tugas kuliah. Biasa. Lalu lama kelamaan, entah apa yang membuat aku begitu nyaman berinteraksi denganmu. Kita sering duduk bersebelahan. Saling bercerita. Terkadang,bercanda.
Aku sempat bingung ketika kau menanyaiku.
“islam apa?”
Dahiku mendadak berkerut, aku berfikir, apa maksudmu islam apa? Kurasa, kau mengerti kalau aku bingung dan kau pun melanjutkan pertanyaanmu.
“tarbiyah?salafy?HTI?”
Mendadak aku tersenyum lebar, jadi itu maksudmu. Aku hanya menjawab pertanyaanmu dengan senyuman. Tapi ternyata kau masih juga bersemangat menanyaiku.
“biar kutebak, pasti salafy kan” tampangmu sok yakin.
“suka ngaji dimana e?” lagi-lagi kau bertanya karena aku masih saja hanya tersenyum dan diam.
“aku nggak pernah ngaji, aku tu orang bodo. Aku islam ya islam aja,nggak gitu-gituan” jawabku mengerlingkan mata ke arahmu.
“huuu...bo’ong,dari tampangmu kok aku nggak percaya ya”
Lalu kita pun tertawa bersama. Tawa itu,rasanya begitu berbeda qoni. Sebelumnya,aku tak pernah sebahagia itu merasakan tawa bersama makhluk lainnya. Dan itu lah awal perjuangan kita, mencari tempat ngaji bersama, kemana pun. kita selalu saling menyemangati untuk haus akan ilmu, selalu merasa kurang dan kurang, dan selalu ingin mencari lagi.
Aku juga masih ingat, waktu itu, kita membeli nasi bungkus dan memakannya bersama di kosku. Kau sudah memulai makan dan aku masih sibuk merapikan bukuku. Tiba-tiba saja
“neyh...aaaa’...” kau menyuapiku.
Aku memakan makanan dari suapanmu. Kau tau qoni? Itu pertama kali aku merasakan bahwa aku benar-benar mencintaimu. Rasanya bahagia sekali makan dari suapanmu. Aku bersyukur, karena Allah menghadiahiku sahabat sepertimu. Di tengah kesendirian yang selama ini aku rasakan, hadiah Allah kali ini bagitu berharga kurasakan.
Dan setelah itu, persahabatan kita semakin dekat. Bahkan ada orang bilang,kalau kita ini kembar. Kemana-mana selalu berdua, selalu, kau dan aku. Tapi setiap ada orang yang bilang kita kembar, aku selalu menjawab
“apa?kembar?ya nggak lah..dia kan tembem, aku kan enggak”
Dan sudah dipastikan kau akan langsung mencubitku. Cubitanmu sakit qoni, tapi aku tak pernah marah, karena aku tau, cubitanmu itu tanda sayangmu padaku. Aku hanya akan tersenyum dan pura-pura tidak merasakan sakit, agar kau dapat mencubitku sepuasmu. Lalu lama-lama kau kesal sendiri karena aku masih saja bilang bahwa cubitanmu itu tidak terasa. Aku senang mengerjaimu.
Suatu hari, kau mengantarku membeli sebuah sepeda. Karena waktu itu jasa antar toko sudah tidak ada karena hari sudah sore, aku pun memutuskan menaikinya saja sampai kos.
“kamu yakin mau naikin sampai kos”? kamu bengong dan aku mengangguk pasti.
“tapi ini jauh banget khaira...”
“mau gimana lagi???” jawabku.
“ya udah nanti kalo capek gantian yah...” katamu
Aku hanya tersenyum dan langsung menaiki sepeda baruku pilihanmu. Ya,itu pilihanmu, katamu yang bagus warna biru. Baiklah, pilihanmu pilihanku juga.
Sepanjang jalan kau sering sekali bertanya apa mau digantiin naik sepeda dan aku mengendarai motormu. tapi aku selalu bilang tidak, aku nggak mau kamu capek qoni. Aku yakin kuat menaiki sepeda itu sampai kos, asal kau ada di sampingku. Dan aku membuktikannya, aku kuat.
“eh..besok pagi beli soto yuk,boncengan naik sepeda barumu” katamu ketika sampai kosku. Aku pun langsung mengiyakan. Dan kulihat wajahmu begitu berbinar bahagia, aku berfikir terkadang kau begitu kekanakan, tapi lucu.
Dan keesokan harinya aku menjemputmu dengan sepeda baru kita, kau tau kan yang terjadi, aku tidak kuat memboncengmu
“kamu sih tembem-tembem...keberatan kan aku jadinya...hahaha...”
Dan kau balas ejekanku dengan cubitanmu, dan itu semakin membuatku tertawa qoni, entah kenapa aku suka sekali menyebutmu tembem, karena memang kamu itu tembem.
Hhh...qoni...
suatu hari aku mendiamkanmu, hanya karena kau meminta es krim sebagai imbalan ketika aku meminta kau mengantarku. Waktu itu aku begitu marah, karena aku sedang kesal qoni, kesal dengan diriku sendiri yang tidak bisa bersahabat dengan jalan hidupku sendiri. Aku marah-marah padamu. Aku kirimi kau sms
aq itu org mskin,aq ga bsa trz2an mbeli es krim kaya kamu.km tw?aq cm pnya ibu.ayah ga prnah mngrusiq.kalo prshbtanmu prlu imbalan,cri aja shbat yg lainnya
kutulis semua dengan air mata qoni. Setelah itu aku begitu merasa khawatir, aku khawatir kau pergi qoni. Aku yakin sekali kau pasti marah padaku dan akan pergi meninggalkanku. Tapi apa yang terjadi? Tidak berapa lama setelah sms itu kukirim, kau datang membawakan aku es krim.
“kenapa tidak pernah cerita? Aku selalu melihatmu bahagia, aku tidak tau kalau kau menyimpan luka. Aku Cuma bercanda ketika meminta es krim padamu, persahabatanku tidak meminta imbalan.” Matamu berkaca.
Aku langsung memelukmu qoni, menangis di bahumu. Ingin kutumpahkan semua sesak yang kurasa. Ingin kuceritakan semuanya. Aku hanya tidak ingin membebani siapa pun qoni, termasuk kau. Lalu keceritakan semua padamu, tentang lukaku. Bahwa di dunia ini aku hanya ingin senyum ibu. Karena dia lah malaikat yang membesarkanku qoni.
Tak ada yang berubah dengan persahabatan kita setelah itu qoni. Yang ada hanyalah kedekatan yang semakin lama semakin aku rasakan. Bahwa tawa kebersamaan kita, membuat aku merasa semakin menyayangimu.
Tapi setelah lama kita bersama,ada yang mulai berubah setelah kita mulai sibuk dengan dunia kita sendiri qoni. Kita jarang menghabiskan waktu bersama. Kadang aku merasa kecewa ketika mengajakmu pergi tapi kau sering tidak bisa karena ada acara lainnya. Dan aku pun memilih sendiri. Aku kembali merasakan itu qoni, kesendirian yang selalu saja menemaniku kemana pun aku pergi. Aku sering pergi untuk menyendiri. Hanya sekedar melihat aliran sungai, duduk di pinggir jalan melihat kendaraan berlalu lalang. Dan kufikir, mungkin ini lah duniaku yang sebenarnya.
Sampai suatu hari, ibuku sakit qoni. Aku harus merawatnya. Aku harus selalu menjaga senyumnya. Dan senyumnya ada padanya qoni, yang kau tidak suka. Aku harus memilih qoni. Dan aku yakin kau tau mengapa aku memilih ibu, malaikatku.
Dia malaikatku qoni. Aku benar-benar harus pergi meninggalkanmu dan kembali ke duniaku. Dunia kita berbeda qoni.
Selamanya, aku tak akan bisa menjadi wanita sebaik engkau, kau terlalu sempurna qoni.
Maka kini aku harus pergi, bukan karena tak ada lagi rasa cinta di hati ini untukmu. Bukan karena aku tidak nyaman bersamamu. Bukan karena aku tak ingin lagi berjuang bersama. Tapi karena wanita sebaik engkau, hanya pantas bersahabat dengan ia yang baik juga qoni. Dan aku,biarlah aku berjuang dengan caraku sendiri. Biarlah aku berusaha bahagia dengan duniaku ini. Bahagia dengan senyum ibu. Dan coretan ini,untukmu qoni...
Aku mengenalmu lewat jiwa,
Bukan lewat mata...
Aku menjadikanmu sahabat lewat hati,
Bukan sekedar basa basi...
Ku tak tau,
Seperti apa aku dalam pandanganmu...
Selayak apa aku dalam ukhuwahmu,,,
Tapi yang aku tau...
Meski dengan keterbatasanku,,,
Berbalut kekuranganku...
Aku menulis namamu di hatiku,,,
Sejak awal,
Dan...
Takkan pernah terganti,,,
Apalagi terhapus...
Sebagai sahabat di hatiku,,,
Kemaren, hari ini, ataupun nanti...
Selamanya,,,
Suatu hari entah hari keberapa kita dalam satu kelas bahasa inggris, aku agak terkejut ketika kau melangkah mendatangiku, namun kucoba untuk tetap memberikan sebuah senyuman. Kulihat wajahmu begitu ceria, di depanku kau tersenyum dan mengulurkan tangan.
“qonita...” katamu.
“khaira...” kujabat tanganmu. Dan jabat tangan itulah awal kisah kita,qoni...
Hari-hari berikutnya kita selalu satu kelas dalam mata kuliah apa pun. Mulanya kita duduk berjauhan, hanya saling bertukar senyum dan sesekali bertegur sapa atau sekedar menanyakan tugas kuliah. Biasa. Lalu lama kelamaan, entah apa yang membuat aku begitu nyaman berinteraksi denganmu. Kita sering duduk bersebelahan. Saling bercerita. Terkadang,bercanda.
Aku sempat bingung ketika kau menanyaiku.
“islam apa?”
Dahiku mendadak berkerut, aku berfikir, apa maksudmu islam apa? Kurasa, kau mengerti kalau aku bingung dan kau pun melanjutkan pertanyaanmu.
“tarbiyah?salafy?HTI?”
Mendadak aku tersenyum lebar, jadi itu maksudmu. Aku hanya menjawab pertanyaanmu dengan senyuman. Tapi ternyata kau masih juga bersemangat menanyaiku.
“biar kutebak, pasti salafy kan” tampangmu sok yakin.
“suka ngaji dimana e?” lagi-lagi kau bertanya karena aku masih saja hanya tersenyum dan diam.
“aku nggak pernah ngaji, aku tu orang bodo. Aku islam ya islam aja,nggak gitu-gituan” jawabku mengerlingkan mata ke arahmu.
“huuu...bo’ong,dari tampangmu kok aku nggak percaya ya”
Lalu kita pun tertawa bersama. Tawa itu,rasanya begitu berbeda qoni. Sebelumnya,aku tak pernah sebahagia itu merasakan tawa bersama makhluk lainnya. Dan itu lah awal perjuangan kita, mencari tempat ngaji bersama, kemana pun. kita selalu saling menyemangati untuk haus akan ilmu, selalu merasa kurang dan kurang, dan selalu ingin mencari lagi.
Aku juga masih ingat, waktu itu, kita membeli nasi bungkus dan memakannya bersama di kosku. Kau sudah memulai makan dan aku masih sibuk merapikan bukuku. Tiba-tiba saja
“neyh...aaaa’...” kau menyuapiku.
Aku memakan makanan dari suapanmu. Kau tau qoni? Itu pertama kali aku merasakan bahwa aku benar-benar mencintaimu. Rasanya bahagia sekali makan dari suapanmu. Aku bersyukur, karena Allah menghadiahiku sahabat sepertimu. Di tengah kesendirian yang selama ini aku rasakan, hadiah Allah kali ini bagitu berharga kurasakan.
Dan setelah itu, persahabatan kita semakin dekat. Bahkan ada orang bilang,kalau kita ini kembar. Kemana-mana selalu berdua, selalu, kau dan aku. Tapi setiap ada orang yang bilang kita kembar, aku selalu menjawab
“apa?kembar?ya nggak lah..dia kan tembem, aku kan enggak”
Dan sudah dipastikan kau akan langsung mencubitku. Cubitanmu sakit qoni, tapi aku tak pernah marah, karena aku tau, cubitanmu itu tanda sayangmu padaku. Aku hanya akan tersenyum dan pura-pura tidak merasakan sakit, agar kau dapat mencubitku sepuasmu. Lalu lama-lama kau kesal sendiri karena aku masih saja bilang bahwa cubitanmu itu tidak terasa. Aku senang mengerjaimu.
Suatu hari, kau mengantarku membeli sebuah sepeda. Karena waktu itu jasa antar toko sudah tidak ada karena hari sudah sore, aku pun memutuskan menaikinya saja sampai kos.
“kamu yakin mau naikin sampai kos”? kamu bengong dan aku mengangguk pasti.
“tapi ini jauh banget khaira...”
“mau gimana lagi???” jawabku.
“ya udah nanti kalo capek gantian yah...” katamu
Aku hanya tersenyum dan langsung menaiki sepeda baruku pilihanmu. Ya,itu pilihanmu, katamu yang bagus warna biru. Baiklah, pilihanmu pilihanku juga.
Sepanjang jalan kau sering sekali bertanya apa mau digantiin naik sepeda dan aku mengendarai motormu. tapi aku selalu bilang tidak, aku nggak mau kamu capek qoni. Aku yakin kuat menaiki sepeda itu sampai kos, asal kau ada di sampingku. Dan aku membuktikannya, aku kuat.
“eh..besok pagi beli soto yuk,boncengan naik sepeda barumu” katamu ketika sampai kosku. Aku pun langsung mengiyakan. Dan kulihat wajahmu begitu berbinar bahagia, aku berfikir terkadang kau begitu kekanakan, tapi lucu.
Dan keesokan harinya aku menjemputmu dengan sepeda baru kita, kau tau kan yang terjadi, aku tidak kuat memboncengmu
“kamu sih tembem-tembem...keberatan kan aku jadinya...hahaha...”
Dan kau balas ejekanku dengan cubitanmu, dan itu semakin membuatku tertawa qoni, entah kenapa aku suka sekali menyebutmu tembem, karena memang kamu itu tembem.
Hhh...qoni...
suatu hari aku mendiamkanmu, hanya karena kau meminta es krim sebagai imbalan ketika aku meminta kau mengantarku. Waktu itu aku begitu marah, karena aku sedang kesal qoni, kesal dengan diriku sendiri yang tidak bisa bersahabat dengan jalan hidupku sendiri. Aku marah-marah padamu. Aku kirimi kau sms
aq itu org mskin,aq ga bsa trz2an mbeli es krim kaya kamu.km tw?aq cm pnya ibu.ayah ga prnah mngrusiq.kalo prshbtanmu prlu imbalan,cri aja shbat yg lainnya
kutulis semua dengan air mata qoni. Setelah itu aku begitu merasa khawatir, aku khawatir kau pergi qoni. Aku yakin sekali kau pasti marah padaku dan akan pergi meninggalkanku. Tapi apa yang terjadi? Tidak berapa lama setelah sms itu kukirim, kau datang membawakan aku es krim.
“kenapa tidak pernah cerita? Aku selalu melihatmu bahagia, aku tidak tau kalau kau menyimpan luka. Aku Cuma bercanda ketika meminta es krim padamu, persahabatanku tidak meminta imbalan.” Matamu berkaca.
Aku langsung memelukmu qoni, menangis di bahumu. Ingin kutumpahkan semua sesak yang kurasa. Ingin kuceritakan semuanya. Aku hanya tidak ingin membebani siapa pun qoni, termasuk kau. Lalu keceritakan semua padamu, tentang lukaku. Bahwa di dunia ini aku hanya ingin senyum ibu. Karena dia lah malaikat yang membesarkanku qoni.
Tak ada yang berubah dengan persahabatan kita setelah itu qoni. Yang ada hanyalah kedekatan yang semakin lama semakin aku rasakan. Bahwa tawa kebersamaan kita, membuat aku merasa semakin menyayangimu.
Tapi setelah lama kita bersama,ada yang mulai berubah setelah kita mulai sibuk dengan dunia kita sendiri qoni. Kita jarang menghabiskan waktu bersama. Kadang aku merasa kecewa ketika mengajakmu pergi tapi kau sering tidak bisa karena ada acara lainnya. Dan aku pun memilih sendiri. Aku kembali merasakan itu qoni, kesendirian yang selalu saja menemaniku kemana pun aku pergi. Aku sering pergi untuk menyendiri. Hanya sekedar melihat aliran sungai, duduk di pinggir jalan melihat kendaraan berlalu lalang. Dan kufikir, mungkin ini lah duniaku yang sebenarnya.
Sampai suatu hari, ibuku sakit qoni. Aku harus merawatnya. Aku harus selalu menjaga senyumnya. Dan senyumnya ada padanya qoni, yang kau tidak suka. Aku harus memilih qoni. Dan aku yakin kau tau mengapa aku memilih ibu, malaikatku.
Dia malaikatku qoni. Aku benar-benar harus pergi meninggalkanmu dan kembali ke duniaku. Dunia kita berbeda qoni.
Selamanya, aku tak akan bisa menjadi wanita sebaik engkau, kau terlalu sempurna qoni.
Maka kini aku harus pergi, bukan karena tak ada lagi rasa cinta di hati ini untukmu. Bukan karena aku tidak nyaman bersamamu. Bukan karena aku tak ingin lagi berjuang bersama. Tapi karena wanita sebaik engkau, hanya pantas bersahabat dengan ia yang baik juga qoni. Dan aku,biarlah aku berjuang dengan caraku sendiri. Biarlah aku berusaha bahagia dengan duniaku ini. Bahagia dengan senyum ibu. Dan coretan ini,untukmu qoni...
Aku mengenalmu lewat jiwa,
Bukan lewat mata...
Aku menjadikanmu sahabat lewat hati,
Bukan sekedar basa basi...
Ku tak tau,
Seperti apa aku dalam pandanganmu...
Selayak apa aku dalam ukhuwahmu,,,
Tapi yang aku tau...
Meski dengan keterbatasanku,,,
Berbalut kekuranganku...
Aku menulis namamu di hatiku,,,
Sejak awal,
Dan...
Takkan pernah terganti,,,
Apalagi terhapus...
Sebagai sahabat di hatiku,,,
Kemaren, hari ini, ataupun nanti...
Selamanya,,,
karena cinta tidak harus berbentuk bunga...
aku mencintai suamiku karena sifatnya yang apa adanya..
aku begitu menyukai perasaan aman dan tentram...
yang muncul di hati ketika bersanding dengannya...
2 tahun dalam masa pernikahan
harus ku akui bahwa mulai timbul rasa bosan dan lelah dengan kehidupan berumah tangga dengannya...
dan
alasan-alasan untuk mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan..,
aku seorang wanita yang berjiwa sentimentil dan benar-benar sensitive serta berperasaan halus,
aku merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan belaian...
tapi semua itu tidak lagi kuperoleh
suamiku kini jauh berbeda dari apa yang aku harapkan dulu
rasa sensitivenya kurang,
dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana romantis dalam pernikahan kami...
telah memusnahkan semua harapan tentang kehidupan yang ideal...
suatu hari aku beranikan diri untuk menyatakan keinginan untuk bercerai
"mengapa?" dia bertanya terkejut
"aku lelah,kau tidak pernah memberikan cinta yang aku inginkan"
dia terdiam merenung sepanjang malam di depan komputernya
nampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu,padahal tidak
kekecewaan aku semakin bertambah
seorang laki-laki yang tidak bisa mengekspresikan perasaannya
apalagi yang aku harapkan dari dirinya?
dan akhirnya...
dia bertanya "apa yang dapat aku lakukan untuk mengubah pikiranmu?"
aku menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan perlahan
"aku ada 1 pertanyaan,jika kau dapat menemukan jawabannya,aku akan mengubah pikiranku :
seandainya aku menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung
dan kita berdua tahu jika kau memanjat gunung itu kau akan mati
apakah kau akan melakukannya untukku?"
dia pun termenung dan berkata,
"aku akan memberikan jawabannya besok pagi"
hatiku langsung gundah mendengar reaksinya
keesokan paginya,suamiku tidak ada di rumah,dan aku menemukan selembar kertas dengan coretan tangannya di bawah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan...
"sayangku...aku tidak akan mengambilkan bunga itu untukmu...
tetapi...izinkan aku untuk menjelaskan alasannya..."
kalimat pertama ini menghancurkan hatiku,aku lantas membacanya
"sayang...kau biasa menghadapi komputer dan selalu menghadapi masalah dengan program di dalamnya dan akhirnya menangis di depan monitor,aku harus memberikan jari-jariku supaya dapat memantumu dan memperbaiki programnya...
kau selalu lupa membawa kunci ketika keluar rumah,dan aku harus memberikan kakiku untuk menendang pintu dan membuka pintu untukmu ketika pulang...
kamu senang jalan-jalan ke luar kota tetapi sering tersesat di tempat-tempat yang baru kamu kunjungi,aku harus menunggu di rumah agar dapat memberikan mataku untuk menjelaskan jalan melalui peta...
kamu selalu kelelahan pada waktu pergi dengan teman baikmu setiap bulan,dan aku harus memberikan tanganku untuk memijit kakimu yang terkilir...
kamu seseorang yang senang diam di rumah,dan aku selalu khawatir kamu akan menjadi 'aneh'
dan aku harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah
atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami...
kamu selalu menatap komputermu,membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu,,,
aku harus menjaga mataku agar ketika kita tua nanti,aku masih bisa membantumu memotong kuku,dan mencabuti ubanmu...
tangan akan menggenggam tanganmu,membimbingmu menyusuri pantai
menikmati matahari pagi dan pasir yang indah
menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah
seperti cantiknya wajahmu...
tetapi sayangku...
aku tidak akan mengambil bunga itu untuk mati
karena aku tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku
sayangku...aku tahu...
di luar sana banyak orang yang mampu mencintaimu lebih dari aku mencintaimu..
untuk itu sayangku,,,
jika semua yang kuberikan dengan tanganku,
kakiku,
mataku,
tidak cukup bagimu...
aku tidak dapat menahan dirimu untuk mencari tangan,kaki,dan mata lain yang dapat membahagiakanmu..."
air mataku jatuh di atas tulisan dan membuat tintanya menjadi kabur
tetapi aku tetap berusaha untuk membaca selanjutnya
"dan sekarang sayangku...
kamu telah selesai mebaca jawabanku
jika kamu berpuas hati dengan semua jawaban ini dan tetap menginginkanku tinggal di rumah ini
tolong bukakan pintu rumah kita
aku sekarang di luar pintu menunggu jawabanmu
jika kamu tidak puas sayangku...
biarkan aku masuk untuk mengambil barang-barangku
dan aku tidak akan menyusahkan hidupmu lagi
percayalah...kebahagiaanku adalah kau bahagia..."
aku segera berlari membuka pintu dan...
melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah sendu
sambil tangan memegang susu dan roti kesukaanku..
oh Tuhan...baru aku tahu...
tidak ada orang lain yang lebih mencintaiku lebih dari dia mencintaiku...
aku begitu menyukai perasaan aman dan tentram...
yang muncul di hati ketika bersanding dengannya...
2 tahun dalam masa pernikahan
harus ku akui bahwa mulai timbul rasa bosan dan lelah dengan kehidupan berumah tangga dengannya...
dan
alasan-alasan untuk mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan..,
aku seorang wanita yang berjiwa sentimentil dan benar-benar sensitive serta berperasaan halus,
aku merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan belaian...
tapi semua itu tidak lagi kuperoleh
suamiku kini jauh berbeda dari apa yang aku harapkan dulu
rasa sensitivenya kurang,
dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana romantis dalam pernikahan kami...
telah memusnahkan semua harapan tentang kehidupan yang ideal...
suatu hari aku beranikan diri untuk menyatakan keinginan untuk bercerai
"mengapa?" dia bertanya terkejut
"aku lelah,kau tidak pernah memberikan cinta yang aku inginkan"
dia terdiam merenung sepanjang malam di depan komputernya
nampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu,padahal tidak
kekecewaan aku semakin bertambah
seorang laki-laki yang tidak bisa mengekspresikan perasaannya
apalagi yang aku harapkan dari dirinya?
dan akhirnya...
dia bertanya "apa yang dapat aku lakukan untuk mengubah pikiranmu?"
aku menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan perlahan
"aku ada 1 pertanyaan,jika kau dapat menemukan jawabannya,aku akan mengubah pikiranku :
seandainya aku menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung
dan kita berdua tahu jika kau memanjat gunung itu kau akan mati
apakah kau akan melakukannya untukku?"
dia pun termenung dan berkata,
"aku akan memberikan jawabannya besok pagi"
hatiku langsung gundah mendengar reaksinya
keesokan paginya,suamiku tidak ada di rumah,dan aku menemukan selembar kertas dengan coretan tangannya di bawah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan...
"sayangku...aku tidak akan mengambilkan bunga itu untukmu...
tetapi...izinkan aku untuk menjelaskan alasannya..."
kalimat pertama ini menghancurkan hatiku,aku lantas membacanya
"sayang...kau biasa menghadapi komputer dan selalu menghadapi masalah dengan program di dalamnya dan akhirnya menangis di depan monitor,aku harus memberikan jari-jariku supaya dapat memantumu dan memperbaiki programnya...
kau selalu lupa membawa kunci ketika keluar rumah,dan aku harus memberikan kakiku untuk menendang pintu dan membuka pintu untukmu ketika pulang...
kamu senang jalan-jalan ke luar kota tetapi sering tersesat di tempat-tempat yang baru kamu kunjungi,aku harus menunggu di rumah agar dapat memberikan mataku untuk menjelaskan jalan melalui peta...
kamu selalu kelelahan pada waktu pergi dengan teman baikmu setiap bulan,dan aku harus memberikan tanganku untuk memijit kakimu yang terkilir...
kamu seseorang yang senang diam di rumah,dan aku selalu khawatir kamu akan menjadi 'aneh'
dan aku harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah
atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami...
kamu selalu menatap komputermu,membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu,,,
aku harus menjaga mataku agar ketika kita tua nanti,aku masih bisa membantumu memotong kuku,dan mencabuti ubanmu...
tangan akan menggenggam tanganmu,membimbingmu menyusuri pantai
menikmati matahari pagi dan pasir yang indah
menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah
seperti cantiknya wajahmu...
tetapi sayangku...
aku tidak akan mengambil bunga itu untuk mati
karena aku tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku
sayangku...aku tahu...
di luar sana banyak orang yang mampu mencintaimu lebih dari aku mencintaimu..
untuk itu sayangku,,,
jika semua yang kuberikan dengan tanganku,
kakiku,
mataku,
tidak cukup bagimu...
aku tidak dapat menahan dirimu untuk mencari tangan,kaki,dan mata lain yang dapat membahagiakanmu..."
air mataku jatuh di atas tulisan dan membuat tintanya menjadi kabur
tetapi aku tetap berusaha untuk membaca selanjutnya
"dan sekarang sayangku...
kamu telah selesai mebaca jawabanku
jika kamu berpuas hati dengan semua jawaban ini dan tetap menginginkanku tinggal di rumah ini
tolong bukakan pintu rumah kita
aku sekarang di luar pintu menunggu jawabanmu
jika kamu tidak puas sayangku...
biarkan aku masuk untuk mengambil barang-barangku
dan aku tidak akan menyusahkan hidupmu lagi
percayalah...kebahagiaanku adalah kau bahagia..."
aku segera berlari membuka pintu dan...
melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah sendu
sambil tangan memegang susu dan roti kesukaanku..
oh Tuhan...baru aku tahu...
tidak ada orang lain yang lebih mencintaiku lebih dari dia mencintaiku...
mengapa berubah...?
manusia terkadang berubah karena sesuatu hal. begitu juga denganmu, dan juga aku, kita. tak banyak yang kita tau, apa yang akan terjadi nanti. kita pun tak pernah tau, apa rahasia Allah di balik hal-hal yang terjadi pada kita saat ini.
hhh...aku sulit untuk berucap. maaf itu telah sepenuhnya kuberikan untukmu, bahkan sebelum kau meminta. aku pun masih tetap berusaha bersikap sewajarnya padamu sebelum maaf itu datang, memintamu sekedar bertemu ketika kau datang ke kotaku. meski jawabanmu dingin dan membuatku kembali sakit. tapi aku tak pernah membencimu, tak pernah.
bukan aku tak mau membuka hati, tapi aku takut tersakiti. sebut saja aku pengecut yang kalah sebelum bertanding. sebut saja begitu. karena mungkin itu lah keadaanku saat ini. aku pernah bermimpi, dan aku tak pernah lelah untuk mewujudkan mimpi itu, lalu ketika tiba-tiba mimpi itu hilang begitu saja...salahkah bila aku takut untuk bermimpi lagi? salah, ya..mungkin jawabannya adalah salah tapi itulah yang kualami. aku takut untuk bermimpi lagi menjadi satu-satunya ratu di hatimu.
15 tahun menjadi sahabatmu, kau tak pernah membuatku secemburu ini, fadil. kau selalu tak pernah menggubris wanita-wanita 'menyebalkan' yang ingin dekat denganmu. kau selalu menjaga dirimu, hatimu, dan fikiranmu dari wanita lain. tapi yang kau lakukan beberapa waktu lalu berbeda, berbeda sekali.
bagaimana bisa kau menuliskan bagaimana kalian bertemu, bagaimana kalian tertawa bersama di bawah hujan, bagaimana ia menyentuh tanganmu, bagaimana kalian mulai merasakan hangat yang sama di hati kalian. ah...fadiiilll...rasanya aku ingin berteriak bila mengingat itu semua. kau berubah, berubah fadil.
kau yang kukenal bukanlah seperti itu. kau yang mencintai suratur rahman sebagaimana aku mencintainya. kau yang merasa bersalah ketika memboncengku saat kita telah sama-sama dewasa. kau yang tak pernah menyentuh walaupun ujung jilbabku. kau yang aku merasa paling menjagaku meski kita merasakan hangat itu. tapi kenapa ia membuatmu berubah? kenapa engkau membiarkan ia membuatmu berubah? kenapa kau biarkan ia merebut fadilku?
salahkah bila aku marah? salah, tak seharusnya aku marah karena kau bukan milikku. tapi aku sahabatmu yang selalu mencintaimu fadil. yang selalu mendoakanmu agar kau selalu diberi kebaikan, agar kau bahagia meski kita begitu jauh. kenapa kamu? apa yang terjadi padamu hingga kau berubah? apakah dunia yang akan kau jadikan alasan? kau bukanlah yang seperti itu fadil, aku mengenalmu, aku sangat mengenalmu.
kini, aku bahagia kau kembali, tapi luka yang pernah kau beri masih tertanam kuat di hatiku, di fikiranku. dan aku pun tak tau, sudah selesai kah 'urusan' kalian? atau suatu hari nanti, kau akan mengulangi kesalahan yang sama dengannya? hhhh...jahatnya aku yang sulit percaya padamu.
oceans apart day after day, and i slowly go insane. i hear your voice on the line, but it doesn't stop the pain....
fadil...tetaplah di sini, meyakinkanku, bahwa kau adalah sahabat terbaik untukku. bahwa kau benar-benar kembali, bahwa kau tak akan mengulangi kesalahan yang sama. aku akan selalu di sini, untuk kembali mendengar ceritamu, untuk mengobati lelahmu, untuk tertawa bersama denganmu. dan kisah kita, akan kembali kutulis dalam buku berwarna jingga itu. buku yang hampir kubuang setelah mendengar jawabanmu, namun kuurungkan karena aku tau kau akan kembali. dan kini kau kembali.hhh...aku tak tau harus berkata apa.
kau ingat kata yang pernah kau berikan padaku? "i will be your strength..i will give you hope. keeping your faith when it's gone. the one you should call,was standing here all along..." jangan pernah melupakannya lagi fadil,jangan pernah.
dan apa yang akan terjadi nanti, biarlah Ar Rahman yang menunjukkan jalanNya...
hhh...aku sulit untuk berucap. maaf itu telah sepenuhnya kuberikan untukmu, bahkan sebelum kau meminta. aku pun masih tetap berusaha bersikap sewajarnya padamu sebelum maaf itu datang, memintamu sekedar bertemu ketika kau datang ke kotaku. meski jawabanmu dingin dan membuatku kembali sakit. tapi aku tak pernah membencimu, tak pernah.
bukan aku tak mau membuka hati, tapi aku takut tersakiti. sebut saja aku pengecut yang kalah sebelum bertanding. sebut saja begitu. karena mungkin itu lah keadaanku saat ini. aku pernah bermimpi, dan aku tak pernah lelah untuk mewujudkan mimpi itu, lalu ketika tiba-tiba mimpi itu hilang begitu saja...salahkah bila aku takut untuk bermimpi lagi? salah, ya..mungkin jawabannya adalah salah tapi itulah yang kualami. aku takut untuk bermimpi lagi menjadi satu-satunya ratu di hatimu.
15 tahun menjadi sahabatmu, kau tak pernah membuatku secemburu ini, fadil. kau selalu tak pernah menggubris wanita-wanita 'menyebalkan' yang ingin dekat denganmu. kau selalu menjaga dirimu, hatimu, dan fikiranmu dari wanita lain. tapi yang kau lakukan beberapa waktu lalu berbeda, berbeda sekali.
bagaimana bisa kau menuliskan bagaimana kalian bertemu, bagaimana kalian tertawa bersama di bawah hujan, bagaimana ia menyentuh tanganmu, bagaimana kalian mulai merasakan hangat yang sama di hati kalian. ah...fadiiilll...rasanya aku ingin berteriak bila mengingat itu semua. kau berubah, berubah fadil.
kau yang kukenal bukanlah seperti itu. kau yang mencintai suratur rahman sebagaimana aku mencintainya. kau yang merasa bersalah ketika memboncengku saat kita telah sama-sama dewasa. kau yang tak pernah menyentuh walaupun ujung jilbabku. kau yang aku merasa paling menjagaku meski kita merasakan hangat itu. tapi kenapa ia membuatmu berubah? kenapa engkau membiarkan ia membuatmu berubah? kenapa kau biarkan ia merebut fadilku?
salahkah bila aku marah? salah, tak seharusnya aku marah karena kau bukan milikku. tapi aku sahabatmu yang selalu mencintaimu fadil. yang selalu mendoakanmu agar kau selalu diberi kebaikan, agar kau bahagia meski kita begitu jauh. kenapa kamu? apa yang terjadi padamu hingga kau berubah? apakah dunia yang akan kau jadikan alasan? kau bukanlah yang seperti itu fadil, aku mengenalmu, aku sangat mengenalmu.
kini, aku bahagia kau kembali, tapi luka yang pernah kau beri masih tertanam kuat di hatiku, di fikiranku. dan aku pun tak tau, sudah selesai kah 'urusan' kalian? atau suatu hari nanti, kau akan mengulangi kesalahan yang sama dengannya? hhhh...jahatnya aku yang sulit percaya padamu.
oceans apart day after day, and i slowly go insane. i hear your voice on the line, but it doesn't stop the pain....
fadil...tetaplah di sini, meyakinkanku, bahwa kau adalah sahabat terbaik untukku. bahwa kau benar-benar kembali, bahwa kau tak akan mengulangi kesalahan yang sama. aku akan selalu di sini, untuk kembali mendengar ceritamu, untuk mengobati lelahmu, untuk tertawa bersama denganmu. dan kisah kita, akan kembali kutulis dalam buku berwarna jingga itu. buku yang hampir kubuang setelah mendengar jawabanmu, namun kuurungkan karena aku tau kau akan kembali. dan kini kau kembali.hhh...aku tak tau harus berkata apa.
kau ingat kata yang pernah kau berikan padaku? "i will be your strength..i will give you hope. keeping your faith when it's gone. the one you should call,was standing here all along..." jangan pernah melupakannya lagi fadil,jangan pernah.
dan apa yang akan terjadi nanti, biarlah Ar Rahman yang menunjukkan jalanNya...
sariawan
hari ini aku benar-benar harus banyak mengalah rupanya. setelah seharian capek mengurusi bermacam persiapan lomba, aku pula yang ditunjuk oleh teman-teman untuk tilawatil qur'an ketika acara perlombaan anak-anak dimulai. dan aku memang dipaksa untuk terpaksa melakukannya. artinya memang tak ada pilihan lain selain mengiyakan paksaan itu.
aku mengomel sendiri dalam hati, kenapa aku sih, kenapa tidak yang lain saja. adi yang biasanya tilawatil qur'an tidak ada saat rapat siang itu. dan MC sudah harus mencatat siapa yang akan tilawatil qur'an di acara pembukaan nanti, dan di sana akhirnya tertulis namaku, ya ampun!
sepanjang perjalanan pulang dari sekolah aku terus latihan, mengingat-ingat nada yang pernah aku pelajari. dan hasilnya, banyak yang lupa. hhh...aku sampai nggak konsentrasi naik motor, karena lebih konsentrasi mengingat nada-nada yang pernah aku alunkan beberapa tahun lalu, lama sekali tidak latihan.
sampai di kos pun, aku tidak langsung mengganti baju. malah berdiri di depan cermin kemudian kembali mengingat nada-nada itu lagi. ah. ada ayat yang aku ragu apa benar bunyinya seperti itu, aku pun langsung mengambil al qur'an dan memastikan. ah ternyata hafalan surat itu belum terhapus dari ingatanku. aku tinggal membenarkan nada-nada yang kurasa "fals" dan aneh untuk didengarkan. tak jarang aku tertawa sendiri karena nadaku terdengar lucu.
setelah cukup lama melakukan ritual itu di depan kaca dan kurasa cukup lumayan, barulah aku ingat untuk mengganti pakaian dan akhirnya aku buka laptop. ah kenapa kepalaku tiba-tiba berdenyut-denyut ya. tapi aku paksakan untuk tetap membuka laptop. kebetulan sekali ada teman mengobrol, aku langsung nyerocos tentang jengkelku disuruh tilawatil qur'an.
"kamu disuruh tilawatil qur'an???" temanku itu tampak shock.
"iya" aku jawab dengan masih jengkel.
"ya ampun khairaaaaaa...."
??????????????? aku penasaran.
"suaramu...suaramu itu aurot!"
aku sontak kaget. astaghfirullah. dodooolll sekali. kenapa aku tidak memikirkan ini????
ketika dulu aku diminta guru untuk tilawatil qur'an, itu adalah masa kanakku yang kalau didengar siapa pun akan 'aman-aman' saja. tapi aku sekarang uda besar kan? aku hampir 21 tahun. aku lupa, benar-benar lupa! kurasakan kepalaku semakin berdenyut-denyut.
"eh tapi nggak papa sih..." temanku melanjutkan
"nggak papa gimana????" aku makin bingung.
"kamu kan masih anak di bawah umur, jadi nggak papa kayaknya baca tilawatil qur'an, nggak akan ada yang kena efek suara anak kecil"
"what?????" aku justru tertawa mendengar kata-katanya. dasar.
"aku harus gimana neeeyyyhh???" aku bingung.
"cari temanmu yang laki-laki untuk tilawatil qur'an masa nggak ada. udah gitu aja kuq repot."
ah kepalaku makin berdenyut-denyut dan kurasakan sakit juga di mulut, ya ampun jangan-jangan????dan...aaa...benar! aku sariawan! pantas saja sakitnya bukan main, sampai pakai demam segala. kebiasaan buruk, kalo mau sariawan harus ada ritual "nggregesi"nya. akhirnya aku ketiduran meskipun belum menemukan solusi.
ketika bangun aku kaget sekali. jamnya uda mepet dengan acara berlangsung. aku segera bersiap-siap dan buru-buru berangkat. teman-teman udah berkali-kali sms aku untuk segera berangkat, karena aku harus tilawati qur'an maka aku harus berangkat lebih awal. ah tapi badanku lemas sekali mau diajak bangun, kalau tidak ingat amanah itu, aku sudah pastikan akan memilih tidur dan menikmati sakit itu.
tapi keadaan berkata lain dan akhirnya aku pun memaksakan diri untuk berangkat dan dengan sedikit ngebut aku bisa sampai sebelum acara dimulai. aku menunggu di perpustakaan. masih menimbang-nimbang baik dan buruknya, ah membuat kepalaku tambah senut-senut aja. sampai sosok itu datang, Adi datang. aku girang sekali.
dengan langkah gontai aku mengikutinya. aku sampaikan padanya kalau aku sedang tidak enak badan. aku memohon-mohon padanya untuk menggantikanku tilawatil qur'an. dia mengira aku mengada-ada dan mencari alasan saja. aku sampai menunjukkan sariawanku yang baru nongol dan akhirnya dia mau percaya. hhfff...sedikit lega.
aku pun langsung menghubungi MC untuk mengubah namaku menjadi namanya untuk tilawatil qur'an. ternyata nggak sampai di situ, dia pakai acara berubah pikiran berkali-kali. mau tidak mau tidak. ah aku sedikit kesal. ingin memaksakan diri untuk tetap tilawatil qur'an saja daripada ribet. tapi akhirnya dia menyetujui untuk menggantikanku. alhamdulillah.
aku legaaaaa sekali saat dia sudah selesai menjalankan tugasnya, yang berarti tugasku juga telah usai. lega, benar-benar lega. sampai aku dengan tanpa menghiraukan rasa sakit karena sariawan itu untuk melahap makanan dan minuman yang ada di depanku, nikmat sekali.
"terima kasih pahlawan di siang bolong" kata-kataku meledeknya sambil terkekeh.
"katanya sariawan kok makannya habis banyak khaira" adi nyeletuk.
hahahahahahaha aku tertawa dalam hati, iya ya??? sariawannya memang masih sakit, tapi sudah tidak terlalu aku fikirkan. akhirnya aku tahu, bahwa sariawan itu adalah pertolongan Allah untuk menyelamatkanku dari keraguan tentang suaraku yang entah tergolong sebagai aurot atau bukan. bukankah "menolak kemudhorotan lebih diutamakan daripada mengambil manfaat"? entahlah. yang jelas sariawan itu menolongku. terima kasih Allah karena telah menghadirkannya dalam waktu yang tepat. sariawan oh sariawan.
--------dibuat atas permintaan teman,sudah saya penuhi yaaa... ^_^ ---------------
aku mengomel sendiri dalam hati, kenapa aku sih, kenapa tidak yang lain saja. adi yang biasanya tilawatil qur'an tidak ada saat rapat siang itu. dan MC sudah harus mencatat siapa yang akan tilawatil qur'an di acara pembukaan nanti, dan di sana akhirnya tertulis namaku, ya ampun!
sepanjang perjalanan pulang dari sekolah aku terus latihan, mengingat-ingat nada yang pernah aku pelajari. dan hasilnya, banyak yang lupa. hhh...aku sampai nggak konsentrasi naik motor, karena lebih konsentrasi mengingat nada-nada yang pernah aku alunkan beberapa tahun lalu, lama sekali tidak latihan.
sampai di kos pun, aku tidak langsung mengganti baju. malah berdiri di depan cermin kemudian kembali mengingat nada-nada itu lagi. ah. ada ayat yang aku ragu apa benar bunyinya seperti itu, aku pun langsung mengambil al qur'an dan memastikan. ah ternyata hafalan surat itu belum terhapus dari ingatanku. aku tinggal membenarkan nada-nada yang kurasa "fals" dan aneh untuk didengarkan. tak jarang aku tertawa sendiri karena nadaku terdengar lucu.
setelah cukup lama melakukan ritual itu di depan kaca dan kurasa cukup lumayan, barulah aku ingat untuk mengganti pakaian dan akhirnya aku buka laptop. ah kenapa kepalaku tiba-tiba berdenyut-denyut ya. tapi aku paksakan untuk tetap membuka laptop. kebetulan sekali ada teman mengobrol, aku langsung nyerocos tentang jengkelku disuruh tilawatil qur'an.
"kamu disuruh tilawatil qur'an???" temanku itu tampak shock.
"iya" aku jawab dengan masih jengkel.
"ya ampun khairaaaaaa...."
??????????????? aku penasaran.
"suaramu...suaramu itu aurot!"
aku sontak kaget. astaghfirullah. dodooolll sekali. kenapa aku tidak memikirkan ini????
ketika dulu aku diminta guru untuk tilawatil qur'an, itu adalah masa kanakku yang kalau didengar siapa pun akan 'aman-aman' saja. tapi aku sekarang uda besar kan? aku hampir 21 tahun. aku lupa, benar-benar lupa! kurasakan kepalaku semakin berdenyut-denyut.
"eh tapi nggak papa sih..." temanku melanjutkan
"nggak papa gimana????" aku makin bingung.
"kamu kan masih anak di bawah umur, jadi nggak papa kayaknya baca tilawatil qur'an, nggak akan ada yang kena efek suara anak kecil"
"what?????" aku justru tertawa mendengar kata-katanya. dasar.
"aku harus gimana neeeyyyhh???" aku bingung.
"cari temanmu yang laki-laki untuk tilawatil qur'an masa nggak ada. udah gitu aja kuq repot."
ah kepalaku makin berdenyut-denyut dan kurasakan sakit juga di mulut, ya ampun jangan-jangan????dan...aaa...benar! aku sariawan! pantas saja sakitnya bukan main, sampai pakai demam segala. kebiasaan buruk, kalo mau sariawan harus ada ritual "nggregesi"nya. akhirnya aku ketiduran meskipun belum menemukan solusi.
ketika bangun aku kaget sekali. jamnya uda mepet dengan acara berlangsung. aku segera bersiap-siap dan buru-buru berangkat. teman-teman udah berkali-kali sms aku untuk segera berangkat, karena aku harus tilawati qur'an maka aku harus berangkat lebih awal. ah tapi badanku lemas sekali mau diajak bangun, kalau tidak ingat amanah itu, aku sudah pastikan akan memilih tidur dan menikmati sakit itu.
tapi keadaan berkata lain dan akhirnya aku pun memaksakan diri untuk berangkat dan dengan sedikit ngebut aku bisa sampai sebelum acara dimulai. aku menunggu di perpustakaan. masih menimbang-nimbang baik dan buruknya, ah membuat kepalaku tambah senut-senut aja. sampai sosok itu datang, Adi datang. aku girang sekali.
dengan langkah gontai aku mengikutinya. aku sampaikan padanya kalau aku sedang tidak enak badan. aku memohon-mohon padanya untuk menggantikanku tilawatil qur'an. dia mengira aku mengada-ada dan mencari alasan saja. aku sampai menunjukkan sariawanku yang baru nongol dan akhirnya dia mau percaya. hhfff...sedikit lega.
aku pun langsung menghubungi MC untuk mengubah namaku menjadi namanya untuk tilawatil qur'an. ternyata nggak sampai di situ, dia pakai acara berubah pikiran berkali-kali. mau tidak mau tidak. ah aku sedikit kesal. ingin memaksakan diri untuk tetap tilawatil qur'an saja daripada ribet. tapi akhirnya dia menyetujui untuk menggantikanku. alhamdulillah.
aku legaaaaa sekali saat dia sudah selesai menjalankan tugasnya, yang berarti tugasku juga telah usai. lega, benar-benar lega. sampai aku dengan tanpa menghiraukan rasa sakit karena sariawan itu untuk melahap makanan dan minuman yang ada di depanku, nikmat sekali.
"terima kasih pahlawan di siang bolong" kata-kataku meledeknya sambil terkekeh.
"katanya sariawan kok makannya habis banyak khaira" adi nyeletuk.
hahahahahahaha aku tertawa dalam hati, iya ya??? sariawannya memang masih sakit, tapi sudah tidak terlalu aku fikirkan. akhirnya aku tahu, bahwa sariawan itu adalah pertolongan Allah untuk menyelamatkanku dari keraguan tentang suaraku yang entah tergolong sebagai aurot atau bukan. bukankah "menolak kemudhorotan lebih diutamakan daripada mengambil manfaat"? entahlah. yang jelas sariawan itu menolongku. terima kasih Allah karena telah menghadirkannya dalam waktu yang tepat. sariawan oh sariawan.
--------dibuat atas permintaan teman,sudah saya penuhi yaaa... ^_^ ---------------
terlalu singkat....
"katakan padaku, apakah rasa itu masih ada di hatimu. apakah hanya aku yang ada di fikiranmu siang dan malam. kalau ya terima kasih dan aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini lagi. tapi kalau tidak, aku akan mundur..." katamu..
aq hanya tersenyum membacanya. semudah ini kau untuk mundur? baiklah, mundurlah.
bukan sehari dua hari, bukan pula seminggu dua minggu aku menunggu diammu. diam tanpa ada kepastian apakah ada rasa itu, apakah hanya aku yang ada di benakmu? dan aku tak pernah mengancammu seperti ini, tak pernah mengancam untuk mundur atau untuk lainnya. karena cinta itu letaknya di hati,fadil. bukan di fikiran. dan kata-katamu itu terlalu egois untuk aku terima. maka jika kau memang ingin pergi, pergilah saja.
kamu sangat tau sifatku fadil, sejak kita mulai menyadari rasa selain persahabatan itu, kamu tau bahwa aku begitu pencemburu. kau tau, sangat tau. meski kau selalu bersikap cuek menghadapi sikapku, aku tau kau mempedulikannya. karena aku pun tau sifatmu.
lalu kebodohan apa yang ada di fikiranmu sehingga kamu melakukan kesalahan terfatal itu? ah...aku sudah lelah marah-marah karena hal ini. dan aku hampir tak peduli, apa yang dulu telah kau lakukan. aku lelah meneteskan air mata setiap mengingatnya. aku lelah merasakan ngilu setiap membaca lagi tulisan-tulisanmu tentangnya. tapi aku pun bodoh, buat apa aku membacanya? untuk merasakan ngilu itu lagi?
entahlah fadil. aku tak mengerti apa yang aku inginkan. kadang merasa ingin begitu dekat denganmu, tapi kadang rasa ngilu itu selalu menggangguku. maka jika kamu memang ingin pergi, aku tak akan melarangmu. pergilah jika itu yang kau inginkan. pergilah jika menunggu lukaku karenamu sembuh terlalu menyulitkanmu. pergilah fadil, pergilah.
jika suatu saat nanti aku menyadari perasaanku yang sebenanrnya bahwa hanya kau lah pemilik hati ini dan hatimu telah terkunci rapat untukku, aku tak akan menyesalinya. karena Allah selalu punya rencana atas apa yang terjadi pada kita. selalu.
aq hanya tersenyum membacanya. semudah ini kau untuk mundur? baiklah, mundurlah.
bukan sehari dua hari, bukan pula seminggu dua minggu aku menunggu diammu. diam tanpa ada kepastian apakah ada rasa itu, apakah hanya aku yang ada di benakmu? dan aku tak pernah mengancammu seperti ini, tak pernah mengancam untuk mundur atau untuk lainnya. karena cinta itu letaknya di hati,fadil. bukan di fikiran. dan kata-katamu itu terlalu egois untuk aku terima. maka jika kau memang ingin pergi, pergilah saja.
kamu sangat tau sifatku fadil, sejak kita mulai menyadari rasa selain persahabatan itu, kamu tau bahwa aku begitu pencemburu. kau tau, sangat tau. meski kau selalu bersikap cuek menghadapi sikapku, aku tau kau mempedulikannya. karena aku pun tau sifatmu.
lalu kebodohan apa yang ada di fikiranmu sehingga kamu melakukan kesalahan terfatal itu? ah...aku sudah lelah marah-marah karena hal ini. dan aku hampir tak peduli, apa yang dulu telah kau lakukan. aku lelah meneteskan air mata setiap mengingatnya. aku lelah merasakan ngilu setiap membaca lagi tulisan-tulisanmu tentangnya. tapi aku pun bodoh, buat apa aku membacanya? untuk merasakan ngilu itu lagi?
entahlah fadil. aku tak mengerti apa yang aku inginkan. kadang merasa ingin begitu dekat denganmu, tapi kadang rasa ngilu itu selalu menggangguku. maka jika kamu memang ingin pergi, aku tak akan melarangmu. pergilah jika itu yang kau inginkan. pergilah jika menunggu lukaku karenamu sembuh terlalu menyulitkanmu. pergilah fadil, pergilah.
jika suatu saat nanti aku menyadari perasaanku yang sebenanrnya bahwa hanya kau lah pemilik hati ini dan hatimu telah terkunci rapat untukku, aku tak akan menyesalinya. karena Allah selalu punya rencana atas apa yang terjadi pada kita. selalu.
Langganan:
Postingan (Atom)