Jumat, 27 Mei 2016

Bolehkah kusebut persahabatan ini… Cinta

Wajahnya basah, tubuh tingginya juga lumayan kuyup. Aku mengamatinya dalam diam. Wajah lelahnya tak memudarkan sedikit pun senyum dari sana. Ia sibuk melihat hujan yang belum kunjung reda. Sesekali ia melihat jam tangannya. Memang sudah cukup malam. Dan kami masih terdampar di warung kopi ini berdua saja.

“Kamu nanti pulang sendiri nggak papa Sin?” tanyanya memudarkan lamunanku.

“Iya nggak papa Vid. Aku sudah biasa pulang malam sendiri.” jawabku.

“Ya sudah kalau begitu.”

Ah.. David. Dia masih saja belum peka. Aku sering bertanya-tanya tentang perasaannya. Kadang tampak begitu penuh perhatian dan membuatku merasa spesial. Tapi kadang seperti biasa saja, karena ia melakukan hal yang sama kepada semua teman.

“Ini gara-gara Dina. Pakai acara titip bingkisan untuk Vero segala. Mana Veronya nggak bisa dihubungi lagi. Ini kan udah malem banget. Hujannya juga belum reda dari tadi.”

Ah…David. Nikmati saja lah kebersamaan kita. Aku justru suka berlama-lama denganmu.

Seharian ini aku menunggu cukup lama untuk bisa bertemu dengannya. Dan hujan ini sungguh membahagiakanku. Tidak sia-sia aku menunggunya cukup lama. Karena aku juga bisa berlama-lama bersama dengannya.

“Kopimu dingin nanti… minumlah Vid.”

“Hm mm..”

David. Sebuah nama yang sudah cukup lama ku kenal. Di kampus ini memang ada beberapa teman laki-laki yang satu kelas denganku. Namun David termasuk teman yang cukup hangat. Sehingga tanpa sadar aku pun merasa semakin akrab dengannya.

Awalnya semua terasa biasa saja bagiku. Aku juga terbiasa akrab dengan semua orang. Tapi bersama David, aku merasakan ada yang berbeda. Aku selalu mengelak setiap aku memikirkannya. Selalu ku abaikan hatiku yang berkata bahwa ada sesuatu yang istimewa. Aku selalu berfikir bahwa semua hanyalah biasa saja. Selalu begitu. Tapi semakin lama, hari-hariku semakin penuh dengan namanya.

Teman-teman pun banyak yang bertanya, ada apa denganku dan David. Tapi aku bisa menjawab apa. David selalu saja menjawabnya dengan bercanda. Kadang aku kesal dengan sikapnya yang begitu. Membuatku semakin penasaran tentang perasaannya. Tapi mana mungkin aku bertanya. Aku perempuan. Aku gengsi.

“Sorry sorry gue lama.” Wajah Vero tiba-tiba muncul dari balik jas hujannya yang basah.

“Kalau bisa lebih lama lagi sebenernya lebih bagus Ro, jarang-jarang kan gue bisa jalan sama cewek cantik. Hahaha…”

Mulai lagi. Dia mulai lagi membuatku bertanya-tanya. Apakah semua pria memang seperti itu. Seenaknya saja memberi harapan tanpa kepastian kepada perempuan.

“Ya udah gue balik dulu ya Sin, Vid. Makasih loh bingkisannya. Sampein juga ke Dina ya. Gue balik dulu. Selamat melanjutkan pacarannya ya. “ Vero menggoda kami.

“Ya udah sono hush hush cepetan pergi. Ganggu aja lo.” David menimpali.

Kami lagi-lagi hanya berdua saja. Rintik hujan mulai berhenti. Tinggal gerimis kecil saja. Karena sudah malam, aku memutuskan untuk segera pulang.

“Aku pulang ya Vid.” kataku.

“Oke Sin hati-hati di jalan ya. Berani kan pulang sendiri.”

“Hm mm…”

Aku pun berlalu. Ku lihat bayangannya sampai tak tampak lagi. Entahlah bagaimana kelanjutan cerita ini. Biarkan saja waktu yang menjawabnya.

David
Jangan membuatku jatuh cinta kala hujan
Karena setiap kali hujan turun

Aku akan selalu mengingat namamu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar