Musim ini tak lagi sama, Rain. Karena kau tak lagi menemaniku seperti hari kemarin, aku sendiri. Duduk di pantai ini, kembali mengingatkanku tentang hari itu, hari ketika rintik-rintikmu membasahi wajahku. Aku tak mencoba berlari, aku menggapaimu. Sejuk, selalu itu yang kurasakan setiap aku merasakan kehadiranmu.
Ombak di laut itu, tak lantas mengaburkan bayanganku tentangmu, tetap wajahmu terlukis di sana. Tersenyum, tapi kadang kau nampak murung. Aku tak mengerti yang kau rasakan, Rain. Aku hanya tau bahwa kau tak lagi mencoba datang, karena awan tak lagi mengabarkan hadirmu.
Aku berjalan menyusuri pantai ini, berlari kecil, lalu aku mengingat bagaimana kita berlari bersama ombak. Aku ingin kembali mengingat bagaimana kita bahagia. Aku ingin mengingat bagaimana kau berikan sejuk itu, aku ingin mengingat bagaimana kau hapus air mata di wajahku dengan tetesmu.
Musim ini tak lagi sama, Rain. Karena bungaku perlahan layu dan gugur satu-satu. Daunnya mengering, hampir mati. Aku menatapnya dengan mata berkaca, tapi tak bisa melakukan apa-apa. Hanya mencoba memunguti gugurannya, lalu menyimpannya.
Tidakkah kau kasihan padanya Rain? Tak inginkah kau kembali menghadirkan kesejukanmu? Atau kau lebih suka menyendiri dan menikmati sejukmu sendiri. Entahlah, aku tak mengerti, dan mulai lelah untuk mencoba mengerti.
Rindu itu adalah saat kau berada di sisiku, lalu aku tak ingin kau pergi lagi. Tapi bagaimana bisa aku kembali merindukanmu? Bagaimana bisa aku kembali merasakan getar-getar kesedihan dan kebahagiaan itu? Sedang kau tak pernah hadir di sini, di pantai ini, tempat dimana kita selalu berbagi cerita, tempat dimana kita selalu berbagi tawa.
Musim ini tak lagi sama, Rain. Setelah 4 musim yang sama, dengan bahagia.
Tentang hujan
Tentang sejuknya
Tentang bahagianya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar