“Ara takut gelap bu...” Ara
mendekap tubuh ibunya erat. Dia benar-benar takut dengan gelap, entah kenapa. Setiap
listrik padam, dia akan mendekatkan tubuh mungilnya ke pelukan ibunya, lalu
belaian tangan ibunya di rambutnya akan menenangkannya.
“Tidak papa sayang...ibu di sini,
mendekapmu” Ibu paruh baya itu mendekapnya dengan erat, mengelus rambut hitam
panjangnya, lalu menceritakan apa pun yang bisa menenangkan Ara.
“Ara...gelap itu tidak
menakutkan, gelap akan selalu ada dalam kehidupan kita, tak selamanya ibu bisa
mendekapmu seperti ini, maka kamu tidak boleh selamanya takut dengan gelap ya..”
ibunya melanjutkan.
“Tapi Ara takut bu...gelap
membuat Ara tidak bisa melihat apa pun, Ara takut ketika Ara tidak bisa melihat
wajah ibu, Ara tidak bisa bernafas...” mata Ara pun berkaca. Ibunya memeluknya
semakin erat, begitu khawatir anak perempuannya itu menangis.
“Iya sayang...iyaa...ibu akan
selalu di sini menemani Ara ketika gelap”
“Janji ya bu...”
“Iya...”
Beberapa tahun berlalu, Ara tetap
nyaman dengan pelukan ibunya setiap gelap, merasa aman, merasa bahwa dia akan
selalu baik-baik saja ketika gelap datang selama ada ibunya di sampingnya. Tanpa
ia sadar, ia telah menjadi gadis dewasa, bukan Ara kecil lagi.
“Aku dimana...kenapa gelap? Ibuu...ibuuu...”
“Mbak Tiara...anda baik-baik
saja?” seorang pasien mendatanginya karena teriakannya.
“Saya tidak papa sus...kenapa
rumah sakit ini gelap? Apa listrik padam?”
“Iya mbak..kata petugas, sedang
ada pemadaman bergilir. Tapi di luar ruangan sepertinya tidak terlalu gelap,
karena belum malam, mungkin mbak Tiara mau saya antar keluar?”
“Iya sus...boleh”
Lalu suster itu pun mendorong
kursi roda Tiara menuju taman Rumah Sakit, memang belum malam, tapi sama
gelapnya karena langit pun ternyata mendung.
“Ah...ternyata sama saja gelap
sus...” Tiara kecewa.
“Iya mbak...maaf saya fikir di
luar akan terang, saya tidak tau kalau mendung seperti ini”
“Ya...tidak papa sus” Tiara
tersenyum.
“Maukah suster mendengar cerita
saya?” lanjutnya.
“Dengan senang hati” jawab suster
itu ramah.
“Dulu, setiap datang gelap, saya
selalu menangis dan memanggil-manggil ibu saya sus. Lalu ibu akan segera datang
dan memeluk saya dengan erat, menceritakan apa pun yang akan membuat saya
tenang dan tidak takut lagi.”
“Ibu bilang, ibu janji tidak akan
pernah meninggalkan saya dan akan selalu ada untuk saya saat gelap datang,
tapi...” Tiara menghentikan ceritanya, ia menarik nafas panjang,
menghembuskannya, lalu melanjutkan bercerita.
“Tapi pada suatu hari, saya
berada di suatu tempat asing sus, tidak ada ibu, entah saya tidak tau ibu ada
dimana, yang saya tau, ketika gelap datang, tak seorang pun datang meskipun
saya telah menangis tersedu-sedu, tak seorang pun mendekap saya meskipun saya
menggigil ketakutan, saya takut sekali sus, dan semakin takut dengan gelap”
mata Tiara berkaca, suster memberikannya tisue, Tiara menghapus air matanya.
“Dulu ibu pernah bilang pada
saya, bahwa tak selamanya ia bisa menemani saya ketika gelap, dan ia melarang
saya untu selamanya takut gelap.” Suster itu tersenyum dan mengangguk pelan.
“Mbak Tiara..lihatlah mendung di
langit sana, ia begitu gelap, tapi sebentar lagi ia akan menurunkan hujan yang
dinantikan banyak orang, ia sama sekali tidak menakutkan kan mbak? Lalu dengan
adanya gelap, kita akan menantikan lagi datangnya terang, kita akan merasa
bahagia sekali ketika terang kembali datang, kita akan lebih menghargainya”
“Tapi...kenapa hanya pelukan ibu
yang bisa membuat mbak Tiara tenang, bagaimana dengan pelukan ayah?” suster itu
melanjutkan.
“Entahlah sus, saya tidak pernah
merasakan pelukannya”. Tiara tersenyum getir.
“Tapi sekarang saya mengerti,
mungkin saya memang menbutuhkan gelap, untuk lebih menghargai terang”.
Ia biarkan air matanya menetes,
ia arahkan kursi rodanya ke taman, membuka tangannya ke langit, lalu menikmati
setiap tetes hujan yang jatuh di telapaknya. Itulah yang orang nanti setelah
gelapnya mendung, hujan. Ia begitu mencintai hujan, tapi ia takut dengan
mendung, Tiara tersenyum kecil.
~kita tak bisa mencintai sebuah sisi dari sepasang sisi, tanpa
mencintai sisi lainnya~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar